Nuansa Bahasanya Menunjukkan Cara Pikirnya

Orang pinter jaman dulu ngomong, “Bahasa menunjukkan bangsa”, dan ternyata memang benar ya. Aku tersadar banget ketika awal-awal mengendarai mobil pribadi, setelah suami mendapatkan SIM Jepang. Kalau mengingat betapa susahnya mendapatkan SIM ini, jadi paham setelah terjun di jalanan.

Dapatknya SIM ini cukup menguras keringat dan air mata, luar biasa butuhkan kesabaran tingkat tinggi. Beberapa teman kompasianer juga pernah membahasnya. Kalau mengingat kondisi dan etika berlalu-lintas di tanah air, hati ini hanya bisa berharap, dikemudian hari Indonesia-ku memiliki etika lalu-lintas seperti ini.

Apa kaitan nuansa Bahasa Jepang dan etika berlalu-lintas? Sebetulnya ada beberapa point, pada kesempatan kali ini aku berikan contoh pada pemakaian lampu dim. Ada perbedaan yang menyolok antara Indonesia dan Jepang. Jika orang menyalakan lampu dim, yang lazim di Indonesia adalah, tanda orang tersebut menginginkan lawan untuk memberikan prioritas jalan.

Bagaimana halnya etika lalu-lintas di Jepang? Ya! Berbalik. Orang yang menyalakan lampu dim, tanda memberikan jalan bagi lawannya. Mereka tidak meminta, tapi memberi. Mungkin konsep cara pikir ini juga tercermin dalam nuansa berbahasanya.

Dalam Bahasa Jepang, aku jumpai beberapa ungkapan yang tidak memaksa lawan, tetapi cenderung menarik respon lawan bicara untuk ikhlas melakukan sesuatu. Aku akan berikan beberapa ilustrasi.

Hari ini aktivitasku kumulai pagi berbarengan jam sekolah. Sebagian besar mereka sekolah di daerah rayon tempat tinggal. Tetapi ada juga yang keluar rayon untuk bebagai alasan, terutama yang sudah jenjang SMA. Apartemenku dari stasiun Akaike ini hanya semenit jalan kaki. Stasiun ini persimpangan 2 jalur kereta. Yaitu, jalur subway milik pemda Nagoya dan jalur Meitetsu milik perusahaan swasta, yang beroperasi di daerah sekitar Nagoya. Jadi termasuk stasiun yang ramai.

Di sekitar stasiun banyak berseliweran orang-orang. Tepat di depanku dua orang gadis berseragam SMA berjalan sambil turun tangga menuju pintu masuk subway, dengan kecentilannya khas cewek kota besar, mereka mengobrol, menceritakan sesuatu yang menghebohkan. Demikian, salah satu mengawali obrolannya.

「ねえぇ、。。聞いて, “Nee… kite…” “Ehhh,.. mau dengerin aku cerita…”,

Dalam nuansa bahasa Indonesia, aku menterjemahannya seperti ini, “Eehh,...aku mau cerita nih..…” Perhatikan nuansa dalam bahasa ini. Si pembicara, karena ada sesuatu yang seru, ingin segera orang lain mendengarkannya. Nuansa dalam Bahasa Indonesia, ada suatu pemaksaan.

Ilustrasi yang lain, biasanya di konter-konter bank atau agen perjalanan wisata, selalu ada pamflet yang disediakan untuk para pelanggan mengambilnya sendiri. Dalam Bahasa Indonesia, jika kita ingin mengambilnya, ungkapan yang dipakai adalah,
“Boleh saya minta/ ambil pamflet ini?”

Dalam Bahasa Jepang, disampaikan dengan cara sebagai berikut,

~もらってもいいですか」,  “Moratte mo ii desu ka“, “Boleh saya terima pamphlet ini?”

Perhatikan dari sudut mana muncul pemikiran sebuah aksi dari suatu kata kerja tersebut antara Bahasa Jepang dan Bahasa Indonesia.

Dalam Bahasa Indonesia, diri sendiri bisa menonjolkan diri sebelum dia memikirkan lawannya. Tetapi Bahasa Jepang lebih memikirkan perasaan lawannya. Dan memang hampir semua ungkapan dalam Bahasa Jepang demikian. Ini yang susah jika harus diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia yang singkat dan padat dan mudah dipahami sesuai alam pemikiran orang Indonesia.

Demikian juga jika ada suatu perilaku yang menuntut pada pertanggung jawab pada diri, cara mengungkapkannya seperti berikut.

財布を落とすSaifu wo otosu (Terjemahan kasar: menjatuhkan dompet).
Dalam penerjemahan bebas bahasa Indonesia, menjadi “Dompet saya terjatuh”,

お金を無くす Okane wo nakusu (Terjemahan kasar menghilangkan uang).
Dalam penerjemahan bebas bahasa Indonesia, menjadi “Uang saya hilang”.

お腹を壊す Onaka wo kowasu (Terjemahan kasar merusakan perut).
Dalam penerjemahan bebas bahasa Indonesia, menjadi “Perut saya sakit

Tiga contoh di atas, jika diterjemahkan begitu saja, seolah-olah kita menjatuhkan dompet, menghilangkan uang milik sendiri, dan membuat sakit perut kita sendiri. Seolah-olah ada unsur kesengajaan. Khan tidak masuk akal jika kita menjatuhkan dompet, menghilangkan uang dan membuat sakit perut sendiri dalam konteks kalimat di atas.

Terkadang sempat terlintas dalam pikirku. Ada nuansa keikhlasan dari lawan bicara dan ada nada tanggung jawab dengan apa yang terjadi pada diri. Bagus banget ya, jadi tidak ada kambing yang perlu di”hitam”kan. Pantas aja, sekali waktu aku menterjemahkan istilah “kambing hitam”, tidak aku temukan padanan katanya dalam Bahasa Jepang.

Tapi, apa karena pola pikir yang kayak gini ya, yang menyebabkan mereka gampang banget stress, karena tidak bisa ungkapkan perasaan diri dengan bebasnya.

Semua Bahasa adalah menunjukkan cara pikir bangsa itu. Yang paling baik memang tidak perlu memaksa lawan bicara, dan tidak perlu mencari kambing hitam. Dengan begitu menjadi tetap sadar kalau semua yang sudah diperbuat adalah sebuah tanggung jawab pada diri. Dan tetap berupaya untuk menjaga sesuatu yang penting, sampai batas maksimal kemampuan manusia, dengan begitu stress pun tak perlu muncul.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s