Refleksi Tragedi Bintaro: Menolong Sekaligus Menguras Milik Korban

Masih juga sebagian dari kita memilki mental seperti itu. Kalau mau menolong, kenapa harus juga menguras harta milik korban. Harusnya konsep “menolong” khan dengan sekuat tenaga menyelamatkan nyawa sekalian menyelamatkan apa pun yang melekat pada korban.

Geram rasanya waktu kemarin malam melihat berita di salah stasiun TV yang menayangkan peristiwa kecelakaan kereta api komuter dengan truk tangki mengangkut bahan bakar premium. Seorang korban mengeluarkan uneg-unegnya waktu diwawancari reporter TV. Dia mengatakan, sewaktu ditolong keluar dari gerbong, semua yang yang dibawanya raib dibawa pergi oleh si penolong. Bisa dipastikan beberapa barang milik korban, tak berarti bagi si penolong gadungan tersebut. Misalnya data-data kerja yang tersimpan dalam soft-file korban, padahal bagi si korban sangat berarti sekali.

Kalau bicara masalah menemukan sesuatu yang bukan miliknya, termasuk saat menolong korban bencana, aturan dalam masyarakat Jepang bisa dijadikan contoh. Kemarin saya menuliskan artikel tentang bagaimana menjadi relawan tsunami yang melanda Jepang tahun 2011 silam, silakan baca di sini. Dalam artikel itu sudah saya ceritakan bagaimana pemerintah Jepang membuat aturan untuk bisa menjadi relawan.

Pada prinsipnya, menjadi penolong suatu korban bencana itu perlu modal minimal untuk dirinya sendiri harus mandiri dalam segi tenaga dan finansial, jadi tidak perlu membuat repot pihak mana pun juga.Itulah mengapa persyaratan utamanya sebagai relawan demikian ketatnya. Padahal kalau dipikir, para relawan tersebut punya niatan yang baik, menolong orang lain dalam kesusahan kok ya tidak gampang ya menjadi seorang relawan.

Kembali menyoal pada masalah penolong gadungan korban kecelakaan KA Barito. Kenapa masih ada orang yang menggunakan kesempatan dalam kesempitan seperti ini.  Yaaa,…semuanya harus berawal dari diri sendiri. Setelah melihat tayangan itu, saya yang saat ini jauh dari tanah air, jadi semakin bisa memahami kenapa pemerintah Jepang memiliki peraturan seperti itu.

Sebetulnya menolong itu sifat yang mendasar bagi semua manusia di belahan bumi mana pun juga. Kalau dalam sosial masyarakat Jepang disahkan dengan adanya peraturan yang tertulis. Bagaimana dengan sosial masyarakat kita yang terkenal sikap gotong royong dan tolong menolongnya? Apakah ya perlu bagi negara kita tercinta ini juga dibikinkan aturan semacam itu? Tidaklah sampai memerlukan suatu peraturan tertulis yang terkesan kaku. Apalagi kita memiliki keyakinan adanya Tuhan yang kuasa. Jadi rasa hati yang berlabel “ikhlas” tanpa pamrih itu semestinya sudah dipastikan terpatri pada hati masing-masing. Mari kita bertanya pada nurani kita sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s