“Indonesia, Aku Masih Tetap Mencintaimu”

Ingin tahu apa yang generasi muda Jepang ini bicarakan tentang Indonesia tercinta? Apa yang ingin mereka sampaikan, dan apa yang mereka harapkan dari persahabatan antara Indonesia dan Jepang ini? Semuanya ada dalam acara lomba pidato Bahasa Indonesia ke 6. Acara rutin yang digelar setiap tahun oleh Nanzan University, tempat penulis mengajar Bahasa Indonesia, diadakan minggu ketiga bulan November pada tiap tahunnya. Didukung oleh KBRI Tokyo dan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) yang ada di Nagoya.

Acara pembukaan sedikit terlambat dari yang direncanakan. Dan seperti halnya pada penyelenggaraan acara-acara pada umumnya ada beberapa teknis yang jadi hambatan. Semoga kedepannya tidak ada lagi keterlambatan, dalam acara-acara apa pun.

Sesuai dengan nama acaranya, awalnya hanya lomba pidato saja. Tetapi sejak 3 tahun lalu, ditambahkan pembacaan puisi Indonesia yang ditulis oleh penyair ternama Indonesia. Misalnya Chairil Anwar, Aifin C. Noer, Sitor Sitomorang, Emha Ainun Najib, Sapardi Djoko Damono, Oka Rusmini, Goenawan Mohamad, dll.

Pada pembacaan puisi, beberapa karya yang dibawakan peserta lomba sempat menyihir para penonton, terhanyut pada bait-bait yang diucapkan peserta. Bayangkan, mereka bukan orang Indonesia, tapi hebat sekali dalam penghayatannya. Kali ini ada 2 karya Acep Zamzam Noor yang dipilih peserta. Seumpama tahun ini kang Acep juga sempat datang dan menjadi juri seperti tahun lalu, pastilah beliau bangga. Karena seorang pemenangnya membawakannya dengan baik sekali. Modal mereka hanya ketertarikan pada Indonesia yang menjadikan mereka terus belajar bahasa dan budaya Indonesia.

13847323972114086051

Peserta lomba dan dewan juri

Peserta peserta Lomba Pidato kali ini, agak berkurang dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Tetapi dari segi kualitas, baik dalam hal penyampaian dan isi pidato, tidaklah mengecewakan. Begitu juga peserta lomba pembacaan puisi, kualitas terlihat dari penghayatan oleh masing-masing peserta dan artikulasi pelafalannya. Mengingat mereka susah sekali membedakan “r” dan “l”. Juga pada pengucapan “ng” pada beberapa kosa kata, kalau tidak dilatih berulang kali, lidah Jepang ini tidak bisa mengucapkannya dengan baik.

Juara 1 pada masing-masing kategori lomba mendapatkan tiket Garuda penerbangan PP Jepang-Indonesia. Tiket ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para peserta yang terbuka untuk umum dan mahasiswa. Mulai tahun ini KBRI memberikan 2 tiket sekaligus untuk masing-masing kategori. Tahun-tahun sebelumnya, KBRI berbagi dengan penerbangan nasional Garuda. Tetapi karena penerbangan dari Nagoya ditiadakan, tiket itu pun pun juga tidak muncul. Sayang sekali. Untunglah pihak KBRI bisa membuat kebijaksanaan yang tepat. Dan kali ini tiket itu bukan kearah Bali atau Yogja yang telah merebut hati orang Jepang pada umumnya. Tetapi ke arah Padang dan Makasar. Ya, penyebaran info tentang Indonesia itu penting, sesuai pidato sambutan pembukaan wakil dari KBRI

Para juri juga dari berbagai kalangan, terdiri dari sorang profesor ahli keIndonesiaan, juri wakil dari KBRI dan  juri wakil dari PPI. Pada saat rehat juri untuk berunding hasil lomba, ada beberapa penampilan. Salut sekali pada teman-teman PPI yang telah menyanyikan beberapa lagu nasional. Tidak ketinggalan, untuk mengimbanginya, seorang mahasiswa Jepang juga menjanjikan sebuah lagu. Dilanjut dengan acara spontanitas, pembacaan puisi “Kerawang Bekasi” diiringi dentingan gitar. Seru banget. Saat ramah-tamah pihak PPI juga telah menyediakan hidangan ala kadarnya. dan keakraban hasil dari peleburan Indonesia dan Jepang lahir pada saat itu.

Isi dari beberapa pidato, akan penulis ulas di sini. Isi pidato cukup bervariasi, dan rata-rata dari mereka sangat paham dengan Indonesia dan beberapa di antaranya pernah pergi Indonesia, baik sebagai wisatawan ataupun sebagai pertukaran pelajar.

Cerita tentang istilah “Omotenashi” ini dibicarakan salah seorang peserta untuk membandingkan antara bahasa Jepang dan Bahasa Jawa. Menurutnya, ada kesamaan pada tingkatan hierarki pemakaian, seperti halnya ragam bahasa ngoko dan ragam bahasa kromo. Sedangkan dalam bahasa Jepang ada istilah keigo (untuk meninggikan lawan bicara) dan kenjogo (untuk merendahkan diri).

