Nagoya dari Kacamata Wong Suroboyo

Siapa sih gak berharap disambangi kerabat, terutama orang tua, setelah bertahun hidup dirantau. Bersyukur banget Eyang Ti (ibuku), Eyang Bulik (adik ibuku), dan keluarga Tatun (begitu anakku memanggilnya, karena sejak kecil susah membunyikan kata ‘tante’ pada adikku) bisa datang ke Nagoya ini. Jadilah selama lebih kurang seminggu kami ber 9 hidup di apartemen dengan luas 36 m2.

Kalau di Indonesia pastilah 36 m2 itu kita berpikir, “Aahh masih luas, khan bisa keluar-keluar di teras belakang atau atau teras depan”. Lha, tapi kalau di Nagoya ini, mau kemana? Teras atau beranda, kalau ada pun hanya cukup untuk jemuran baju. Bahkan kalau sudah malam, berbicara agak keras dikit aja kita harus sudah saling “sssttt” sambil telunjuk ditaruh di bibir. Hehehe secara dindingnya yang terbuat dari kayu itu, suara kentut aja bisa terdengar sampai di kuping tetangga. Itu membuat mereka yang datang dari surabaya merasa aneh dan justru pengen ngakak karena ngomongnya sambil bisik-bisik.

Ada beberapa hal lagi yang menurut mereka aneh dan unik selama seminggu ini. Terkadang mulut melongo dan keheranan decak kagum keluar dari bibir mereka. Dan keheranan mereka terkadang sudah gak aku rasakan, karena mungkin aku sudah melebur dalam keseharian orang Jepang. Memang kurasakan kepekaan ini semakin tumpul dalam memahami orang Jepang.

Begitu mendarat, mereka sudah ribut dengan adanya uang yang mereka miliki. Ya, karena tukar uang yang dibawa dari Surabaya ini hanya satuan 10.000 Yen (satu juta rup), mereka pikir harus dipecahkan sebelum digunakan untuk membeli keperluan lain. Esok harinya aku ajak pergi ke Kombini (mini market), dan semua hanya membelanjakan beberapa ratus Yen saja. Yang bikin mereka heran, masing-masing orang membayar dengan uang besar, tetap diterima tanpa penolakan walau hari masih pagi.

Sembari waktu berjalan, mungkin kebiasaan di Indonesia, uang recehan koin, gak dilihat sama sekali. Dan lagi mungkin ribet tidak ada waktu untuk menghafalkannya, uang recehan itu masing-masing orang ngumpul banyak sekali. Dan tentunya ransel mereka bertambah berat, karena digembol kesana kemari. Jadilah aku bertugas untuk mendamping satu persatu orang waktu bayar depan kasir untuk mengurangi uang recehan itu. Kembali ada pertanyaan “lho,..ternyata payu (laku) tho uang 1 yen ini?”

Waktu hari hujan rintik-rintik, aku paksa mereka untuk membawa payung. “Lha wong hujan rintik-rintik aja kenapa mesti bawa payung?” Begitu komentar keponakan usia ABG. Setelah masuk dalam subway, tak terkecuali cowok-cowok ABG, semua mengenggam gagang payung. Pikir mereka kalau ABG cowok bawa payung terkesan gak macho, atau apalah namanya. Tapi kalau di Jepang apalagi kalau suhu dingin, kehujanan dikit aja pastilah sudah flu.

Oleh karenanya, payung itu barang wajib bawa, karenanya jarang terlihat satu payung berdua. Bukannya tak mau romantis atau share tapi ternyata takut basah yang bisa bikin sakit.  Dan kebiasaan selalu melihat Ramalan cuaca yang jadi kewajiban sebelum keluar rumah ini mereka komentari. “Emang bisa dipercaya kah?” Ada keraguan di raut muka mereka. Eehhh, ternyata tepat lhoo. Ramalan berbunyi setelah jam 12 siang hujan akan reda, tapi sekitar jam 16 akan turun lagi.

Mencoba Shinkasen (bullet train) juga sesuatu yang wajib, tapi karena tiketnya yang selangit, aku sarankan untuk ambil rute terdekat, yaitu Kyoto-Nagoya yang hanya ditempuh dalam 35 menit (kecepatan 300km/jam), padahal kereta yng biasa bisa sampai 3,5 jam. Harga yang ada seat number, sekitar 5700 Yen, yang tanpa seat number 5000 Yen, yang anak-anak 50%. Karena membelinya di mesin tiket, gak sempat lagi ngecek anak-anak itu sampai usia berapa. Aku katakan jangan kuatir terkena denda, kita bisa kok bayar kekurangannya di atas kereta. Lagi-lagi mereka keheranan.

Mencoba restoran Jepang yang sedikit berkelas dan yang sekelas warteg adalah salah satu agenda penting, terutama yang suka wisata kuliner. Seorang Waitress itu berjongkok waktu kita meminta disediakan sendok, maklum gak terbiasa gunakan sumpit. “Sangat merendahkan diri ya” komentar eyang-ti anakku. Bukan!, mereka bukannya akan merendahkan diri atau bersikap sopan santun. Tetapi orang Jepang yang sedang bekerja dalam bidang jasa itu, hanya merasa lebih dekat saja jika berjongkok dan mendekat dengan pelangannya. Tidak ada tujuan yang lain.

Satu lagi yang membuat mereka terheran-heran. Dimana-mana terlihat orang-orang tua terbungkuk-bungkuk berjalan sendiri. Itu membuat miris kita melihatnya. Tetapi setelah aku katanya, bahwa dengan berjalan sendiri, fungsi otak dan kerja otot masih diajak gerak, menjadikan orang Jepang ini tetap sehat. Mereka manggut-manggut, tetapi bagaimana pun juga bayangan kesepian orang-orang tua itu, aku yakin masih juga bergayut. Karena dalam benak mereka yang datang dari Indonesia ini,  biasanya mereka masih dipenuhi kehangatan anak, cucu dan kerabatnya sampai masa tuanya.

“Lho ternyata wong mbambung ini juga ada to” Begitu komentar mereka setelah aku tunjukkan seorang homeless berjalan di sekitar Stasiun Nagoya. Kenapa ada juga, walau di negara maju seperti Jepang ini, pikir mereka. Ya, ada banyak tujuan kenapa orang Jepang itu menjadi homeless. Salah satunya adalah keterbebasan dari rutinitas hidup yang keras, setelah usia pensiun. Karena selama usia produktifnya, bertahun-tahun lamanya rutinitas kehidupan keras telah membelitnya.

Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu perbedaan pada mereka yang datang hanya dalam waktu singkat ke Nagoya ini. Dan perbedaan itu yang ingin aku jadikan alat penyadar bagi aku pribadi. Bagaimana pun juga negara maju yang menurut sebagian orang Indonesai itu hampir sempurna, ternyata banyak juga kekurangannya. Dan Bangsa kita yang sedang kethimik-kethimik maju bersaing di kancah dunia, ternyata juga banyak yang bisa dibanggakan.

13841364432093584860

Berpose dengan tokoh samurai di Okazaki Castle Park

1384136780642972856

Fushimi Inari Shrine Kyoto

Akaike 2013 11 11, 13:10, aahh suhu tertinggi masih juga tidak lebih dari 13 derj,..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s