Cabang Sekuat Batang

Seorang gadis remaja yang siap menyongsong masa depannya kirim inbox. Isinya kegalauannya tuk memilih PT yang cocok untuk dirinya. Dan tulisan ini terinspirasi isi inbox percakapan dengan gadis itu.
===
Aku awali dengan sebuah sebuah filosofi yang tidak selalu tepat bagi setiap orang. Tapi aku suka sekali dengan filosofi ini. Aku selalu bikin suatu Cabang itu sekuat Batang dalam hal apa pun. Jadi jika ada 2 jalan tuk menuju satu tujuan, aku pasti mempersiapkan keduanya sama baiknya, dan sama kuatnya. 

Yaaa… kebiasaan jelek itu aku sadari, setelah merasakan kelelahan, karena keduanya harus berjalan bareng. Sewaktu menjalaninya sih asyik-asyik aja, kayak sedang menghadapi sesuatu permainan yang mengasyikan. Tapi, sebetulnya resikonya juga besar. Karena belum tentu keduanya memiliki hasil yang bagus jika kita sudah pada saatnya memilih. Malah kadang-kadang keduanya jadi ambruk secara bersamaan. 

Lebih baik pilih salah satu, anggap pilihan itu sebagai batang, dan batang itu dibikin sekuat mungkin. Sementara yang satu lagi juga dipersiapkan. Tujuannya jika dalam keadaan darurat dan harus memilih cabangnya, kita tinggal memolesnya, tidak perlu mengawali dari nol.
===
Dan pada gadis itu aku utarakan “Bikin cabang-nya tak perlu sekuat batang-nya, biar kita ga kelelahan di tengah perjalanan”. 
“Misalnya, dengan cara tidak perlu memilih PT yang sama-sama ‘besar’nya, biar ga alami kelelahan.” Begitu aku menyarankannya. 
Kalau dipikir, garis hidup ini memang misterius banget. 

Ada cerita begini, seseorang yang waktu duduk di bangku kuliah tidak menonjol sama sekali. Setelah beberapa waktu berlalu dengan segala permasalahan dan ketepatan cara ambil jalan penyelesaianya, menjadikan dirinya aman dan stabil dalam kehidupannya.

Sebaliknya, sewaktu kuliah yang selalu ada di atas, dengan IPK yang selalu top, kehidupannya kurang stabil. Bagaimana pun itu semua tergantung manusianya.

Jadi, harus ada sesuatu yang lebih dipentingkan saat mau mengambil keputusan menentukan PT itu. Misal, kalau pertimbangan pada tahun itu juga begitu lulus SMA harus kuliah, “besar-kecil”nya PT tidak begitu dipentingkan. Hal tersebut, biasanya karena alasan usia atau alasan dana pendidikan yang disiapkan orang tua harus bergiliran dengan adiknya, yang juga harus masuk PT di tahun berikutnya. 

Karena itulah, nama-nama ‘besar’ PT itu ada baiknya ‘ditaruh’ dulu, gak ada salahnya kita ‘melirik’ juga PT lain yang lebih miliki peluang tinggi. Intinya, kuliah di mana aja itu sama, tinggal kita memoles dan mengasah kepekaan kita tuk bekal hidup masuk ke masyarakat. Ini semua sudut pandang aku sebagai seorang pengajar PT yg tidak begitu ‘besar’. 

Hal ini pun terjadi pada waktu bimbingan tulis skripsi. Banyak mahasiswa yang menuntut tuk dibimbing supaya hasil penelitian skripsinya bisa berguna waktu kerja nanti. Tidak jarang mempersiapkan lebih dari satu proposal uang membuatnya galau. Karena dia pikir, keduanya sama-sama berguna saat kerja.

Cara pikir kayak gini, belum tentu betul. Jadi, sebaiknya ambil sebatas kemampuan. Olah informasi yang sempat tertangkap otak itu waktu di kelas, dan bayangkan bagaimana materi itu bisa berguna waktu kerja, dan tentu saja sebatas kemampuan juga.

Dengan begitu ga perlu menggantungkan sepenuhnya ke dosen, tapi belajar bertanggung jawab pada diri. Karena pada dasarnya dosen hanya membimbing sebatas pada 4 dinding kelas. Begitu keluar kelas, pada waktu itu juga seseorang harus belajar bertanggung jawab untuk mengolah apa pun yang ada di depannya. 

Dan bagaimana cara berlatih mengolahnya itu? Ya,.. selama duduk di bangku kuliah itu. Jadi memang perlu latihan yang tidak singkat, setidaknya perlu 8 semester. Pada intinya, kita tidak bisa berharap sepenuhnya mengharap transferan ilmu dari pengajar. Tetapi lebih pada latihan untuk bersikap dewasa, lincah dalam mengambil keputusan yang tepat dan yang terpenting, memaksimalkan latihan untuk bisa bekerja sama dengan baik, siapa pun lawan mitra kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s