Pasangan Hidup Mengisi Kekosongan, Ibu Memenuhi Kekosongan

Gambar

Rangkaian bunga carnation (dok pribadi)

 

Di Jepang, hari ini hari ibu. 母の日, haha no hi. Semua semerbak beraromakan nuansa bunga carnation. Seminggu sebelumnya mall-mall besar sudah semarak dengan ini. Kemarin sore waktu belanja aku sempatkan beli carnation itu, dan aku rangkai dalam keheningan untuk mengingat pelukan hangatnya ibu, eyang ti nya anakku yang jauh,…dan jauh di Surabaya.

Tidak seperti di Indonesia, hari ibu diperingati, tidak berubah pada tiap tahunnya. Tetapi di Jepang, dirayakan pada hari minggu ke 2 dalam bulan Mei. Orang-orang Jepang berbondong-bondong membeli sesuatu untuk ibunya. Jasa pengiriman menjadi sibuk luar biasa. Permintaan bunga langsung melonjak. Dan kemarin di acara salah satu channel TV, membahas apa sih yang diinginkan ibu dan apa sih yang akan dilakukan sang anak saat hari ibu?

Sebuah jawaban sangat menyentil perasaanku. “Saya hanya ingin bersamanya seharian, bersamanya menghabiskan waktu memasak di dapur bersama dan menikmatinya bersama-sama.” Jawaban seorang ibu. Sementara anaknya sudah mempersiapkan akan mengajak makan di restoran Italy terkenal lengkap dengan gaun malamnya.

Ternyata hanya itu saja yang diinginkan ibunya. Ditemani masak dan menikmati hasil masakannnya bersama-sama. Huwah..huwah,..tersentak aku dibuatnya.

Seorang teman tinggal jauh dari tanah air, dia bersuamikan orang Jepang mengatakan, “Ibu bagi saya sangat luar biasa, sehingga tidak bisa diungkapkan dalam satu hari ini saja, karena tiap hari adalah istimewa untuk mengingat sosok ibu.” Status ini dibuatnya setelah dirinya merasakan menjadi ibu bagi ke 3 anaknya, betapa besar dan dalam arti seorang ibu bagi dirinya.

Kembali ke rangkaian bungaku pagi ini yang aku beli kemarin sore. Rangkaian itu hanya sekedar pengingat bahwa aku masih punya tugas menemani ibu, setelah tugasku di Nagoya ini berakhir. Sekedar mengingatkan diri, bahwa beliau tidak pernah lepaskan anaknya sedikit pun, dimana pun si anak berada.

Dan saat itu sempat merenungkan dua kalimat ini.
Pasangan mengisi kekosongan.
Ibu memenuhi kekosongan. 

Mengisi dan memenuhi“, dua kata yang nyaris mirip maknanya. Memenuhi itu dituntut oleh diri untuk mengisi wadah sampai penuhSedangkan mengisi, hanya sebatas kesanggupan, gak sampai penuh pada batas wadah pun bisa dimaklumi.

Peran pasangan hanya sekedar sebagai pengisi. Dan sampai kapan pun juga tak kan bisa menyatu dan melebur dengan jiwa kita sebagai partner hidupnya. Karena dia adalah individu tersendiri yang kebetulan terpilih menjadi teman hidup oleh Tuhan.

Sedangkan peran ibu adalah memenuhi kekosongan kita. Hanya ibu saja yang sanggup memenuhi ruang kosong jiwa kita. Satu tepukan hangat di pantat waktu kita bayi, sangat bisa menenangkan tidur kita. Satu tepukan di punggung saat kita galau semasa remaja, sanggup bangkitkan semangat. Dan satu tepukan berupa suara yang bergema di telpon sanggup sadarkan bahwa kita hidup bukan di alam penyihir yang hanya dipermainkan oleh mantra abrakadabra. Karena kita hidup di alam pemikir.

Jadi penasaran banget dengan tepukan ibu. Sekarang, diusianya yang semakin renta, menepuk saja sudah tak berbunyi. Tapi, seiring dengan kerentaanya tepukan itu sanggup hentakkan melebihi gelombang tsunami.

Aaahhh,…gitu kok ya sering melupakan beliau, padahal beliau tak kan pernah melupakan anaknya pada setiap helaan napasnya. *lari angkat telpon, semoga hari ini pun aku dengar renyah suaranya sebagai petanda Allah masih memberinya sehat, aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s