Semakin Tinggi Usia, Semakin Bergelora

“Kami adalah sekelompok manusia penuh semangat yang tak pernah mengenal kata TUA” 「老い知らない元気もの」baca: Oi shiranai genki mono. Ini adalah cuplikan bait terakhir dari lagu mars sebuah komunitas di sebuah kota kecil di Jepang Tengah.

Belajar tak mengenal usia. Usia tinggi, bukanlah hambatan. Pembelajaran sepanjang usia. Kata-kata itu rasanya sudah ratusan kali bertebaran di kepala penulis. Tetapi, entah mengapa kata-kata itu terasa sangat melekat di kepala penulis pada suatu siang di penghujung akhir musim panas ini.

Apa yang dilakukan orang-orang Jepang tatkala memasuki masa usia lanjut? Kemarin penulis mendapatkan pengalaman langka sehubungan dengan kesempatan berbicara tentang Indonesia di depan banyak orang Jepang. Kenapa penulis katakan langka? Betapa tidak, penulis yang usianya, beberapa tahun kedepan masuk setengah abad ini, kemarin dalam sebuah ruangan berisi 50 orang, penulis adalah yang termuda.

Sempat terhenyak dibuatnya. Begitu masuk ruangan, terlihat para member dari komunitas ini yang sedang persiapkan acara sebuah seminar. Ada yang siapkan proyektor, terima tamu, latihan gitar untuk iringi lagu mars, mengatur meja kursi, semua dikerjakan sendiri oleh mereka. Semua orang bergerak tidak ada yang diam. Dan,….semuanya berambut silver, kerut menghiasi wajah mereka. Bahkan banyak yang tertatih-tatih dengan tongkatnya berjalan mondar-mandir. Penulis perkirakan usia mereka rata-rata sekitar 70-90tahun. Katanya di kelompok ini, yang paling tua berusia 91 tahun. 

spanduk

Slogan yang tertulis di spanduk (koleksi pribadi)

Slogan yang tertulis itu adalah: 「地名 chimei  から kara  歴史文化を rekishi bunka wo  楽しむ tanoshimu」artinya: “Menikmati dengan cara menelusuri budaya dan sejarah dari nama sebuah tempat”. Komunitas mereka adalah perkumpulan sekelompok orang yang tertarik pada nama sebuah tempat beserta nilai historisnya. Anggotanya seluruhnya ada 200 orang. Yang penulis datangi adalah cabang di kota Ogaki. Propinsi Gifu, arah barat dari Nagoya, sekitar 1,5 jam ditempuh mobil.

peta

Salinan sebuah peta kuno (koleksi pribadi)

Apa sih yang mereka kerjakan, sepertinya semuanya semua yang hadir sangat menikmatinya. Satu bulan sekali mereka itu bergantian presentasi, melaporkan apa-apa yang sudah mereka kunjungi dan mereka teliti tentang nama sebuah tempat. Jadi yang sangat suka memelototi peta, mencari tahu cerita legenda yang bersangkutan dengan tempat tertentu beserta nilai historisnya, misalnya mengapa ada perubahan nama pada suatu tempat, sepertinya pas sekali kalau mau bergabung dengan komunitas ini.

Sebagian dari mereka adalah orang yang tidak pernah tinggal diam, selalu melakukan perjalanan. Walaupun hanya ke kota tetangga. Dalam perjalannya, jika mereka mendapatkan suatu info akan dituliskan dengan format sederhana, tidak perlu dhakik-dhakik dan dipersentasikannya, pasti akan mendapat perhatian dari anggota yang lain. Dan sekali dalam setahun ada pertemuan tingkat nasional dari seluruh daerah di Jepang.

Rasa saling menghargai ini yang membuat mereka menikmatinya. Dan inilah cara mereka bergaul dan berinteraksi. Setelah pensiun, setelah anak-anaknya mandiri, sisa hidupnya mereka isi dengan cara seperti ini, agar masih bisa untuk berguna bagi orang lain. Dan itu sesuai dengan lagu mars yang selalu dinyanyikan setiap awal pertemuan. Menurut mereka, sesuatu yang digali, akan terus muncul sesuatu yang menarik hati. Jadi begitu asal usul nama sebuah nama tempat tertemukan, pasti akan muncul hal-hal yang menarik lainnya. Sebagian dari mereka adalah dulunya pegawai yang banyak mendapat tugas ke luar negeri, seorang pengajar dan pegawai negeri pemerintahan.

ngantuk

Suasana saat acara berlangsung (koleksi pribadi)

Sempat penulis perhatikan, mungkin karena usia, banyak juga yang tertidur dan tergagap-gagap kembali untuk berusaha menyimak yang sedang didiskusikan. Bawa minuman sudah pasti, karena konsumsi tidak bakal ada (silakan perhatikan gambar dalam foto). 

Selain penulis, ada 2 orang lainnya yang menjadi pembicara pada hari itu dan seorang member sesepuh pemberi wejangan. Pembicara pertama sekitar 85 tahun, kedua 80 tahun dan yang memberikan wejangan 88 tahun. Karena terkena stroke, bicara dan berjalannya tidak lancar, tetapi ulasan dan wejangannya luar biasa.

Apa sih yang mereka dapatkan dari hal seperti ini? Toh mereka harus keluarkan uang tuk iuran, makan siang bersama, mengadakan suatu perjalanan baik luar negeri atau pun dalam negeri. Mereka membutuhkan wadah tuk berinteraksi yang diakui oleh masyarakat sosial. Mereka mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk menebus sebuah wadah, tempat dirinya beraktualisasi. Komunitas ini, bukan bergiatan untuk memberikan suatu perlakuan secara langsung, misal seperti komunitas pemerhati mahasiswa asing. Tetapi mereka lebih pada aktivitas melatih kinerja otak pada masa akhir hidupnya.

Orang yang merasa tidak begitu pandai menata diri saat interaksi sosial secasa langsung, mengikuti komunitas semacam ini sangat dianjurkan. Mereka akan puas jika hasil dari sebuah  perjalanannya terwujud menjadi sebuah buku, walau hanya sebatas pada konsumsi kalayak mereka sendiri. Sedikit dan kecil itu bukan masalah, tetapi beraktualisasi diri dalam usia yang tinggi ini otomatis berwujud menjadi semangat yang besar pada masa akhir hidupnya.

Ini adalah gambaran kegiatan para warga senior penduduk di kota Ogaki, Jepang Tengah. Tidak semua melakukan hal-hal yang menurut khalayak ramai ini positip. Banyak juga yang bergiatan menghabiskan waktu masa tuanya dengan kegiatan yang lain. Simak dalam tulisan: Begitu Susahkah Mereka Menjalin Pertemanan? 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s