Menyoal Komunikasi Antarbudaya dan Pemahaman Lintas Budaya

Sekilas kedua istilah dalam judul ini mirip dalam pemaknaannya. Komunikasi Antarbudaya (異文化間コミュニケーション), lebih dikenal dengan Interculural Communication (IcC), berbeda dengan Pemahaman Lintas Budaya (異文化理解) atau Cross Cultural Understanding (CCU). Untuk selanjutnya, penulis akan pakai istilah IcU dan CCU.

Yang membedakan keduanya adalah berikut. Kajian Komunikasi Antarbudaya (IcC) lebih menekankan pada proses bagaimana jalannya sebuah komunikasi ini berlangsung yang sebelumnya sudah diawali dengan pemahaman perbedaan antarbudaya. Sedangkan kajian Pemahaman Lintas Budaya (CCU), menekankan pemahaman pada perbandingan perbedaan budaya

Untuk lebih jelasnya, penulis akan memberikan ilustrasi sebuah percakapan yang berkaitan dengan ungkapan pernyataan maaf dan pernyataan terima kasih. Untuk menyatakan terima kasih dalam bahasa Indonesia, diungkapkan dengan menggunakan kosa kata “Terima kasih”. Tidak demikian dengan Bahasa Jepang. Pernyataan terima kasih ini bisa diungkapkan selain dengan dengan “Arigato” yang berarti “terimakasih”, juga menggunakan kosa kata “sumimasen”, yang berarti “maaf”.

Dalam pandangan budaya Jepang, jika dalam suatu komunikasi si pembicara mengucapkan kata “sumimasen”, maka si pembicara tersebut, merasa telah mendapatkan suatu perlakuan yang menguntungkan dari pihak lawan. Dan pada umumnya mereka berpikir, jika satu sisi mendapatkan keuntungan, maka pihak yang lain ada yang telah dirugikan. Dengan kata lain, si pembicara merasa sudah merepotkan atau membebani lawannya bicara. Karena itu, “sumimasen” ini juga digunakan untuk menyatakan rasa terima kasih selain meminta maaf.

Dan tentu saja beban itu juga berjenjang dan juga tergantung siapa lawan bicaranya sesuai dengan situasi dan konteks isi percakapan. Jika masih dekat hubungan kekerabatnya atau hubungan sosialnya, biasanya bisa digantikan dengan kata “gomen nasai” atau kata “gomen”.

Jadi, “sumimasen”, selain untuk menyatakan “maaf”, bisa juga untuk menyatakan terima kasih. Sedangkan bahasa bahasa Indonesia, kosa kata “maaf”, tidak lazim digunakan untuk menyatakan “terima kasih”. Walaupun pada sebagian orang juga ada yang menggunakannya. Perbandingan seperti demikian, masuk dalam kajian Pemahaman Lintas Budaya (CCU).

Sedangkan, bagaimana dan apa yang terjadi pada saat komunikasi yang diawali dengan pemahaman perbedaan antarbudaya ini terjadi, masuk dalam kajian Komunikasi Antarbudaya (IcU). Misalnya, bagaimana pembelajar bahasa Jepang orang Indonesia ini berkomunikasi dengan native orang Jepang pada situasi percakapan menggunakan ungkapan terimakasih. Misalnya pada percakapan berikut,

駅の近くの道で通りかかりの人(女の人A)と(女の人B)
Percakapan antara dua orang wanita tidak saling kenal, bersama-sama berjalan menuju ke arah stasiun.

女の人A:あのう、駅へ行きたいんですが、。。。
Wanita A: Saya, akan pergi ke arah stasiun,…
(terjemahan bebas: Saya tidak tidak tahu, jalan ke stasiun, bisakan anda beri tahu saya?)

女の人B:私も行きますから、いっしょに行きましょうか。
Wanita B: Saya juga ke arah sana, mari kita pergi bersama.
(terjemahan bebas: Saya juga ke arah stasiun, mari berjalan bersama, ikuti saya)

女の人A:あ、そうですか。すみません
Wanita A: Ooo,..maaf
(Terjemahan bebas: Waah kebetulan nih, terima kasih)

Kalau ditinjau dari pemikiran orang Indonesia, bisa dipastikan tidak ada unsur permintaan maaf, karena merasa tidak merepotkan, toh secara kebetulan juga akan berjalan ke arah stasiun. Jadi jika si pembicara (wanita A ) itu orang Indonesia, kemungkinan besar tidak berpikir jika dirinya merepotkan lawan  bicaranya, karena sama-sama berjalan ke arah yang sama

Jika pembicaraan itu di antara sesama orang Jepang, ada kemungkinan muncul dua pendapat. Selain sama seperti yang dipikirkan kebanyakan orang Indonesia pada umumnya, pendapat yang lainnya juga ada. Yaitu, si pembicara (wanita A) merasa merepotkan lawannya, karena merasa lawannya pasti merasa tidak enak, karena dibarengi, jadi sipembicara merasakan benar-benar merepotikan lawannya. Oleh karenanya tidak memakai kosa kata “Arigato”, tetapi “sumimasen”.

Jadi fungsi “Sumimasen” (arti hafiah: maaf), dalam contoh percakapan itu, untuk menyatakan terima kasih, karena telah merepotkan, dan juga untuk mengantikan ungkapan untuk minta ijin, karena secara tidak langsung telah mengijinkan bersama-sama pergi.

Hal yang seperti inilah yang dinamakanKomunikasi Antarbudaya atau Interculural Communication (IcU), karena ada kajian yang menekankan pada bagaimana dan apa yang terjadi pada saat orang Indonesia yang sedang mempelajari bahasa Jepang berkomunikasi dengan native Jepang.

 

akaike 20131114//5 derj//17:15//Mencoba tuk memulainya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s