Samurai di Balik Sakura

DSC_0840.jambonParade Pasukan Ieyasu berlatar belakang Sakura yang mekar sempurna (dok.pribadi)

Puncak musim sakura, dua minggu sudah berlalu. Seolah-olah ada sesuatu yang tertinggal. Perasaan sedih tumpang tindih dengan perasaan yang diselubungi oleh sebuah harapan yang besar.

Betapa tidak, bayangkan, diperlukan lebih kurang 50 minggu untuk menikmati sakura dalam keadaan mekar sempurna. Sementara hanya waktu perlu 2 minggu saja, si sakura mempertontonkan kemolekan kelopaknya. Setelah mekar sempurna, dia harus mempertahankan bunganya dari tiupan angin nakal, hujan dan godaan alam lainnya agar bisa bertahan sekitar 2-3 minggu.

Tetapi sepertinya memang harus begitu, mengikuti aturan alam. Jika kelopaknya tidak luruh, maka tidak akan ada kesempatan bagi sesuatu yang akan bertumbuh. Karena daun-daun tak akan bertunas jika bunganya tidak gugur. Yah itulah pergerakan alam yang disediakan Yang Kuasa supaya kita petik maknanya untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Tepat pada puncak Sakura berbunga, sekitar awal April, kota Okazaki mengadakan perhelatan tahunan, bertajuk 家康行列 Ieyasu Gyouretsu, Parade Pasukan Ieyasu. Kota Okazaki terletak di propinsi Aichi, sebelah tenggara dari kota Nagoya. Kira-kira berjarak 45 km dari pusat kota Nagoya. Di Okazaki ada sebuah kastil yang sebetulnya kastil yang tidak seberapa besar, tetapi sangat terkenal, karena Tokugawa Ieyasu, sampai usia 18 tahun lahir di Okazaki. Apalagi lokasinya bersebelahan dengan pabrik miso, yang merupakan bumbu inti selain shoyu dalam masakan tradisional Jepang.

Tokugawa Ieyasu, adalah salah satu pahlawan seorang Panglima perang, juga dianggap sebagai samurai yang berjiwa besar dan berjasa pemersatu Jepang pada jaman Edo (1603-1868). Untuk memperingatinya jasanya, setiap awal april bertepatan dengan hari meninggalnya dan disesuaikan dengan puncak musim Sakura, pada tiap tahunnya diadakan Parade Pasukan Ieyasu.

Tahun ini diselenggarakan tanggal 6 April dan sudah berlangsung 55 tahun. Parade Pasukan Ieyasu ini mirip karnaval, mengelilingi kota, dan arak-arakan berakhir di pinggir sungai besar, bersebelahan persis dengan taman besar area kastil Okazaki.

Di mulai pukul 13:00 dari kuil Shinto 伊賀八幡宮Iga Hachimangu, menuju sungai 乙川Otsukawa, pukul 15:00. Di pinggir sungai itu didirikan podium dan panggung untuk pertunjukan drama pertempuran pasukan Ieyasu. Sekeliling kastil ada sungai besar, katanya, dulu untuk transpotasi pengangkut bahan-bahan pembangunan kastil dengan perahu.

Awalnya, arak-arakan itu hanya yang berhungan dengan Tokugawa Ieyasu. Tetapi, berubah dengan bertambahnya pengikut dan pertunjukan lain sebagai tanda partisipasi warga yang telah memperoleh spirit dari seorang samurai, panglima besar Tokugawa Ieyasu. Oleh karenanya selain parade juga ada pertunjukkan masal dari berbagai sekolah dan berbagai komunitas.

Sepertinya semua warga asli atau pun pendatang termasuk orang asing di Okazaki ini turut berpartisipasi. Bisa disebut seperti memperingati pahlawan besar sekaligus sebagai pesta rakyat. Karena stan-stan makanan juga banyak ragam dan jenis makanannya. Diadakan sampai pukul 7:30 malam. Sehingga pengunjung juga bisa mempunyai kesempatan menikmati sakura sepanjang sungai dengan light up yang berkesan romantis sekali.

Parade itu diawali dengan arak-arakan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya kampanye dari kepolisian yang mengajak untuk merealisasikan “kecelakaan zero”, terus kemudian para utusan dari kota dan negara sahabat. Kemudian juga ada dinas kebakaran dll. Yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak adalah arak-arakan maskot dari berbagai kota tetangga. Melihat cara jalan lucu yang megal megol gitu, tidak salah semua menantikannya.

Puncak parade adalah arak-arakan para pengawal Tokugawa Ieyasu yang berkuda, diawali dengan pasukan para samurai cilik. Dan kemudian diikuti oleh arak-arakan semua wanita yang berhubungan dengan Tokugawa Ieyasu. Ada ibu suri, istri, anak-anak dan cucu-cucunya. Mereka berbusana kimono tradisonal lengkap. Juga orang-orang bawahan yang berjasa pada keseharian hidup juga ada, misalnya arak-arakan claning service, yang membawa sapu panjang tanda siap mendukung apa pun agar semuanya bisa bertempur dengan baik.

Setiap tahun pemerintah daerah Okazaki memberi kesempatan pada semua warganya untuk berpartisipasi. Pada saat itu saya menonton bersama seorang pengajar Native Bahasa Jepang, yang baru saja selesai tugasnya mengajar di Bandung, selama dua tahun, Beliau mempunyai pengalaman, anak laki-lakinya juga pernah mengikuti parade, semuanya tanpa uang, termasuk juga rental baju prajuritnya. Yang boleh mengikutinya anak-anak yang saat tahun itu berusia 11 tahun baik anak laki-laki atau pun perempuan.

Semua mengakui dengan ikut berpartisipasi ini seolah spirit jiwa samurai selalu tergali kembali untuk diaplikasikan dalam hidup sehari-hari. Apalagi diadakannya bertepatan dengan musim Sakura, yang identik dengan sebuah pengharapan. Karena begitu Sakura berbunga pada puncaknya, kelopak akan luruh satu persatu dan kemudian muncul tunas daun-daun untuk kembali menanti mekarnya bunga kembali pada tahun mendatang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s