Nge-date, Cara Anak Muda Jepang Merayakan Natal

Malam ini malam natal, orang Jepang juga terbiasa mengistilahkan dengan クリスマス・イブkurisumasu ibu, hehehe memang lidah Jepang ini susah diajak kompromi. Lha wong Christmas Eve, dilafalkan menjadi kurisumasu ibu.

Setelah melewatkan seminggu di Surabaya, subuh pagi tadi, keluar Surabaya kembali ke Nagoya, nerusin lakon yang sempat tertunda. Malam ini ketika pulang dari bandara Centoria-Chubu Nagoya aku merasakan hal yang beda dari biasanya ketika naik subway.

Apa ya yang bikin beda, padahal khan hari ini tidak tanggal merah, besok pun tanggalannya juga bukan merah. Ooohh,..ternyata malam ini malam Natal tanggal 24 Desember!

Pantes, banyak sekali terlihat pemandangan pasangan-pasangan muda. Mereka mengenakan baju dan bermake up istimewa, karena mereka ingin tampil sempurna. Saling bergandeng tangan dan bermesraan di pojok-pojok stasiun-stasiun besar. Dan banyak pegawai restoran cepat saji dan stand-stand dadakan di lobi stasiun-stasiun mengenakan kostum Santa-san berkeliaran kesana kemari. Suara mereka menggema menawarkan ayam dan cake natal sambil mengucapkan selamat natal.

Berbeda dengan perayaan natal di belahan dunia lain. Sebatas yang aku tahu, teman-teman yang merayakan natal di Indonesia, tanggal 24 malam, pergi bersama-sama keluarga besar menuju gereja untuk mengikuti misa natal.

Bagi orang-orang Jepang, terutama para kaum muda, hari ini betul-betul hari yang menggembirakan bagi yang memiliki pasangan. Dinanti-nantikan bagi para muda Jepang. Yang masih dalam masa pendekatan, sangat berharap menjadi malam yang berkesan, karena menjadi momentum untuk jadian. Yang akan sudah serius pun juga berharap malam ini menjadi hari penentu, pasangan tersebut maju ke jenjang pernikahan.

Pada awalnya aku merasa aneh mereka menjadikan malam natal ini sebagai momentum penting bagi hidup mereka terutama berkaitan dengan jodoh. Alasan walaupun mereka bukan pemeluk agama nasrani, tapi merayakannya lebih heboh dari orang merayakan natal itu sendiri, sediki demi sedikit menjadi jelas.

Malam ini hotel-hotel semua full booking. Restoran dan tempat-tempat yang penuh dengan kerlap-kerlip lampu dipadati pasangan muda. Terus bagaimana dengan gereja? Gereja atau tempat ibadah yang sesungguhnya hanya didatangi oleh orang Jepang yang paham akan arti natal sesungguhnya, dan itu hanya bisa dihitung dengan jari..

Mereka pada umunya merayakan dengan hura-hura tanpa menyangkutkan ritual peribadatan. Anak-anak menantikan Santa san memberikan hadiah, sesama anggota keluarga menantikan moment saling tukar hadiah. Dengan tak lupa sajian ayam goreng dan cake natal yang harganya melambung tinggi.

Tidak ada yang yang protes walaupun banyak dari mereka mendirikan pohon natal dan menghiasinya tanpa disertai misa natal. Yang ada dibenak mereka hanya suatu kegembiraan perayaan tahunan. Perekonomian menjadi terdongkrak dengan adanya ini, mereka merayakannya tanpa perlu mengetahui asal-usulnya dan mereka seperti tidak memperdulikannya. Bahkan banyak perusahaan-perusahaan besar memanfaatkan pohon natal ini untuk promosi usahanya.

 

Yang mereka tahu hanya dengan adanya kelap kelip lampu, hawa dingin menusuk bisa menjadi hangat. Dengan begitu, hati dan suasana ngikut menghangat.

 

Yang mereka tahu, dengan nge-date, mereka bisa saling menujukkan kasih pada orang terkasihnya karena natal identik dengan kasih yang melimpah.

 

Yang mereka tahu, bangunan serupa gereja itu, hanya berfungsi sebagai tempat nikah. Dan tidak merasa perlu mengetahui apakah bule yang menikahkan itu memang orang yang memiliki kualifikasi menjadi saksi ihkrar nikah suci dihadapan Tuhan, bukan bule asal comot dari tempat-tempat simpul berkumpulnya wisatawan.

Dan rupanya dengan cara seperti ini, Jepang menjadi laju perekonomiannya. Bayangkan saja berapa omzet yang didapat oleh mall besar sebagai tempat untuk membeli souvenir tukar-menukar hadiah. Berapa keuntungan yang diraup pihak pariwisata hotel dan restoran. Seberapa banyak cake dan ayam-ayam terjual demi mensahkan natal versi mereka.

 

Tidak perlu dengan memasalahkan “memberikan ucapan selamat natal bagi orang yang merayakannya”. Yang diperlukan adalah memiliki pemikiran, alangkah baiknya jika saling memahami bahwa semuanya memiliki tujuan yang sama, yakni menjadikan semua hal menuju ke arah kebaikan. Yang sudah baik tidak perlu diperkeruh lagi.

 

 

 

Akhir kata aku mengucapkan pada semua teman yang merayakan natal, “Selamat Hari Natal”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s