Mereka Juga “Duta Bangsa”

Beberapa hari yang lalu, seorang kompasianer Mbak Gaganawati, menulis “Setiap Penduduk Luar Negeri Adalah Duta Bangsa”. Tulisan itu menceritakan pengalamannya selama menjadi warga penduduk asing di LN. Kali ini aku juga ingin menulis sedikit di catatan harianku sebagai warga asing di negara empat musimnya si Doraemon, dari kacamata beda.

Saat ini cuaca mulai mendingin merangsek mendekati puncaknya. Tentu saja, beberapa cara tuk mengatasinya udah aku siapkan sejak sebulan lalu, akhir musim gugur. Selimut-selimut, pakaian-pakaian, sepatu-sepatu, apa aja yang jadi trade mark-nya musim panas, dikemas yang rapi, dikasih wangi-wangian, masuk gudang,..blung,…merepotkan banget.

Tadaaa…semua yang berbau musim dingin mulailah keluar. Selimut, kaos kaki, kaos tangan, yang hampir semuanya gembul-gembul lembut tertata rapi. Sebetulnya bagi kita yang mulai brojol hidup di negara tropis, mengerjakan hal-hal yang kayak gini ini, pekerjaan yang paling tidak mengenakkan. Apa boleh buat, kalau mengingat mau bepergian untuk pake baju aja butuh waktu 15 menit yang biasanya cuman 5 menit, menyediakan dengan rapi itu berarti kita sudah sedikit mengatasi permasalahan klasik musim dingin yang bakal muncul. Yang sering bikin kesel, kalau udah mau keluar rumah, misal, pake sepatu boots aja karena dipakenya cuman musim dingin aja, kadang-kadang pake acara nabrak-nabrak segala karena gak terbiasa, hehehe.

Pada awal-awal hidup di sini, sering gumun, pada cewek-cewek Jepang itu. Mereka khan stylish banget, jadi waktu musim dingin pun masih juga itu ber-rok mini, meski pake kaos kakinya sedengkul, tetep aja ada bagian kulit yang terbuka. Eehh,.. ternyata mereka itu pake kairo di beberapa tempat, terkadang sampai 4 biji, 2 di sekitar perut, 2 di punggung. Pantes kuat dingin, lagi pula stockingnya walaupun bahannya tipis, tapi dibikin dari bahan yang tahan dingin. Kairo itu semacam kantung kecil yang berisi batu-batuan, jika bersentuhan dengan kulit manusia, menjadi hangat selama kurang lebih 8-24 jam tergantung dari besar kecilnya.

Kembali pada kata “duta bangsa”. Semalam, bersama seorang murid bahasa Indonesia, sebut aja pak Shihara, aku mengunjung apartemen teman Indonesia yang menjadi  pekerja magang di perusahaan pabrik interior mitra pabrik mobil Toyota. Di tempat itu pula aku mengajar Bahasa Indonesia untuk karyawannya, dan pak Shihara itu salah satunya. Perusahaan itu, karena sedang mengembangkan usahanya di Indonesia. Mulai sekarang juga akan mendatangkan pekerja magang dari Indonesia lebih banyak lagi.

Tujuan mengunjungi kediaman para pekerja magang itu, karena pihak perusahaan merasa khawatir dengan mereka yang baru tahun ini merasakan musim dingin. Betul juga, begitu nyampe di apartemen mereka, raut muka keheranan Pak Shihara muncul secara berurutan tanpa henti sampai saat kita berdua pamit.

Dimulai dari seorang anak yang mendiami apartemen itu, membuka jendela yang segede pintu itu untuk meletakkan sesuatu tanpa langsung menutupnya. Maklumlah, kita hidup di negara tropis yang pintu dan jendela selalu dibiarkan terbuka. Tentunya jika penghuni nya sedang tidak keluar, dan tentunya pintu akan tertutup sekaligus terkunci saat keluar rumah, kalau gak pengen dimalingi,..hehehe🙂. Sedangkan di negara 4 musim, walau penghuninya lengkap pun untuk melokalisir panas agar gak terbuang percuma, harus dalam keadaan tertutup.