Omotenashi ini susah sekali dicari padanan katanya. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, bisa berarti, “dengan tangan terbuka”, “tanpa pamrih”, dan “menyambut dengan sungguh-sungguh tanpa basa basi yang tidak diperlukan”. Kata ini menjadi lebih populer pada saat salah satu peresenter TV nasional mengutarakan harapannya untuk para atlit yang siap untuk berlaga di Olimpiade 2020 Di Tokyo.

Peserta lain menceritakan pengalamannya sewaktu tinggal di Taipeh waktu program pertukaran pelajar selama setahun. Dia menemukan Kota atau kampung Indonesia yang letaknnya tidak jauh dari stasiun Taipeh. Dia bisa merasakan perasaan orang-orang Indonesia yang berkumpul dan bernostalgia dengan sesama orang Indonesia pada saat dia menyempatkan diri bergabung dengan para tamu yang kebanyakan memang orang Indonesia.

Pada saat dia di Taipeh, dia juga sama posisinya dengan orang-oarang Indoensia sesama orang asing, yang kangen dengan kampung halamannya. Dia juga berharap agar tempat-tempat semacam itu berumur panjang, sehingga orang perantauan menjadi betah, dan tak lupa dia juga berharap bisa menemukan tempat-tempat seperti itu di Nagoya dan sekitarnya, supaya orang-oarng Jepang yang seperti dirinya yang tertarik pada Indonesia, bisa lebih dalam mengenalnya.

13847324941886687324

Ada coretan nama

Andik Vermanshah, menjadi topik peserta yang punya hobi sepak bola. Dia merasa dirinya pemalu, dan sadar kalau belajar bahasa asing, rasa malu ini harusnya dienyahkan jauh-jauh.  Dan bola ini menjadi salah satu alternatifnya. Tahun lalu dia lolos seleksi untuk ikut pertukaran pelajar dan hidup selama setahun di Yogja. Hobinya suka  main bola ini membawa kemajuan dalam berinteraksi dengan teman-teman Indonesianya. Dia bahkan diberi nama Indonesia.

Dan tahun ini pemain sepak bola ada yang datang masuk dalam klub sepak bola Jepang. Menurutnya, dengan adanya pertukaran pemain seperti ini, tidak hanya membawa kebaikan dalam dunia persepak-bolaan saja, tetapi dia optimis, akan membawa perubahan yang besar antara Indonesia dan Jepang.

Menyentuh Bahasa Indonesia dalam kehidupan Jepang ini salah judul pidato yang berbicara tentang bagaimana usahanya untuk belajar Bahasa Indonesia selain yang didapat di bangku kuliah. Dengan cara mendatangi simpul-simpul kumpulnya orang Indonesia, misalnya restoran-restoran Indonesia, dia mencoba mengasah kemampuan untuk menyimak percakapan dari native Indonesia secara langsung.

Tokoh salah suatu novel yang ditulis oleh Pramudya Ananta Tour ini menginspirasi seorang peserta untuk bercerita bahwa keceriaan itu harus dicari, untuk menyebarkan virus positif bagi dirinya yang sedang dirundung kegelisahan. Dia merasa galau menghadapi dunia kerja yang tidak lama akan dialaminya dan kesiapan mental terjun ke masyarakat.

Beberapa hasil karya sastra Indoensia juga sudah diterjemahkan dalam bahasa Jepang. “Laskar pelangi”, termasuk baru, sedangkan karya Pramudya ini sekitar 8 tahun yang lalu sudah diterjemahkan. Dengan begitu besar harapan Indonesia bisa lebih dikenal melalui karya-karya sastra besarnya.

13847326902087626349

Sebagian dari semua orang yang terlibat dalam acara ini

13847328371647397168

Diantara yang hadir, ada 3 kompasianer yang sempat juga kopdar kecil-kecilan (kanan ke kiri: penulis, mba Yanti Bebadra Nayaka, mba Meta Astuti)

Di antara orang-orang yang hadir, ada kegembiraan tersendiri di hati penulis, “Kompasiana” masih bisa bergaung di sini. Bagaimana tidak, di seberang laut pun, 3 kompasianer sempat bikin kopdar kecil-kecilan. Ada Bebadra Nayaka (mbak Yanti) dan Paras Tuti yang sedang studi. Juga mbak Meta Astuti yang sedang mendampingi suami dalam tugasnya datang dari Tokyo. Senang sekali.

“Indonesia, Aku Masih Tetap Mencintaimu”, bagaimana pun juga bentuk dan rupa Indonesiaku ini aku tetap mencintaimu. Bait demi bait dalam puisi karya Ahmadun Yosi Herfanda ini, sanggup mengambangkan air mata di pelupuk mata penulis, di akhir pembacaan lomba puisi oleh peserta urutan terakhir.

Mereka semua yang hadir, terutama pembelajar Bahasa Indonesia orang Jepang, sedang melihat Indonesia seutuhnya dalam skala mini. Mereka mendengar, menikmati hidangan, dan berinteraksi dengan segala apa pun yang berbau Indonesia. Segalanya tentang Indonesia dengan segala sisi positif dan negatifnya. Biarlah mereka memilih, jika sisi negatifnya sempat tertangkap oleh mereka, tetapi jika mereka tetap mau menengoknya, itu tanda bahwa Indonesia masih memiliki daya tarik tersendiri untuk mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s