Titik Beda Ketakutan antara Orang Jepang dan Orang Indonesia (rev)

1392162162331719505

Ketakutan akan Kesendirian
Orang Jepang rela mengeluarkan 5.000~8.000 Yen (sekitar Rp. 600.000 ~ Rp.900.000) per setengah hari untuk menyewa orang. Mereka bisa meminta tolong pada jasa serbabisa untuk menemani melawan kesendirian. Mereka butuh orang untuk membunuh Kesendirian itu dalam konteks kekeluargaan kehidupan sehari-hari.

Dan orang yang disewa, akan berperan sebagai anak, cucu, teman ngobrol. Ooo, begitulah mahalnya arti sebuah kebersamaan. Di Indonesia, kita dengan mudahnya mendapatkan teman. Dan menghadapi Kesendirian pada masa tua lebih mudah, karena ada kata mujarab si `silaturrahmi`.

Ketakutan akan rasa Percaya DIRI yang terlalu KUAT.
Dalam lingkaran sosial budaya Jepang, orang yang kalau menonjolkan diri, dianggap sesuatu yang tak pantas. Karena itu banyak orang yang tenggelam pada ketidak percayaan diri. Maksudnya, ada penilaian yang rendah dari sekelilingnya, jika menunjukan kemampuan diri yang sedikit menonjol di antara komunitas dimana dia beraktivitas sehari-hari. Mereka menganggap bahwa satu individu dengan yang lain adalah sama.

Kenapa mereka bisa menganggap demikian? Ya, karena mereka dibesarkan dalam lingkungan sekolah yang berfasilitas sama hampir diseluruh penjuru negara. Sehingga mereka tidak berani berharap pada lawan untuk memaklumi atau memahami suatu perbedaan walau perbedaan yang kecil sekalipun,

Beda dengan Indonesia, karena kaya bahkan terkesan terlalu banyak, memaklumi perbedaan situasi dan kondisi lawan interaksinya lebih mudah, Tapi sebaliknya, kalau sudah berseteru jadi seru banget, karena gap yang terlalu besar.

Ketakutan akan Sisi Gelap DIRI yang bakal terungkap.
Ada teori ilmu budaya Jepang dalam buku Pedang Samurai dan bunga Seruni yang ditulis oleh Ruth Benedict. Buku kuno sih, tapi rasanya masih berlaku juga untuk mengupas manusia Jepang. Ada istilah 恥の文化 haji no bunka, budaya malu dan 罪の文化 tsumi no bunka, budaya dosa. Jika pembaca ingin mengetahui budaya malu orang Jepang itu seperti bagaimana, silahkan membaca beberapa artikel berikut ini (“Kaitan Malu dan Facebook”, “ Sisi lain dari rasa Malu orang Jepang”, “ Bagi orang Jepang, Bugil tidak mesti malu”, “ Nilai seutas Nyawa Manusia Jepang”)

Kembali menyoal sisi gelap dan rasa malu. Sisi gelap diri yang ada dalam pikiran orang Jepang, pada umumnya budaya malu yang mengharuskan melenyapkan muka dari khalayak umum, jika ketahuan sisi gelap perbuatannya dinilai banyak merugikan orang lain.

Pada umumnya, orang Jepang tidak mengakui keberadaan Tuhan, maka rasa malu mereka lebih besar daripada rasa dosa.Untuk menutup rasa malu itu, mereka lebih memilih mengambil tindakan mundur dari suatu jabatan atau bunuh diri. Kembali pada sudut pandang kita yang beragama, karena bunuh diri perbuatan terlarang, kalau kita melakukannya jadi nambahi dosa. Dan orang Jepang ada juga yang berpendapat jika mundur dari jabatan, seolah-olah tidak gentle, karena terkesan tidak bertanggung jawab menuntaskan permasalahannya selama dia menjabat.

Sebaliknya, pada pola pikir orang yang mengakui adanya Tuhan, kesalahan yang diperbuat bisa hilang, dan rasa dosa terkurangi jika memohon ampun pada Tuhan. Akan tetapi ada kalanya juga terkesan mengkambing-hitamkan atas nama Tuhan untuk menyelesaikan permasalahannya.

Sekarang terserah pada DIRI kita dalam bersikap untuk menghadapi ketakutan akan kesenDIRIan.
Perlukah mengendalikan rasa Percaya DIRI yang terlalu kuat.
Ataukah perlu bertahan mati-matian agar sisi gelap DIRI tidak terungkap
Semuanya berpulang pada DIRI SENDIRI…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s