Pragmatisme Manusia Jepang Dalam Kehidupan Religinya

Salah satu kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan di Indonesia menjelang UN adalah doa bersama yang diselenggarakan pihak sekolah. Tujuannya agar pelaksanaan ujian berjalan lancar. Mata Pelajaran Agama menjadi bagian penting dari kurikulum pendidikan di Indonesia, dari level pendidikan terendah sampai level PT. Kartu penduduk Warga Negara Indonesia, salah satu item isiannya adalah agama yang dianut. Kalau saya cerita semacam ini pada teman-teman orang Jepang, pasti mereka terheran-heran.

Bagaimana tidak terheran-heran, karena di negara Jepang ini, agama tidak diijinkan diangkat ke publik. Maksudnya, negara tidak mencampuri agama yang dianut warga negaranya. Terus, apakah di Jepang tidak ada sekolah yang berbasis agama? Apakah mereka tidak percaya dengan adanya Tuhan? Salah besar ternyata. 

Sekolah yang berbasis agama Kristen, Katolik, Budha itu ada. Tempat saya mengajar Bahasa Indonesia adalah PT milik yayasan agama Kriten. Dan ternyata mereka percaya adanya Tuhan. Hanya negara tidak mengurusi hal-hal yang menyangkut keyakinan tersebut. Sekarang giliran saya yang ingin tahu banget bagaimana cara pikir mereka mengenai Tuhan dan hal-hal yang tak berlogika juga tak kasat mata ini.

Orang Jepang percaya ada sesuatu yang besar di luar dirinya

Dalam alam semesta ini sesuatu yang besar dianggap bisa mengayomi dan melindungi dirinya sebagai insan manusia yang lemah. Hal ini pada dasarnya sama dengan insan manusia pada umumnya. Bedanya, sesuatu yang dianggap besar oleh orang Jepang itu merupakan sesuatu yang bisa terlihat dan teraba. Dalam foto berikut terlihat bagaimana mereka sangat mengagungkan pohon besar. 

 

 

Pohon tertua di Kuil Shinto Ise Jingu di prefecture Mie, Jepang tengah

 

Ada 天道様Tento-Sama yang mengendalikan sifat buruk

Kalau kita melakukan tindakan buruk, maka akan ada hukuman atau peringatan yang datangnya dari Tuhan. Bagaimana dengan orang Jepang? Beberapa teman mualaf Jepang mengatakan, sejak kecil mereka diajari dengan pendidikan moral yang diselipi dengan ajaran keberadaan Tento-sama

天道様Tento-Sama ini idem juga masih sama keturunan Dewa Matahari. Jadi mereka percaya, bila seseorang niat berbuat buruk, karena Tento-sama selalu melihat, maka perilaku buruk itu bisa dikendalikan oleh dirinya sendiri.

Terus apakah Tento-Sama itu Tuhan yang identik dengan Maha Pengampun dan maha Pengasih? Ternyata bukan, dia hanya diimajinasikan untuk membuat pencitraan supaya seseorang lebih bisa mengendalikan perilakunya. Gambaran sistematika tugas dari 天道様Tento-Sama sebagai berikut.

 

 

Sitematika rasa bersalah orang Jepang

Jika seseorang telah berbuat salah maka dia akan kepikiran akan rasa dosa dan rasa bersalah dikarenakan selalu mengingat ajaran bahwa 天道様 Tento-Sama selalu melihat perilaku buruk tersebut. Jika perilaku buruknya mengakibatkan kerugian pihak lain, maka dia akan dapatkan バチが当たる bachi ga ataru, yaitu karma akibat perilaku buruk.

Karma ini, kebanyakan dari orang Jepang tidak menghubungkan dengan adanya kehidupan setelah mati. Dalam hal ini ajaran Shinto berkolaborasi dengan ajaran Budha yang memilki kepercayaan reinkarnasi. 

Hukuman sosial yang dibawa ke ranah hukum, adalah hukuman 刑務所 keimusho, masuk Lembaga Pemasyarakatan.Tetapi sebetulnya hukuman yang terberat adalah hukuman sosial. Baik itu ada hubungan dengan ranah hukum atau pun tidak. Hukuman yang berupa pandangan miring dari sosial tempat dimana dia hidup itu yang terberat. Dan mempunyai andil pada tingginya angka bunuh diri.

Hal tersebut dikarenakan yang bersangkutan merasa tidak ada yang bersimpati membantu meringankan hatinya, seperti halnya mendapatkan pengampunan dari Yang Maha Pengampun. Satu-satunya jalan adalah menghilangkan muka dari permukaan bumi.


都合がいいこと
tsugou ga ii kotocara pikir pragmatis untuk memohon pada Tuhannya

Arti “Karma” dari sudut orang yang menyakini agama berTuhan Yang Esa, baik karma balasan perbuatan buruk atau pun perbuatan baik ini hanya bersumber pada satu Tuhan Yang Esa. Dan fase-fase kehidupan mulai lahir sampai mati, semua berfokus pada satu titik Tuhan Yang Esa. Bagaimana halnya dengan kebanyakan manusia Jepang? 

Seorang manusia Jepang, kebanyakan hidup dalam beberapa keyakinan sekaligus. Pada intinya, mereka tidak mau diribetkan oleh satu ajaran yang diyakini kebenarannya. Yang penting baik dan nyaman dalam kehidupan kesehariannya. Jadi adalah hal yang biasa jika manusia Jepang, lahir diberkati di kuil Shinto, meninggal diurusi oleh petinggi kuil Budha dan menikah diberkati di gereja

Mereka lahir dan semasa kanak-kanak diberkati di kuil Shinto dengan harapan agar tumbuh sehat dan cerdas. Foto yang berikut ini adalah Perayaan Shichi-Go-San, yaitu untuk pemberkatan usia 7 tahun dan 3 tahun untuk anak perempuan dan 5 tahun untuk anak perempuan. Mereka membutuhkan penyaluran rasa untuk mengharapkan kesehatan bagi anak-anaknya. 

 

 

Perayaan Shichi-Go-San di Kuil Tagata (kota Komaki), untuk memohon kesehatan anak-anak

Ketika mereka bertumbuh dan membutuhkan penyaluran untuk rasa kuwatir akan kegagalan dalam pendidikan, pergi ke kuil Shinto. Tidak setiap kuil Shinto  menyediakan tempat untuk meletakkan pesan yang berisi permohonan supaya bisa sukses. 

 

 

Mengharapan kelancaran dalam menghadapi ujian masuk SMA, di Kuil Fushimi Inari  (kota Kyoto)

 

Kuil Shinto Atsuta Jingu ini menjadi tempat favorit orang-orang Nagoya yang memutuskan menikah ala Shinto.

 

 

Prosesi pernikahan a la Shinto di Kuil Atsuta Jingu (kota Nagoya)

 

 

Di tengah kehidupan, jika ingin sehat kehidupan seksnya dan ingin segera memikili anak, pergi ke kuil Tagata yang dipenuhi dengan patung alat kelamin.

 

 

Untuk memohon kebahagian berumah tangga, pergi ke kuil Tagata (kota Komaki)

Demikian gambaran pragmatisme kehidupan religi manusia Jepang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s