Contoh Kasus Video Porno (?) Siswa SMP di Jepang

Tergelitik dengan tulisan teman kompasianer  dr Posma: Tekankan ke anak perempuan anda: Sex is privacy, rasanya jari ini gatal untuk tidak segera menyentuh tuts komputer.

Teringat obrolan dengan Kawaoka san beberapa waktu lalu. Dia teman waktu masih kuliah di Aichi Univ of Education 3 tahun lalu. Sekarang guru SMP di pusat kota Nagoya. Salah satu obrolan kami adalah, salah satu siswanya terkena kasus video porno. Samakah dengan kasus yang ada di Indonesia, bagaimanakah kasus video porno di Jepang ini. Pastilah marak dan tak ada beda dengan kasus-kasus video mesum yang ada di Indonesia. Apakah benar demikian?

Di Jepang pengambilan gambar, baik rekaman video ataupun foto dengan cara mencuri-curi adalah termasuk kasus tindakan kriminal dan dendanya cukup besar. Alasannya, karena tidak terikat perjanjian antara yang diambil gambarnya dan si pengambil gambar. Jadi, yang banyak ditemui dalam keseharian mereka itu bisa dipastikan semuanya legal.

Dalam arti, baik foto model ataupun pihak produksernya terikat pada suatu hukum yang jelas. Terus bagaimana dengan respon sosial masyarakatnya? Selama pihak-pihak yang ada dalam perjanjian saling menyetujuinya, tidak akan ada muncul kata pornografi. Silakan baca: Bagi orang Jepang, Bugil Tidak Mesti Malu

Lha wong properti yang berhubungan alat kelamin seperti patung, gambar dalam komik, foto dalam majalah bisa didapat dimana saja, semuanya terjangkau untuk kantung anak sekolah sekali pun. Bahkan di sebuah rumah ibadah pun, silakan baca ini:  Patung Alat Kelamin Ciri Khas Kuil Tagata. Jadi, tidak ada istilah pornografi yang artinya sama seperti dalam Bahasa Indonesia. Semuanya terbiasa saling melihat alat kelamin.

Tidak akan ada perampasan hal-hal yang berbau porno seperti anggapan orang Indonesia pada umumnya di sekolah-sekolah. Kalau pun ada itu tujuannya bukan untuk menghadang lajunya penyebaran sesuatu yang berbau mesum dan porno, tapi lebih kepada pada alasan menggangu jalannya sebuah aktivitas, misalnya kegiatan belajar mengajar.

Mereka dalam kesehariannya lekat dengan yang namanya alat kelamin selain milik dirinya. Misalnya, anak-anak sampai usia kelas 2-3 SD masih mandi bareng dengan orang tuanya. Jadi melihat alat kelamin orang dewasa itu, sangat biasa bagi mereka. Silakan baca Saat mandi bersama

Pernah aku tanya teman cewek kampus, sampai usia berapa mandi bersama orang tuanya. Dia anak tunggal sangat dekat dengan bapaknya, sampai kelas 4 SD, masih mandi berendam bersama bapaknya. Menurutnya, sampai sekarang menjadi kenangan yang indah dan dia yakin masih terus kebawa saat nantinya berkeluarga.

Dan memang gambaran keluarga harmonis di Jepang adalah, setelah malam tiba, semua pulang dari kegiatan masing-masing, makan malam bersama. Setelah itu tugas ibu membereskan dapur dan menyiapkan untuk kegiatan esok harinya. Dan tugas ayah adalah memandikan anak-anak.

Saat mandi bersama itulah yang paling ditunggu-tunggu. Sehingga ada suatu sindiran dalam sosial masyarakat Jepang, jika ingin mengetahui keharmonisan suatu keluarga muda, intiplah bath up nya. Jika tergeletak beberapa mainan dari karet bentuk bebek-bebekan, atau kapal-kapalan, itu salah satu tanda keluarga ideal.  Hehehe,.. beda banget dengan yang ada di Indonesia ya.

Bercengkerama, saling menggosok punggung, membersihkan badan, dan setelah itu berendam. Komunikasi hari itu akan berakhir setelah mentas dari bak berendam, anak-anak berangkat tidur, orang tua masih lanjut mengobrol. Apa karena alasan ini ya, selama bertahun hidup di sini aku tidak pernah mendengar kasus pemerkosaan bapak terhadap anak kandungnya.

Kembali menyoal kasus terjadinya video mesum itu. Ada suatu persepsi beda pada kata “kasus” ini dengan yang terjadi di Indonesia. Kasus yang terjadi pada murid Kawaoka san ini, lebih pada pelakunya yang merasa kecolongan. Karena beredarnya video tersebut tidak ada hitam di atas putih sebuah perjanjian.

Murid Kawaoka san ini awalnya hanya ingin menunjukkan sesuatu yang membuatnya bangga, karena teman lainnya tidak bisa mengerjakannya. Yaitu, adegan dada terbuka, tangan kiri menutupi payudara dan merekamnya dengan tangan kanan. Terlihat tayangan sesaat, rekaman gambar payudara yang seolah mengintip dari sela-sela jari, dilihat dari beberapa sudut pengambilan sebatas tangan kanannya bisa menjangkau. Dari segi artistiknya bagus sekali untuk pemula.

Dan dia posting dalam suatu media jejaring sosial, niatnya hanya untuk diperlihatkan pada temannya satu kelompok. Mungkin karena ketidak tahuannya akan IT, secara tidak sengaja dia share ke umum. Jadilah heboh sekolah itu. Pihak sekolah dan komite sekolah saling menyalahkan, kurangnya pengajaran yang berkaitan dengan IT menjadi pokok pembahasan. Karena sebagian orang tua beranggapan jika anaknya paham IT, pastilah rekaman payudara itu tidak perlu menyebar kemana-mana.

Jadi hebohnya kasus itu, bukan adegan payudaranya yang terlihat, tapi lebih pada efek negatif akibat ketidak-tahuan pada IT. Inilah bedanya, contoh kasus video anak SMP yang dianggap mesum antara Indonesia dan Jepang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s