Diam Itu Juga Pilihan

Di tengah-tengah suasana yang memanas, untuk bikin mata gak semakin sepet karena baca sesuatu atau pun mendengarkan sesuatu yang bisa bikin hati terbakar,‘diam’ itu juga pilihan yang bisa bikin adem kepala dan hati. Di tengah-tengah suasana formal ‘diam’ itu juga pilihan tepat untuk meresapi dan turut merenungkan ‘orang besar’ berbicara, malah dianjurkan setengah diwajibkan. Lha bagaimana dengan ‘diam’ yang ini?

Tulisan ini hanya sekedar pengalaman kecil yang terselip di kehidupanku. Dunia ajar mengajar bahasa Indonesia untuk orang Jepang udah aku tekuni sejak masih kuliah, seperempat abad silam. Pada waktu itu, dengan kelas kecil dan posisiku sebagai pengajar native yang ada di Indonesia ini, lebih mudah mengendalikan orang-orang Jepun itu agar mau buka mulut di kelas percakapan. Bagaimana dengan kelas besar dan mengajarnya di negara asal pembelajar? Mengajar Bahasa Indonesia untuk anak-anak muda Jepang itu gampang-gampang susah *atau susah-susah gampang ya..

Bagaimana tidak, kalau perkuliahannya, pakai metode ceramah sih ‘diam’ memang diharuskan. Lha, kalau kelas percakapan dan aku sebagai pengajar Native Indonesia asli yang bahasa Jepangnya masih juga belepotan, apa mau dikata jika mereka juga berlaku diam dalam kelas percakapan. Bagaimana aku bisa mengevaluasi kemampuannya jika mereka tidak mau buka mulut. Apalagi aku suka bikin semacam ‘aturan permainan’ selama satu semester pada awal tatap muka, untuk sekedar menyatukan pendapat aku sebagai pengajar dan mereka sebagai penerima info.

Pada umumnya perkuliahan di negara ini, kelas yang diam, seperti kelas mati tanpa roh dan sebagian tertidur, itu lazim dan sah-sah saja. Bagi aku pun hal itu juga tidak masalah, daripada ngobrol sedangkan gurunya menerangkan dengan susah payah. Yang jadi masalah adalah, jika mata kuliah itu adalah Mata Kuliah Percakapan. Mau tidak mau mereka harus membuka mulut, dan ini adalah tantangan bagiku.

Pertama kali mengajar Bahasa Indonesia mahasiswa Jepang di suatu Universitas swasta yang cukup bergengsi di Nagoya ini, muncul suatu tantangan dalam diriku. Mahasiswa Jepang ini memang tidak biasa bertanya, mengungkapkan ide atau pun berpendapat.

Beberapa menit berlalu waktu aku berikan waktu untuk mereka membuka mulut menyampaikan ide atau usulannya, tidaklah satu pun kalimat terlontar. Aku pancing-pancing dengan beberapa pernyataan menggunakan bahasa Jepang ala orang asing. Yosh…nyantol satu umpanku sehingga muncul dialog seperti ini. Hari itu tantanganku terjawab.
“Sensei, apakah anda suka Jepang?”
pertanyaan itu terlontar dari salah satu mahasiswa kelas Bahasa Indonesia hari itu.
Apa kira-kira jawaban yang ku berikan padanya?.
“Tidak suka”
Aku jawab demikian.
Semua mata pandang, dan aku tidak membiarkan kesempatan untuk menyapu pandangan keheranan dari semua anak-anak muda Jepang yang hadir pada kelasku hari itu. Spontan aku lihat perubahan raut wajah, terutama si penanya.
“Anda tidak bertanya, kenapa saya tidak suka?” Kembali aku menyodorkan umpanku.
Si penanya diam, masih bingung, kok ya ada orang asing yang menjawab seperti itu, kira-kira itu yang ada dalam benaknya.
Pancinganku mengena, mahasiswa lain bertanya “Kalau tidak suka mengapa sensei datang ke Jepang?”

Waahh, senangnya hatiku, aku coba menjelaskan dengan semampuku, menyesuaikan dengan kemampuan bahasa Jepangku yang mudah ditangkap mereka. Karena ada tanya pada diri, kenapa orang lain suka, sedang saya membencinya pun tidak, menyukainya pun tidak. Karena itu rasa penasaranku akan Jepang semakin tinggi, untuk itu aku datang.

“Berawal dari tidak suka, saya jadi ingin tahu. Manusia Jepang itu seperti apa. Bagaimana cara pikirnya dalam menghadapi dunia luar dirinya. Bagaimana cara pikirnya untuk mempertahankan miliknya. Bagaimana cara pikirnya untuk menghadapi alamnya. Saya tidak hanya ingin membandingkan saja antara Indonesia dan Jepang, sekedar untuk mencari baik dan buruknya. Tapi saya mau cari sesuatu yang bisa dipakai untuk sebuah pembelajaran hidup” Penjelasanku panjang lebar.

Para mahasiswa itu akhirnya manggut-manggut, sepertinya tahu, tapi apakah mereka betul-betul memahami sepenuhnya, aku juga tidak tahu. Semoga, berawal dari sebuah pertanyaan yang kelihatannya sederhana ini, bisa saling membuka mata hati dari anak-anak bangsa yang beda identitas kewarganegaraan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s