Image

“Mau..?”

Tulisan ini hasil silaturrahmi jalin pertemanan di suatu media sosial. Ada status dari seorang pengajar Bahasa dan Budaya Indonesia, orang Indonesia (P sensei). Ada komentar dari pembelajar Bahasa Indonesia, orang Jepang. Dia sekarang sedang mengikuti progam pertukaran pelajar di sebuah universitas daerah Yogya (R chan). Dan ada juga respon dari P sensei untuk R chan.

Isi pembicaraannya berkisar tentang memberikan sesuatu pada lawan bicara dalam sebuah interaksi sosial. Bagaimana sih interaksi tersebut jika dilihat dari sudut pandang budaya dan alam pikir orang Indonesia dan orang Jepang?

DSCN2483

penulis dan obaa-chan

Status P sensei (pengajar Bahasa Indonesia, orang Indonesia)

Jam hampir tunjukkan angka 7 malam.
Jelang musim panas ini, hari masih terang benderang.

Seorang Obaa-chan (nenek-nenek) berjalan perlahan, menyapaku dengan senyum manisnya.
“Hari ini panas ya, padahal tadi pagi dingin lho” Begitu sapanya, ketika aku keluar dari rumah seorang teman di pinggiran kota Kariya (sejam, arah timur dari Nagoya)
“Onee-chan, mau sayuran kah?” sedikit memaksa dia mengajakku ke ladang kebunnya.
Dengan senang hati aku mengikutinya.

Dari Obaa-chan ini, aku belajar:
Kebahagian itu ditandai jika seseorang itu bisa memberikan sesuatu untuk orang lain, tanpa berharap balikan.
Obaa-chan ini berusia 86 thn, sampai 26 tahun lalu bekerja sebagai pegawai kantoran.
Setiap hari dia isi dengan berkebun, dan mencari seseorang yang mau menerima hasil panen sayurannya.
Dengan memberi, dirinya merasa berarti untuk orang lain. Dan aku, pihak yang menerima, mendapatkan hal yang tak kasat mata.
Serasa ada energi yang tersalurkan melalui lettuce yang diberikan padaku. Lettuce yang murni tanpa taburan obat-obatan pembasmi serangga.
Karena itu, dia bisa merasa bangga tlah berikan yang terbaik untuk orang lain.

Komentar R-chan (pembelajar Bahasa Indonesia, orang Jepang)

Osusowake :):) …..(red:おすそ分け, osusowake, artinya: membagi pada orang lain)
Menurut saya, di Indonesia juga ada semangat (red: pemikiran) seperti ini.
Waktu saya makan kue yang kecil sekali dan tidak bisa dibagi buat orang lain, saya sering dikatakan (red: ditegur) “Kok, kamu makan sendiri?”

Saya pikir kue itu tidak bisa dibagi-bagi, makanya saya makan sendiri, tapi mungkin biar lebih sopan atau lancar bergaul sama orang-orang, sebaiknya saya tanya sama (red: menawari pada) orang lain “Mau makan gak?” Walaupun kue itu kecil.

Saya pikir yg penting adalah membagi-bagi hati atau perasaan, bahwa senang makan bukan membagi2 makanan (red: perasaan berbagi yang lebih dipentingkan, bukan besar kecilnya makanan). Kalau makanannya cukup besar buat dibagi2 lebih menyenangkan orang lain lagi hehehe

Respon dari P sensei pada komentar R chan

Makasih ya…R chan sudah berikan komentar yang panjang lebar. Bahasa Indonesianya berkembang pesat….ヽ(*´v`*)ノ.
“Osusowake”, saya pikir, ada di belahan dunia mana pun. Hanya cara dan fungsinya berbeda-beda. Misalnya kalau di Indonesia, walaupun tidak ingin dibagikan pada orang lain, tetapi sepertinya wajib ditawarkan pada orang-orang yang ada didekatnya.

Pada saat itu “osusowake” berfungsi sebagai alat komunikasi (sebagai salam pembuka percakapan). Jadi walaupun kue/ makanannya yang akan dimakan itu kecil, sebaiknya berbasa-basi/ menawari. Dan orang yang ditawari itu, tidak mesti harus menerima, menolak (dengan halus) pun tidak masalah. Dengan begitu, akan ada sebuah komunikasi yang indah. Kalau saya terus terang, karena sedang meneliti tentang budaya, jadi saya suka bertegur sapa dengan orang yang baru dikenal, juga untuk melancarkan Bahasa Jepang saya yang sampai sekarang masih belepotan.

Ada banyak pembelajaran yang bisa dipetik. Memberikan sesuatu pada orang lain ini bisa menjadi alat untuk saling bertegur sapa. Intinya ingin berbagi dengan yang lain, baik berbagi makanan yang sedang dipegangnya atau pun berbagi perhatian.

Memberi dan menerima adalah fitrah kebutuhan manusia untuk bisa merasa nyaman. Karena adanya penerimaan diri oleh orang yang ada disekelilingnya. Saling bertegur sapa, saling tukar informasi, dan saling membuat perasaan lawan bicara kita menjadi manusia yang lebih berarti,…itu penting.

Dan yang lebih penting lagi, kita bisa memanfaatkan sarana sosmed ini sebagai salah satu alat untuk menjadikan manusia lebih bisa belajar menjadi manusia yang beradab dan bermartabat.

Penulis lagi merasa miris melihat dinding-dinding sosmed bertebaran hujat-hujatan saling merendahkan untuk “mematikan” satu sama lain. Mengapa kita mau kehilangan rasa untuk miliki jiwa sebagai manusia sosial yang sebenarnya??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s