Jepang ‘Desa’, Indonesia ‘Bumi dan Langit’

1389154896760210755

Gambaran desa jaman dulu yang masih dipertahankan, di daerah Asuke, wilayah kota Toyota (dok pribadi)

Kecil ya, hanya ‘desa’. Sebaliknya, tentunya besar sekali ya, ‘Bumi dan Langit’, tak terukur.

Dua peribahasa dalam bahasa Jepang dan Bahasa indonesia yang mirip artinya ini menggelitik hatiku, Peribahasa 郷に入れば郷に従えGou ni haireba gou ni shitagae, yang berarti jika masuk ke suatu desa, patuhilah aturan dalam desa itu. Dalam bahasa Indonesia, “Dimana bumi di pijak, di situ langit di junjung”. Hanya bedanya Bahasa Jepang memakai ‘desa’, sedangkan peribahasa Indonesia memakai kata ‘bumi dan langit’.

Sehubungan dengan peribahasa itu, Sebagai orang asing yang sedang mengamati cara pikir orang Jepang ini, aku mempunyai harapan, bagaimana ya cara Meningkatkan Pemahaman pada Prinsip Etos Kerja Jepang.

“Hmm,…besar sekali harapannya” aku mengumam sendiri di depan sahabat setiaku yang bisu tuli, ya PC-ku yang loyal. Ya! Kosa kata ‘Loyal’ ini bisa menjadi kata kunci untuk memahami etos kerja Jepang. bagaimana bentuk loyalitas itu?

Banyak sekali tulisan-tulisan atau penelitian-penelitian dari luar Jepang mengenai kaitan antara Loyalitas dan Etos Kerja Jepang ini. Kesemuanya menuju ke arah pada ajaran agar seseorang diharapkan banyak mempelajari diri sendiri, merendahkan hati. Bertujuan agar bisa lebih menghormat lawan bicara pada saat komunikasi berlangsung. Dengan begitu, rasa saling menghargai dari kedua belah pihak akan muncul secara alami agar terjadi keharmonisan dalam berkomunikasi.

wa, “harmoni ala Jepang” ini memiliki suatu kekhususan yang hanya dimiliki Jepang saja. Walaupun kita tahu, hampir semua budaya, hasil seni dan lain sebagainya, hasil ‘ngintip’ milik tetangga-tetangganya yang sudah diubah sendiri sesuai dengan cara pikir dan nuansa bangsanya.

Dari konsepwa, “harmoni” ini lahir ワビ・サビ wabi-sabi, mengutamakan “nilai elegan dari hasil perenungan”. Untuk mudah memahaminya, aku berikan contoh, misalnya pada 茶の湯cha no yu, upacara minum teh ala Jepang. Kalau pembaca pernah mengikutinya acara ini, dijamin pasti hoek-hoek waktu minum tehnya yang super pahit. Tapi tunggu dulu, setelah minum teh, makan 和菓子kue tradisional yang super manis itu. Waahh, rasa yang elegan itu langsung terasa pada perpaduan pahitnya teh dan manisnya kue. Itulah nilai harmonis milik Jepang ini. 

Rumah-rumah dengan arsitektur detail dan bergaya seni tinggi, produk-produk teknologi tinggi, taman-taman yang tertata apik memancarkan keindahan adalah contoh-contoh kecil produk kreatif yang mencerminkan etos kerja yang tinggi dari masyarakat Jepang.

Perbedaan pemahaman yang dialami seseorang dalam mempelajari bahasa asing. merupakan persilangan yang terjadi antara budaya yang dalam bahasa sumber dan yang ada dalam bahasa sasaran pembelajar. Jika terjadi kesalahan pahaman dalam berinteraksi, akibatnya akan menjadi fatal. Pernah lihat ilustrasi seperti berikut?

Antara orang Jepang dan orang asing, pada saat perkenalan, jika yang satu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, tetapi yang lain akan membungkuk, apa jadinya? Dua orang yang baru akan memulai berinteraksi tersebut akan merasa malu dan ini akan menjadi suatu hambatan dalam menjalin komunikasi lebih lanjut.

Peran Pemahaman Lintas Budaya untuk upaya meningkatkan kemampuan dalam Komunikasi Antar-budaya diantara budaya Jepang dan Indonesia yang beda ini sangatlah besar. Misalnya, dalam hal Manner atau Tata Cara dalam berkomunikasi. Bagaimana cara mengolah perasaan untuk meningkatkan pemahaman konsep budaya etos kerja dalam masyarakat Jepang ini?

Ada suatu pemahaman dalam memaknai manner untuk menjaga loyalitas tersebut. Yakni, 常識的な心得joushiki na kokoro u, yakni upaya saling memahami dalam bertingkah laku untuk tidak membuat orang lain bertambah repot, bertambah susah, dan juga tidak menambah beban orang lain.

Konsep tersebut lahir dari dasar pemikiran yang satu dengan yang lain berusaha untuk melaksanakan ‘aturan-aturan’ yang telah tersepakati bersama baik tertulis atau pun tak tertulis. Misalnya, jika dirinya tidak mau dibuat repot orang lain, maka dia tidak akan membuat kerepotan bagi orang lain (人に迷惑をかけないhito ni meiwaku o kakenai).

Berikut ada beberapa istilah untuk lebih memahami loyalitas dalam etos kerja saat komunikasi baik verba atau pun non verba berlangsung, yakni:

1. Menjaga ekspresi atau mimik raut muka agar tetap menyenangkan
lawan bicara (
表情 hyoujou).

2. Menjaga perasaan, ungkapan, perkataan sesuai dengan aturan atau
kebiasaan yang berlaku (
態度 taidou).

3. Menjaga perbuatan, perilaku sesuai dengan adat sopan santun
yang berlaku (
動作 dousa).

4. Menjaga agar suasana tetap ‘hangat’ pada saat komunikasi
berlangsung (
身だしなみ midashi nami).

Untuk bisa diterima disuatu komunitas masyarakat, ikutilah aturan yang mereka miliki, bukan berarti, menanggalkan identitas diri dan bangsa. Dari dasar pemikiran inilah Pemahaman Lintas Budaya yang mengarah pada Komunikasi Antar-budaya memiliki peran besar.

Sebetulnya konsep berkomunikasi semacam ini pun ada di Indonesia. Hanya mungkin berbeda pada pengistilahannya. Ada baiknya mungkin istilah itu dibakukan, disosialisasikan sehingga mudah melekat pada orang Indonesia,sehingga ada satu keseragaman istilah se Indonesia Raya.

Tantangan lebih besar bagi kita manusia Indonesia, daripada manusia Jepang,Karena area kerja mereka ‘desa’ dan area kerja kita ‘bumi dan langit’.

Nukilan dari tulisan yang berjudul:
“Peran Komunikasi Lintas Budaya untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Budaya Etos Kerja Masyarakat Jepang”. Pernah dimuat dalam buku Kumpulan Artikel Kejepangan (Pusat Kajian Jepang-UNESA, November 2006) Tulisan lengkap ada di jembatanimpian.wordpress

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s