Keluh-kesah Mereka Yang Datang Ke Jepang

Stasiun Televisi Jepang NHK menayangkan ulang acara diskusi tentang orang-orang asing yang mengadu nasib di negara matahari terbit. Siapa yang sedang didiskusikan tak henti-hentinya dari berbagai kalangan negeri ini? Mereka adalah paraPerawat Medis dan Perawat Lansia, dari Indonesia, Filipina, Vietnam.

Pembahasan acara tersebut, sebagian besar tentang, bagaimana mereka mengalami kesulitan dalam pemakaian bahasanya dan pemahaman budayanya. Tetapi apakah permasalahannya hanya seputar itu? Acara tersebut pun sudah setahun berlalu, tapi rasanya masih juga merupakan pembicaraan hangat sampai hari ini.Ppenulis pikir, masih terus menghangat sampai kapan pun, karena memang masalah kekurangan tenaga kerja medis beserta atribut-atribut permasalahannya sudah menjadi bagian yang fenomenal dari negara ini.

Para perawat dari berbagai negara itu, masing-masing memiliki kecenderungan yang beda jika ditanya apa tujuan mereka datang ke Jepang. Kebanyakan pekerja medis dari Indonesia menjawab ingin menyerap teknologi keperawatan dan ingin mempelajari segala sesuatu yang bisa untuk mempertingkat karier, jika nantinya pulang ke Indonesia. Kalau pekerja medis dari Filipin, kebanyakan mereka datang karena pertimbangan upah yang diterima.

Setahu penulis, sejak dulu ada pekerja medis asing yang bekerja di negara Jepang ini. Sejak tahun 2008, berbondong-bondong datang, meningkat dari jumlah sebelumnya. Apalagi Indonesia menjadi bagian dari perjanjian EPA (Ecomomic Partnership Agreement) yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan tenaga medis di Jepang. Pada tahun 2012, ada sekitar 1500 tenaga medis asing yang datang, tetapi hanya sekitar 100 orang saja yang bisa diterima sebagai pekerja medis yang sesungguhnya. Dalam arti, sudah mengikuti ujian negara, dan mendapatkan sertifikat sebagai Perawat Rumah Sakit dan Perawat Lansia.

Ujian negara ini menjadi penghalang yang besar bagi calon pekerja medis asing. Padahal menurut penulis, jika mereka lulus, saat mereka menjadi perawat yang sebenarnya, saat itulah yang awal tantangan menghadapi berbagai hambatan yang sebenar-benarnya sebagai pekerja asing. Jadi lulus ujian negara ini masih berupa warming up untuk menghadapi hambatan lainnya. Begitu ada sertifikat di tangan, bukan berarti tanda mereka bisa langsung menjadi perawat sesuai dengan imej seorang perawat ideal dari kacamata orang Jepang pada umumnya. Inilah dilemma pertama yang muncul.

Dilema itu bermula dari kenyataan bahwa sebagian pekerja medis yang pada saat masih bekerja di Indonesia skill keperawatannya biasa-biasa saja, tetapi karena mau belajar soal-soal untuk ujiannya, bisa lulus mendapatkan sertifikat. Tetapi, sebaliknya, tak jarang skill keperawatannya tinggi, tapi karena merasa otaknya tak bisa kompromi menerima latihan soal-soal ujian, harus pulang sampai batas waktu 3 tahun, sesuai perjanjian.

Kemudian, apa yang bisa mereka bawa pulang setelah 3 tahun mencoba keberuntungan dan akhirnya gagal? Apa saja yang mereka kerjakan selama masa magang tersebut? Informasi seperti ini yang sering kali ditangkap keliru oleh calon pekerja medis atau salah dalam penyampaiannya oleh pihak Jepang waktu pembekalan sebelum berangkat.

Setelah mereka menjalaninya, sebagian dari mereka merasa kecewa. Kenapa? Karena jelas-jelas, Jepang tidak akan membiarkan pasiennya terlepas siapa pun itu dipegang oleh orang yang belum mendapatkan sertifikat kelulusan. Walaupun bisa dikatakan orang itu memilki skill keperawatan yang tinggi sekali pun. Jadi, selama masa magang, kerja calon perawat asing ini hanya memandikan, mengantar resep, menyuapi, dan mengganti popok.

