Patung Alat Kelamin Ciri Khas Kuil Tagata

Sebenarnya sejak kemarin, mau posting tulisan ini ada keraguan dalam hati. Karena lazimnya sebuah repotase, untuk memperkuat cerita, diperlukan gambar pendukung. Dan semoga foto-foto yang aku posting ini tidak menjadikan hal yang bisa memancing munculnya pro kontra yang dari dulu tak juga berujung.

Betapa tidak, semua properti yang ada dalam area kuil ini berbentuk alat kelamin laki-laki. Mulai patung raksasa bentuk alat kelamin yang biasa diarak setahun sekali, genta yang dibunyikan setiap kali ada pengunjung yang akan masuk alam keheningan, pagar pembatas dan hiasan-hiasan berbagai bentuk dan warna patung, semunya berbentuk alat kelamin tanpa terkecuali. Reliefdi tamannya juga terbuat dari batu yang mirip dengan alat kelamin.

13823646141367551941

Pagar bentuk alat kelamin (foto dok pribadi)

Pro kontra yang saya maksud di atas adalah, pro kontra terhadap sebuah kata yang berbunyi “porno”. Akhirnya aku putuskan untuk memostingnya, dengan harapan pembaca akan mengambil sisi yang beda. Karena aku pikir, hal ini hanya berkaitan dengan naluri kealamiahan suatu kelompok suku bangsa, bukan terkait pada suatu keyakinan tertentu.

Kuil Shinto Tagata, berada di kota Komaki, sebelah utara Nagoya. Kota Komaki jika ditempuh dengan subway dan Meitetsu line, kira-kira makan waktu 1 jam 10 menit dari stasiun tempat aku tinggal. Kuil ini terdiri dari dua bagian. Bagian depan sebagai bangunan utama, berseberangan dengan tempat para Miko (perempuan muda yang bekerja di kuil) melayani pengunjung yang datang untuk berbagai keperluan berkaitan dengan pemberkatan.

1382362707519846695

Bagunan utama kuil Tagata (foto dok pribadi)

1382364771866898043

Bangunan samping dari Kuil Tagata (foto dok pribadi)

13823630861831550585

Tempat Miko melayani pengunjung (foto dok pribadi)

Hari Sabtu minggu lalu, saat aku pergi ke kuil Tagata bertepatan dengan acara shichi go san, yakni, acara pemberkatan anak-anak usia 7, 5, dan 3 tahun. Mereka datang bersama keluarga dan kakek neneknya untuk mendapatkan pemberkatan kesehatan lahir dan batin. Lucu sekali, sambil megal megol memakai kimono para gadis dan jejaka cilik ini berjalan siap diberkati. Melihat kebahagiaan mereka dan kelucuan mereka, tak habis-habisnya aku tersenyum.

13823637101567061795

Pengunjung shichi go san yang siap diberkati, melempar uang ke dalam kotak (foto dok pribadi)

Yang bikin aku terheran-heran, mereka tidak terheran-heran sama sekali ketika melongok bagian dalam sisi kiri dari bangunan kuil. Reaksi mereka biasa saja ketika melihat patung alat kelamin laki-laki kira-kira sepanjang 4 m, diameter 50 cm. Sesudah melempar dan membunyikan genta, mereka mempertemukan kedua tangan dan menundukkan kepala beberapa menit.

138236687112148184

Khikmad menundukkan kepala, hanya berjarak 5 m di hadapan mereka ada patung berbentuk alat kelamin (foto dok pribadi)

1382364871204377803

Patung yang bentuknya lebih kecil ini juga diarak (foto dok pribadi)

Di sisi bagian dalam sebelah kanan berderet 5 patung sebesar 40 cm diameter 10 cm. Katanya waktu arak-arakan acara tahunan, masing-masing patung itu dibopong seorang wanita dewasa untuk memberikan kesempatan pada para pengunjung untuk menyentuhnya. Kebanyakan orang-orang yang datang ke kuil ini bersangkutan dengan keinginan memiliki momongan atau ingin bahagia sebagai layaknya seorang laki-laki dewasa yang normal dalam kehidupan seksual

13823631621898541088

Pengunjung dari segala lapisan usia (foto dok pribadi)

13823632121137996890

Genta yang berbetuk alat kelamin (foto dok pribadi)

Di bangunan belakang dari kuil, ada tempat untuk memajang berbagai bentuk dan warna patung alat kelamin ini. Ada 2 patung yang besar, dan yang satu diletakkan agak menjorok ke depan supaya pengunjung bisa mengelus-elus. Aku perhatikan sampai-sampai kayunya seolah mengkilat karena elusan yang beribu-ribu kali dalam seharinya.