Kalau bertamu ke teman Jepang atau masuk sebuah restoran, membuka pintu sendiri dan kemudian secara otomatis menutupnya, itu hal wajar. Sempat aku dulu pernah bingung, ada pegawai ekspedisi pengantar paket, belum sempat aku bukakan pintu, mereka langsung nyelonong membuka pintu sendiri dan menutupnya, menunggu di genkan (tempat ganti  alas kaki, semacam teras yang ada dalam rumah). Petugas-petugas itu terkadang langsung buka pintu setelah memencet bel tanpa menunggu si tuan rumah membukan pintu. Karena pintu yang selalu tertutup itu, memang tidak terkunci.

Mereka semua telanjang kaki!, ya ini yang juga membuat pak Shibara keheranan. Dengan suhu luar 5 derajat C, bagaimana bisa hidup tanpa kaos kaki, sedangkan lantainya tidak terinstalasi lantai yang hangat atau tergelar karpet beraliran listrik. Pada saat itu pula aku melayangkan pikir pada hangatnya rumahku di Surabaya. Tanpa repot-repot pake kaos kaki sudah nyaman banget dan bisa gletakan di mana aja kita mau.

Tidak seperti di tempat aku tinggal sementara jauh dari tanah air ini, kalau mau pup aja, bawa selimut kecil ke toilet. Dengan begitu bisa betah berlembar-lembar ngabisin cerita sampai titiknya. Maklumlah, bukan apartemen mewah, toilet duduknya yang dilengkapi dengan washlet toilet, yang bokongnya bisa hangat, air penyemprotnya juga hangat pula.

Anak-anak itu juga “duta bangsa”. Jika pulang ke Indonesia nanti, setelah perjanjian kerja berakhir, diharapkan bisa mentransfer informasi tentang Jepang pada khalayak ramai. Dan sekarang, selama mereka tinggal di sini, diharapkan bisa berikan contoh kehidupan Indonesia secara otentik. Dan cara pikir mereka diharapkan bisa menjadikan bahan diskusi bagi orang-orang Jepang yang siap terjun ke rimba Indonesia.

Betapa tidak, karena tidak dikejar-kejar musim yang berganti-ganti itu, konsep tentang “waktu” yang dimiliki orang Indonesia itu berbeda dengan orang Jepang. Kita tidak peka pada perubahan cuaca, itu yang sebabkan kita lelet banget dengan waktu. Semoga dengan adanya kunjungan singkat itu, pak Shibara bisa mengangkatnya ke rapat kantornya. Untuk menjadikan tema diskusi, bagaimana cara mengajak orang-orang Indonesia ini supaya bisa bekerja sama dengan baik, terutama pada konsep memahami “waktu”.

Betapa tidak, karena tidak dikejar-kejar musim yang berganti-ganti itu, konsep tentang “waktu” yang dimiliki orang Indonesia itu berbeda dengan orang Jepang. Kita tidak peka pada perubahan cuaca, itu yang sebabkan kita lelet banget dengan waktu. Semoga dengan adanya kunjungan singkat itu, pak Shibara bisa mengangkatnya ke rapat kantornya. Untuk menjadikan tema diskusi, bagaimana cara mengajak orang-orang Indonesia ini supaya bisa bekerja sama dengan baik, terutama pada konsep memahami “waktu”.

Karena pada dasarnya kita adalah bangsa yang mudah untuk diajak ke arah baik, jika cara pendekatannya tepat. Ya, banyak ekspatriat itu merasa stres, karena merasa gagal, kenapa orang Indonesia susah diajak bekerja mengikuti ritme kerja orang Jepang. Dan memang tidak disangkal, terkadang kerja orang Jepang itu gak masuk diakal, hal ini pun masih suka aku rasakan sampai sekarang. Aku sebagai bagian “duta bangsa” itu juga berharap, dengan adanya pendekatan saling memahami konsep yang dimiliki masing-masing bangsa, aku yakin bisa tercapai kebaikan pada kedua belah pihak.

 

13849234611591947535

Masih mengenakan baju kerja. Pisang, botol kecap, sambal botolan, kacang ijo + santan, mie ayam,…makanan-makanan khas Indonesia, pengobat rindu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s