Kalau dilihat dari jenis pekerjaannya sih tidaklah susah. Inilah dilemma yang selanjutnya. Jepang selalu memperhitungkan dengan detail apa pun permasalahan. Jika pekerjaannya ringan, tentu saja upah yang diterima juga mengikuti. Dan rupanya info yang mengalir pada calon pekerja medis ini adalah gaji jika mereka lulus. Gaji sebelum mereka lulus ujian, entah mengapa beberapa orang mengalami kekecewaan yang teramat besar.

Hambatan pada awal hidup di Jepang sebagai pekerja magang, secara garis besarnya dibagi dua. Hambatan yang disebabkan karena kondisi negara dan tantangan menghadapi interaksi dan komunikasi dengan penduduk asli. Misalnya, karena piramida penduduknya terbalik, maka wajar saja jika pasiennya kebanyakan para lansia. Jadi walaupun ditempatkan bekerja di Rumah Sakit biasa, pasien yang dihadapi tak beda dengan pekerja medis yang ditempatkan di panti wreda. Sebagian besar pasiennya berusia lanjut.

Hambatan yang lain, adalah bagaimana menjalin komunikasi dengan penduduk asli. Contoh yang paling mudah, misalnya, mereka tidak mengatakan “Terima Kasih” saat menerima sesuatu atau menerima bantuan. Mereka akan mengucapkan lebih dari itu, yakni, akan mengucapkan “maaf”. Jadi akan sulit bagi orang asing untuk membedakan ungkapan “maaf” untuk menyatakan kesalahan atau yang hanya untuk sekedar pernyataan “terima kasih”.

Kedua ucapan itu sebenarnya, kalau mau diperhatikan ada suatu pembeda yang jelas sekali, yakni pada raut muka dan intonasi saat mengucapkannya. Karenanya, jika pada saat orang asing harus mengucapkan “maaf” karena berbuat salah, tetapi karena tidak paham, ada kemungkinan tertangkap oleh lawan, hanya sekedar “terima kasih” dengan nuansa yang ringan. Padahal harusnya si pembicara menciptakan sesuatu nuansa pembicaraan dengan nada “penyesalan”.

Sebetulnya bagi negara Jepang Jepang pun menerima pekerja asing juga bukan tanpa kemudahan-kemudahan. Karena negara ini memang masih harus memenuhi kebutuhan kuota pekerja medis asing. Tak ubahnya dengan mereka yang datang, penuh perjuangan, penuh pergorbanan lahir batin.

Menurut pengamatan penulis, mereka yang datang ke Jepang adalah orang-orang pilihan yang kuat bertahan di hutan belantara-nya negara ini, walaupun penuh dengan keluh kesah yang berbeda pada setiap individunya. Masih banyak dilematis-dilematis lainnya yang berkecamuk dalam benak para pekerja medis ini. Walaupun sebenarnya dibandingkan dengan pekerja asing dari bidang yang lain, pekerja medis ini masih bisa dikatakan lebih baik. karena, mereka mendapatkan kesempatan belajar Bahasa Jepang sampai mereka lulus Ujian Negara, inilah yang menjadi pembedanya,

Memang patut disayangkan orang yang memiliki skill keperawatan tinggi hanya mengganti popok dan memandikan para lansia. Saat mereka akan pulang, dikarenakan gagal mengikuti Ujian Negara berkali-kali, ada suatu kegalauan tingkat tinggi. Akankah kemampuan skillnya yang selama menjadi pekerja magang tumpul, menjadi berkilau lagi setelah balik ke Indonesia, karena lama tidak terasah sama sekali? Karena pada dasarnya kekecewaan yang terbesarnya adalah, awalnya mereka memiliki niatan besar ingin transfer teknologi dari Jepang ke Indonesia.

Tetapi, ada satu keuntungan yang bisa didapat jika mereka terpaksa harus pulang, Yaitu, Bahasa Jepang mereka melaju pesat. Karena itu, banyak dari mereka yang pulang tidak kembali pada bidang pekerjaan medis, tetapi beralih profesi sebagai penerjemah di perusahaan besar Jepang di Indonesia. Sayang sekali, tapi itulah hidup, manusia akan mencari yang terbaik dan yang paling sesuai dengan dirinya untuk kelangsungkan hidupnya. Dengan begitu, susah untuk bisa dikata, pihak Indonesia atau kah pihak Jepang yang merugi dengan adanya kecenderungan masalah yang seperti yang ini.

Link artikel: http://www.nhk.or.jp/kaisetsu-blog/700/139513.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s