Kepompong

Kita itulah kepompong itu
Jika dalam keadaan “ga patut didekati” masih berupa kepompong itu
Masih ada orang yang bersedia “menyapa”, pada kepompong itu
Berarti saat itu yang terpancar adalah “inner” kita
Sehingga mampu menarik perhatian orang lain
Sekecil apapun sapaan itu pada kita.

Dan sebetulnya manusia akan merasa “nyaman”
Saat terengkuh dalam kepompong itu
Seperti memutar memori saat masih dalam rahim ibu
Tapi harus terus dituntut persiapkan diri tuk “dipandang indah”
Jika saatnya keluar dari kepompong itu
Berubah kupu-kupu cantik

Dan saat itu kualitas sebagai manusia akan diuji
Permasalahannya bukan pada
“Kemampuan yang dimilikinya”
Atau “Kegagalan yang dialaminya”.
Karena masing-masing manusia memiliki catatan hidup

Tapi lebih cenderung pada kemampuan untuk mengolah perasaannya
Untuk menanggapi semua “pandangan” itu terhadap dirinya.
Intinya…
Kembali pada pengelolaan diri masing-masing.

Akaike, hari setengah mendung 20140619/ 10:10
hasil diskusi dengan teman Dumay

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s