Tepis Rasa Penasaran Tentang Islam Dengan Membandingkan Yang Ada di Keseharian Orang Jepang

Hari ini di sela kegiatan sebagai mahasiswa asing dan sekaligus pengajar orang asing (baca: orang Jepang), saya mempunyai pengalaman yang berharga banget. Betapa tidak, saya berkesempatan bertemu dan berbincang santai tapi serius dengan para muslimah dari berbagai negara di Nagoya.

Pada waktu itu mereka membahasakan saya dengan “Tuti sensei”, sebetulnya saya lebih suka dipanggil dengan “Tuti san”. Karena saya lebih memposisikan diri sebagai seorang peneliti yang kebetulan fokus pada cara pikir orang Jepang dan orang Indonesia, bukan sebagai orang yang menguasai ilmu agama. Oleh karenanya saya, lebih cenderung mengarahkan jalannya presentasi dengan suasana diskusi untuk saling tukar informasi sesama muslimah yang hadir pada hari ini.

 

 

Tampak depan Masjid Honjin Nogoya (dok.pribadi)

 

Acara ini namanya “Kelompok Belajar Bersama Muslimah Nagoya”. Tempatnya di Masjid Honjin Nagoya (3 stasiun dari Nagoya Sta, by subway). Bangunan masjid ini tidak begitu besar, dan berlantai 4, tetapi meskipun begitu selalu ramai. Acara ini diadakan tiap Sabtu jam 3 sampai jam 5, rehat sebentar untuk mengikuti sholat Ashar berjamaah. Ada beberapa bahasa pengantar (Inggris, Arab, Melayu, Urdu dlsb) yang biasa dipakai, diskusi kali ini hanya menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Jepang saja.

Ada banyak sekali yang ingin saya tulis, tetapi sementara ini saja yang masuk ke kuping dan nyantol di kepala. Antusias muslimah Nagoya cukup bagus, walaupun ada saja kendala, terutama karena belum adanya tersedia tempat belajar khusus (masih jadi satu dengan tempat sholat), tetapi mereka tetap mencoba berkonsentrasi berdiskusi bersama. Keluar masuk pintu yang selalu tertutup dan celotehan lucu anak-anak yang glibet di mamanya, menjadi warna tersendiri selama berdiskusi. Semoga dengan berbagai warna ini mereka lebih antusias lagi dalam mempelajari Islam.

 

Suasana diskusi (dok. pribadi)

Selain orang-orang Indonesia, orang-orang dari negara lain pun hadir. Beberapa mualaf hadir, bahkan calon mualaf pun ada. Ada seorang mualaf yang menarik perhatian saya sebelum diskusi ini dimulai. Dia muda sekali, masih mahasiswa tahun ke 3. Dia datang bersama temannya, yang belum masuk Islam. Dengan telatennya dia membetulkan kerudung temannya, ahaa..! betul! terlihat semakin cantik dengan kerudung hitamnya.

Kendala bahasa ini yang menjadi kendala terbesar saya rasakan. Ketika seorang calon mualaf nonnative Jepang bertanya, “Mengapa orang Islam tidak makan daging babi”. Kalau orang Jepang yang bertanya, saya merasa bisa meresponnya dengan baik.

 

 

Patung Kitsune (rubah), ada di setiap gerbang masuk Kuil Shinto

 

Jawaban tersebut akan saya arahkan pada supaya mereka menemukan jawabannya sendiri dengan cara menganalogikan dengan sesuatu hal yang dekat dengan keseharian mereka. Misalnya, adanya patung rubah pada hampir setiap kuil Shinto itu yang menjadikan salah satu rasa penasaran orang Jepang itu muncul. Banyak dari mereka berpikir bahwa bahwa babi itu sesuatu yang disucikan sama dengan Kitsune (rubah), oleh karenanya tidak boleh dimakan.

 

 

Tempat membersihkan jasmani dan rohani, sebelum masuk bangunan utama kuil Shinto

 

Juga pertanyaan mengenai “Mengapa pada ada saat akan melakukan sholat, harus wudhu”. Kalau ada pertanyaan yang seperti ini mudah sekali meresponnya. Karena mereka juga melakukannya untuk membersihkan jasmani dan rohani dan sebagai pertanda siap masuk Nirvana rumah Tuhan. Biasanya tempat ini ada di gerbang masuk bangunan utama kuil Shinto. Kolam penampungan air  ini tingginya kira-kira 1 meter dan tersedia banyak gayung dari kayu bergagang panjang.

Orang-orang yang mau masuk kuil Shinto ini, biasanya berkumur-kumur dan mencuci tangannya. Beberapa di antaranya juga minum, karena memang selalu bersih dan katanya air yang mengucur itu dialirkan dari sumber air alam. Memang kalau dilihat dari lokasi sebuah kuil Shinto itu, kebanyakan dikelilingi hutan kecil didirikan di perbukitan.

Kembali pada pertanyaan tentang babi. Karena yang bertanya ini nonnative Jepang, akhirnya saya menjawabnya dengan berikut ini. “Kalau kita ingin menjadi anak yang baik dan ingin mendapatkan pujian, yang harus dilakukan adalah menuruti apa yang yang sudah menjadi perintahnya. Demikian juga jika kita ingin di puji oleh Allah, ya dituruti saja apa yang sudah ada dalam Kitab Suci”. Para mualaf native Jepang pun juga menambahkan sesuai dengan pengalaman mereka masing-masing.

Ahh.. lega rasanya bisa saling belajar, walaupun ada rasa ganjelan sedikit dengan kemampuan bahasa Jepang yang belepotan banget. Terutama saat merespon pertanyaan dari calon muallaf nonnative Jepang. Karena saya merasa tidak lincah berpindah dari kotak Bahasa yang satu ke bahasa yang lain yang ada dalam otak ini.

Ada satu yang sangat berkesan, sebelum acara ini diakhiri. Yaitu mendengarkan doa masing masing peserta diskusi hari itu yang diucapkan dengan suara keras, dimaksudkan agar semua orang yang hadir turut mengamini.  Doa tersebut bebas diucapkan dengan masing-masing bahasa ibu mereka. Sebagian mereka berdoa agar perdamaian ada di setiap hati manusia dan seluruh dunia, aamiin…

Tulisan ini hanya ingin sekedar reportase berbagi informasi bagaimana suasana jalannya diskusi bersama dengan Komunitas Muslimah Nagoya kemarin sore.

Cerita terkait

Islam Dari Kacamata Awam Orang Jepang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s