Instruktur Origami itu Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Salah satu kegiatan rutin di penghujung minggu adalah berbelanja untuk memenuhi lemari es dalam seminggu ke depan. Maklum gak ada mas-mas atau mbak-mbak yang jualan keliling. Jadi seminggu sekali si kulkas itu harus ngempet untuk berikan tempat sebagai gudang bahan produksi energi kita bertiga.

Tangan dengan tangan menjalin persahabatan (dok pribadi)

Tangan dengan tangan menjalin persahabatan (dok pribadi)

Suatu minggu di penghujung tahun 2013, seperti biasa belanja mingguan. Kali ini berdua dengan suami, belanja ke arah Miyoshi, kota tetangga, sekitar 20 menit dari rumah mengendari mobil. Begitu masuk Jusco Mall grup dari AEON yang merajai Jepang Tengah ini sudah disambut dengan meja besar membentuk ruang terbuka yang meriah. Dengan gambar Santa Klaus yang memakai sweater merah sangat menarik perhatianku. Aku ikuti keinginan hati, untuk melihat apa yang sedang dilakukan sekelompok orang-orang Jepang ini.

Awalnya perhatianku fokus pada tulisan origami yang di sebelahnya ada hasil origami yang disusun membentuk Santa Klaus raksasa. Ternyata gambar itu tidak ada hubungannya dengan keyakinan agama tertentu, hanya kebetulan komunitas itu bernama “Santa”.

Gambar

Tidak ada hubungannya dengan keyakinan tertentu, hanya kebetulan komunitasnya bernama “Santa”
(dok, pribadi)

Ada 3-4 orang di duduk di depan beberapa meja besar, masing-masing orang dikelilingi beberapa anak serta orang tuanya. Ternyata orang-orang itu sedang berposisi sebagai pengajar. Setelah diperhatikan, ketiganya adalah orang-orang yang memiliki kebutuhan khusus. Mereka sedang menjalankan peran sebagai instruktur origami dalam kegiatan pencarian dana.

Mereka mengajari origami pada pengunjung, khususnya  anak-anak. Telaten sekali, dan pengunjung anak-anak seusia TK dan SD kelas 1-3 itu terlihat sangat menikmati. Yang tidak kalah penting, senyum diwajahnya tidak pernah surut selama mengajari origami.

Begitu aku mendekat, seseorang memberikan kursi. Dengan senang hati, aku mulai minta diajari, dan jadinya bener-bener lupa tujuan utama untuk belanja. Kemudian karena pengen banget ngerti, aku mulai bertanya-tanya. Karena merasa kesulitan meladeni pertanyaanku apalagi Bahasa Jepangku mungkin susah ditangkap oleh anak-anak penyandang kebutuhan khusus itu, salah satu pengurus mengambil alih.

Sambil terus lanjut mengajari origami ini ibu-ibu pengurus itu menceritakan bagaimana mengajari beberapa orang berkebutuhan khusus ini supaya bisa mengajari origami untuk orang lain. Mereka yang kenyataannya kurang dari anak yang normal, tidak menunjukan kelemahannya. Tetapi kelemahan itu ditutupi dengan kemampuannya untuk mencari dana untuk melancarkan segala sesuatu yang berkaitan dengan tempat mereka beraktifitas sehari-hari. Sangat terharu mendengar ibu-ibu pengurus itu bertutur, bagaiman cara membimbing anak-anak berkebutuhan khusus itu.

Bagaimana mereka mencari dana? Sempat aku lirik kotak amal yang diletakkan di atas meja. Pengunjung Mall yang tertarik, dipersilakan duduk. Dan dipersilakan memilih bentuk origami dan motif kertasnya, kemudian  diajari cara melipat. Begitu selesai diajari, si pengunjung anak-anak memasukkan uang disertai membungkuk sambil mengucapkan “Terima kasih sudah mengajari origami, sangat menyenangkan”.

Gambar

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), menjadi instruktur origami (dok.pribadi)

Berapa yang dimasukkan? Macam-macam, karena 1 Yen (anggap aja 1 Yen= 100 Rup) masih “bernilai”, ada anak yang dengan riangnya memasukkan 1 Yen satu per satu sampai habis yang ada digenggaman tangan mungilnya. Sebetulnya, bukanlah hal yang luar biasa, di mana pun sudah banyak yang mencari dana dengan cara seperti ini. Yakni, dengan menunjukkan kebisaannya, berharap donatur lebih mengulurkan tangannya. Dengan begitu dana yang diterima akan semakin lebih bisa meyakinkan pemberi dana, bahwa dana yang diterima bisa dipakai untuk memperbaiki apa yang sudah ada.

Tapi masih juga ada yang menunjukan kelemahannya untuk mendapatkan simpatisan pemberi dana, sayang sekali. Padahal orang-orang yang secara kacamata normal adalah kurang, jika dibimbing, bisa juga menjadi instruktur untuk berbagi ilmu dengan yang lain. Dengan begitu, kekurangan diri bukanlah hambatan untuk menunjukkan kemampuan  diri. Dan yang terpenting, bisa membuat dirinya semakin Percaya Diri dan membuat orang lain merasa bahagia.

Cerita terkait:

Kepikunan? Lawan dengan Origami
Ada Apa di Balik Lipatan Origami?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s