13823645362027128937

Bebagai bentuk patung alat kelamin yang dipajang di bangunan kuil bagian belakang (foto dok pribadi)

Di sisi kanan bangunan belakang kuil ada taman yang tidak seberapa luas, di situ dari kejauhan tampak ada dua bola yang juga halus mengkilat. Penjelasannya ada di papan sebelahnya, dua bola itu adalah simbol dari buah pelir dan di belakangnya ada semacam gua menggambarkan liang vagina. Dijelaskan di situ, siapa saja jika mengelusnya akan menimbulkan perasaan adem yang bisa membawa kebahagiaan.

13823644081814727664

Penggambaran liang vagina dan buah pelir (foto dok pribadi)

Sempat aku perhatikan, sikap mereka yang menundukkan kepala itu. Apakah itu bisa dinamakan berdoa atau tidak, yang jelas dengan tahapan sebuah perenungan beberapa saat, mereka seperti bemeditasi untuk instropeksi diri. Pada saat perenungan itu, perlu alat untuk membantu mereka berkonsentasi. Pada kuil ini, yang dipakai sebagai alat konsentrasi itu adalah patung berbentuk alat kelamin.

Seiring dengan rasa penasaran itu aku mencoba mengamati perilaku beberapa beberapa pengunjung. Ada wanita yang mengelus perutnya, ada juga yang mengajak bayinya untuk menjulurkan tangannya ke arah patung, sembari mengusap-usap patung alat kelamin bagian atasnya. Raut muka mereka menunjukkan rasa bahagia. Ada laki-laki dewasa dan juga anak laki-laki yang digandeng ayahnya untuk menundukan kepala. Raut muka mereka menunjukan sebuah harapan.

Mereka berharap untuk menjadi bahagia pada sesuatu yang besar diluar dirinya. Dan mereka membutuhkan media untuk menyalurkan harapannya, rasa syukurnya, dan rasa bahagianya. Kuil Tagata ini menyediakan patung bentuk alat kelamin sebagai media untuk menyalurkan perasaan yang paling mendasar dari diri seorang manusia.

Mereka mementingkan kelamiahannya. Alat kelamin manusia adalah bagian dari alam. Jadi memajang dan memandangnya bukanlah hal yang tabu. Alat kelamin dianggap salah satu sumber kebahagiaan. Jadi hal yang wajar sekali, jika patung bentuk alat kelamin itu mereka jadikan sebagai media peluapan rasa bahagia dan alat untuk menumbuhan sebuah harapan.

Sepulang dari kuil ini, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau patung-patung itu dipajang secara umum dan semua orang boleh memandang sepuasnya. Dan siapa saja boleh mengelusnya tak terbatas pada laki-laki, perempuan, dewasa dan anak-anak ini. Jika hal ini ada di daerah yang orang-orang tidak menganggap alat kelamin itu bagian dari alam apalah jadinya.

Apakah karena salah satunya adanya alasan seperti ini ya, kenapa alasan orang yang menikah itu benar-benar ingin hidup bersama dengan orang yang dicintainya. Jadi mereka berpendapat, menikah itu bukan sebagai tanda pengesah untuk berhubungan badan.

Jadi semakin nyadar, kalau nilai-nilai dari suatu moral, budaya dan akar pikir itu, tergantung banget pada kepentingan si pemberi nilai. Karena hal itu yang dipandang tidak pantas di sana, tetapi di belahan bumi lain, dianggap sebagai hal-hal yang biasa saja. Semua berpulang pada penilaian masing-masing. Dan kita hanya bisa mengeluarkan satu jurus, jika dirasa, batin kita bertentangan dengan mereka. Kita hanya bisa melakukan saling menghormati pada nilai yang mereka miliki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s