“Larangan” Bahasa Jepang, Lebih Miliki Makna “Permohonan”

Pada saat melihat tanda lingkaran merah berstrip putih, yang tertangkap dalam benak kita adalah tanda yang memuat pesan larangan untuk melakukan sesuatu, yakni “dilarang masuk”. Tetapi bagaimana dengan negaranya si Doraemon ini?

“Dilarang masuk”, dalam bahasa Jepang diungkapkan dengan istilah 立ち入り禁止(たちいりきんし, baca: tachi iri kinshi). Ungkapan ini memiliki makna larangan keras untuk tidak memasuki area tertentu. Yang membuat aku berpikit keras, setelah membaca papan pengumunan itu adalah, ada kalimat yang juga berbunyi “larangan”, tetapi jika direnungkan sekali lagi, bukanlah berupa sebuah “larangan”.  Kalimat tersebut berbunyi demikian, ~~ ご遠慮ください ~~ごえんりょください, baca: ~~go-enryo kudasai)。

Aku pikir, ungkapan “dilarang masuk” ini terkesan banget basa-basinya. Karena arti harfiah dari kalimat tersebut adalah “Punyalah rasa sungkan atau punyalah rasa  malu, jika melanggar/ melakukan sesuai dengan kaliamt yang tertulis”.

Awalnya, aku pikir larangan yang bunyinya “立ち入り禁止 tachi iri kinshi” ini terkait dengan hukum tertulis/ hukum negara, jadinya terkesan ‘keras’. Dan yang bunyinya ~ご遠慮ください ~ go-enryo kudasai” ini terkait dengan hukum tak tertulis/ hukum adat dlsb, jadi terkesan lunak. Tetapi setelah diamati, ternyata tidak juga. Jadi tergantung dari apa ya, waktu aturan larangan itu dibuat, jadi penasaran dibuatnya.

Setelah aku amati, aku berkesimpulan bahwa bahasa Jepang itu cenderung meminta keiklasan pada lawannya, bukan menyuruh atau memerintah. Mungkin dalam bahasa Indonesia bisa dibedakan dengan “larangan” dan “himbauan”, atau “ajakan”,…waah tambah mbulet😦

Coba kalau orang yang membaca pernyataan larangan itu, orang asing atau orang Jepang yang kadar rasa sungkannya tidak senada dengan instansi  yang membuat peraturan itu, apakah bisa dimaklumi, jika orang tersebut melanggarnya. Karena jelas-jelas itu larangan keras, tetapi memakai bahasanya dengan nada himbauan

Hal-hal seperti ini yang menyulitkan bagi pembelajar Bahasa Jepang orang asing. Seperti misalnya pembelajar orang Indonesia. Karena orang Indonesia hidup dalam masyarakat bersosial budaya yang beragam. Jadi orang Indonesia terbiasa dengan bahasa yang membuat lawannya tidak perlu berpikir atau menerka-nerka.

Kembali pada dua ungkapan bahasa Jepang yang menyatakan larangan tersebut, kenapa tidak tidak diistilahkan dengan kata yang sama. Karena jelas-jelas itu bukan himbauan, tetapi larangan keras. Seperti misalnya bahasa Indonesia, memakai kata “dilarang”.

Ya,..itulah Jepang, nuansa bahasanya banyak yang meminta keikhlasan dari lawan interaksinya. Dan mereka terbiasa dengan ungkapan yang tak ter-verbal-kan. Karena, mereka terbiasa dengan keseragaman sejak kecil dalam hal apa pun, mungkin ini salah satu penyebabnya.

13862379141449284580

Papan larangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s