Urusan Jodoh, Urusan Ortu Juga

Istilah お見合いo-miai, dalam Bahasa Jepang, jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, berarti “Biro Jodoh atau Jasa Jodoh”. Biro perjodohan ini, tidak hanya saling memperkenalkan orang-orang yang mau cari pasangan, tetapi juga memfasilitasi pertemuan-pertemuan yang dikemas dengan acara makan-makan, pergi tour menginap dan lain sebagainya.

Dalam kehidupan masyarakat Jepang, biro jodoh yang saya ketahui 20 tahun yang lalu, adalah hanya saling mempertemukan orang-orang yang belum menikah dan berniat mencari pasangan hidup. Tetapi dengan bergesernya waktu, dan bergesernya kebutuhan berdasarkan apa yang terjadi dalam sosial masyarakat Jepang, cara dan artinya mengalami bergeseran. Akhir-akhir ini お見合いo-miai, juga menyediakan produk-produk acara yang yang lain.misalnya produk yang bernama 「親おや」親同士の代理お見合い “{Oya, Oya} Oyadoushi no dairi o-miai”

Acara tersebut dihadiri oleh orang-orang tua yang berusia sekitar 60-70 tahun. Apakah mereka yang sedang mencari jodoh? Bukan! Acara semacam itu diistilahkan dengan, 代理お見合い, dairi o-miai, yaitu, perjodohan yang diwakilkan. Maksudnya, bukan yang bersangkutan yang mengikuti acara pertemuan itu. Melainkan para orang tua yang mencarikan jodoh untuk putra-putrinya.

Tadi siang salah satu acara TV, sedang membahas masalah tersebut. Dan ada suatu angket yang disebarkan pada 100 orang-orang muda dan 100 orang-orang tua. Hasil pengamatan itu berbanding terbalik. Pada responden orang-orang muda, 30% tidak setuju dan 70% menyatakan setuju. Sedangkan pada responden para orang tua, 30% tidak setuju dan 70% setuju.

Alasan yang paling mendasar dari responden orang tua adalah, karena mereka adalah “orang tuanya”, jadi yang mengerti anaknya adalah orang tuanya. Alasan yang lain adalah, karena ingin melihat anaknya bahagia dan ingin segera menimang cucu. Sedang yang tidak setuju adalah, karena menikah adalah urusan pribadi, hal yang salah jika orang tua turut campur tangan dalam perjodohan, apalagi melalui biro jodoh, kecuali jika diperkenalkan oleh kerabat keluarga besar.

Alasan anak-anak muda usia 20-30 tahun, yang setuju adalah, apa salahnya jika memang dirinya karena kesibukan kerja, sehingga tidak ada kesempatan untuk mencari pendamping. Juga karena alasan, jika orang tua setuju, terutama pihak ibu, maka dirinya terutama yang 長男chounan, laki-laki tertua, segalanya ditanggung akan berjalan lancar. Karena tradisi Jepang adalah anak laki-laki pertama adalah yang bertanggung jawab untuk meneruskan 家ie, penerus dinasti pada keluarga tersebut. Oleh karenanya keharmonisan antara anak laki-laki dan ibu mertuanya adalah hal yang paling utama.

Dan alasan akan mengapa para responden muda tidak setuju adalah, ketakutan jika nantinya tidak cocok akan susah untuk berpisah, karena harus menghormati pilihan orang tua. Alasan yang lain adalah, daripada malu karena dijodohkan orang tuanya, lebih baik memjomblo seumur hidup katanya. Malu ini karena, yang mempertemukan orang tuanya dengan calon suami adalah pihak yang tidak dikenalnya sama sekali. Akhir-akhir ini semakin banyak orang perempuan yang ogah menikah. Salah satu alasannya, silakan buka artikel yang berjudul, Perkara Nama, Perempuan Jepang Ogah Menikah

Kembali menyoal biro jodoh. Hal tersebut bisa dipahami, karena acara-acara yang berkaitan dengan kesempatan menemukan jodoh itu  tidak sebanyak yang kita miliki. Hal tersebut disebut dengan istilah 場を提供すること Ba wo teikyou suru koto. Kalau di Jepang, apalagi yang hidup di perkotaan, karena acara pernikahan itu jumlah undangannya kecil, sekitar 50-100 undangan (baca: 100 orang), kesempatan mencari pasangannya juga kecil. Kalau di Indonesia selain jumlah undangan yang menghadiri acara itu banyak, juga macam acaranya lebih beragam, misalnya, khitanan, arisan keluarga, hari Raya peringatan dari suatu agama dlsb. Artikel tentang pernikahan, silakan buka artikel yang berjudul Prosesi Nikah A La Shinto.

Biaya 代理お見合い, dairi o-miai, sekitar 7.000 -15.000 Yen (sekitar 700.000 -1,5 juta Rp) tergantung di mana diselenggarakan dan produk-produk acara yang ditawarkan. Biasanya, rangkaiannya acara ini, diawali dengan pendaftaran, dan mengisi profil yang disertai foto sebanyak jumlah yang dikehendaki. Isi dari profil itu standart aja, sepertinya lazimnya biro jodoh. Beberapa ortu pengikut acara ini mengakui, jika posisi pekerjaan dari calon menantu laki-laki ini masih menjadi perhatian yang utama dari beberapa orang tua. Sedangkan dari ortu dari laki-laki, lebih memilih calon menantu perempuan yang mau “di rumah”.

Setelah menunggu khabar dari penyelenggara. Pada hari H-nya, pertemuan diatur secara bergiliran dengan waktu yang ditentukan, dan saling tukar menukar profil dan kemudian profil itu dibawa pulang. Jika ada yang sreg dan telah dibicarakan oleh anaknya, maka tinggal laporan pada penyelenggara biro jodoh tersebut, untuk dibikinkan acara pertemuan selanjutnya. Yang tidak menghasilkan kesepakatan dengan putra dan putrinya, ya stop begitu saja, padahal biayanya itu ada yang termasuk dengan pertemuan intens yang selanjutnya tersebut.

Setelah acara itu, lengkaplah sudah semua yang menjadi tangung jawab biro jodoh tersebut. Jika ada yang ingin lanjut ke pernikahan, pihak  penyelenggara お見合い, o-miai juga ada yang menyediakan sekaligus dengan wedding organizer, semakin pendek waktunya dengan pernikahan semakin mendapatkan diskon yang gede. Bersyukur di negara kita, masalah pencarian jodoh ini, masih belum menjadi permasalahan sosial yang pelik, karena memilki kosa kata ajaib “silatur rahim”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s