“Volunteer Tour” di Tengah Tsunami (edited)

Kalau baca judul, pastilah terbayang sesuatu yang mengasyikan, yakni berwisata dan menjadi relawan, terjun secara langsung ke tempat terjadinya bencana. Jika menilik kata “wisata”, tentulah sesuatu yang menyenangkan. Apakah demikian? Baiklah saya akan menceritakan sedikit info tentang para relawan berjiwa muda ini yang bergelut dengan korban tsunami di Jepang bagian utara yang terjadi tanggal 11 Maret 2011 jam 14:46:18.

Sejak peristiwa itu sampai sakarang pun masih banyak kegiatan-kegiatan atau acara-acara TV yang berkaitan dengan peristiwa bencana alam tersebut. Channel 1 NHK menayangkan tiap hari acara yang bertajuk 「あの日、私は。。。」 ano hi, watashi wa, “Saya,…pada saat itu…”. Acara ini hanya berdurasi 5 menit, dari jam 10;50~10:55. Walau hanya 5 menit, acara tersebut sangat bisa menginspirasi banyak orang, baik yang menjadi korban secara langsung atau pun tidak.

Acara itu bercerita tentang saksi-saksi yang mengalami secara langsung peristiwa itu. Sedang apa dan apa yang dilakukannya pada saat bencana dan begitu peristiwa itu terjadi. Disertai juga, gambaran foto atau video sebelum dan sesudah bencana terjadi, di mana dia sehari-hari beraktifitas. Dan theme songnya ciamik banget berjudul 「花は咲く」 hana wa saku, “Jika bunga mekar kembali”. lagu ini seakan bisa menyihir orang-orang yang terkena bencana untuk bangkit kembali.

Beberapa waktu lalu, secara kebetulan saya melihat tayangan ulang tentang kegiatan Volunteer Tour, dua bulan setelah peristiwa itu terjadi. Acara TV itu berjudul 「ボランティアに参加ツアー」, borantia ni sanka chuaa, jika diterjemahan bebas kira-kira demikian, Volunteer Tour atau Bakti Sosial Tour, atau Relawan Tour atau apalah namanya, tidak saya temukan terjemahan yang pas.

Sewaktu menonton acara tersebut, ada beberapa point yang bisa saya jadikan renungan. Bahasa mereka, tak  miliki kosa kata “ikhlas”. Jika coba buka kamus Indonesia-Jepang, tidak akan kita temukan arti yang pas untuk terjemahkan kata “ikhlas” itu. Karena pengamatan saya selama ini, jika mereka menerima apa pun, harus dikembalikan (dari sudut pandang si penerima). Sedangkan kita yang  jelas-jelas miliki kata itu dalam bahasa ibu, terkadang keikhlasan itu masih digandoli dengan berbagai persyaratan.

Ketertiban dan ketaatan yang seakan sudah menjadi trade mark orang Jepang ini menjadi modal utama, oleh karenanya pemulihan dari bencana ini tergolong cepat.
Lha wong mau berbuat baik aja kok kudu ngikuti aturan” Itu awalnya yang ada dalam pikiran saya waktu mengetahui bahwa tidak semua orang bisa jadi relawan.
Ternyata, alasan agar korban tidak bertambah, pemerintah Jepang selektif banget untuk berikan ijin pada volunteer-volunteer itu masuk ke area bencana.
“Oooohh ternyata itu salah satu cara mereka tuk menghargai sebuah nyawa” Pikirku.

Jadi, untuk memfasilitasi orang-orang yang ingin memberikan sumbangan tenaga, biro-biro perjalanan beramai-ramai membuat paket perjalanan dengan harga yang sangat terjangkau. Secara kebetulan, dua bulan setelah peristiwa itu ada liburan besar Golden Week. Dan biro-biro perjalanan itu memperkenalkan produk barunya, yaitu menjadi relawan sembari berwisata, atau berwisata sembari menolong korban bencana, sah-sah saja orang mengartikan sesuai dengan kepentingan yang bersangkutan. Jadilah biro-biro perjalanan itu diserbu para volunteer. Dan ternyata kegiatan itu sampai sekarang masih berlangsung, melibatkan pihak-pihak kampus juga.

Persyaratan utamanya, selain harus bayar sejumlah uang untuk akomodasi, tempat menginap selama 2~4 hari, harus bisa menunjukan surat keterangan asuransi jiwa dan kesehatan. Kemudian, peserta harus membawa perlengkapan pribadi, termasuk obat-obatan. Yang unik, peserta juga wajib membawa peralatan seperti sekop, sapu panjang, kaos tangan kerja dan lain sebagainya, semuanya itu dengan biaya pribadi peserta atau relawan relawan tersebut. Karena akan menjadi relawan, maka tidak boleh merepoti pihak mana pun juga. Semuanya harus berawal dari diri sendiri. Itulah mengapa persyaratan utamanya seperti demikian.

Ternyata untuk berbuat sesuatu bagi orang lain itu, tidak diperlukan suatu ajaran agama tertentu, karena pada dasarnya, menolong orang adalah berhubungan dengan hati. Mereka tergerak karena hati nurani yang menangis melihat penderitaan sesamanya. Satu lagi bukti terlihat kepragmatisan pola pikir mereka. Mungkin kalau mereka mempercayai suatu ajaran agama tertentu, landasan hati mereka akankah menjadi lebih kokoh?? Hanya bisa merenung, berarti diri ini yang mengaku meyakini adanya Tuhan, harusnya lebih kokoh lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s