Pendar Lampion Hachimansha

1382276911256502354

Hachimansha Aki Matsuri, Festival Musim Gugur (foto dok pribadi)

Ooohhh cantiknya, pendar sinar ratusan lampion itu sebagai petanda bahwa musim panen telah usai. Untuk mengucapkan rasa syukur, masyarakat daerah Miyoshi, 25 km ke arah timur dari pusat Nagoya setiap tahunnya mengadakan Aki Matsuri, festival musim gugur. Diadakan tiap Sabtu dan Minggu ketiga bulan Oktober.

Pada masing-masing daerah berbeda tata caranya disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat. Biasanya ada semacam arak-arakan Omikoshi, kereta yang dikeramatkan diarak seluruh kampung. Ada suatu keyakinan jika, rumahnya dilewati arak-arakan, akan aman dan tentram.

Daerah Miyoshi, karena terbagi atas 2 desa, disebut Kami Miyoshi (Miyoshi bagian atas) dan Shimo Miyoshi (Miyoshi bagian bawah), maka festivalnya dibuat seolah-seolah ada dua kubu yang saling bersaing. Masing-masing daerah memiliki arak-arakan yang merupakan kebanggaan dari masyarakat pendukungnya.

13822772731113545190

Arak-arakan dari kubu Kami Miyoshi (foto dok pribadi)

Konon ceritanya, awalnya dulu sekitar 100 tahun lalu, untuk membuat persaingan sehat antar desa, dibikinlah arak-arakan itu untuk saling berlomba meningkatkan hasil panen pada tiap tahunnya. Tidak hanya secara fisik untuk menunjukkan siapa yang paling kuat atau paling semangat menghidupkan lampionnya, tetapi juga untuk menumbuhkan spirit perjuangan terutama dalam bidang pertanian untuk menghasilkan panen yang lebih berlimpah dari tahun sebelumnya.

Urutan kegiatan dalam festival ini, dimulai dari hari Sabtu mengeluarkan kereta besar yang akan diarak kesesokan harinya. Berat sekali, satu kereta itu di tarik sekitar 40 orang laki-laki dewasa. Dikeluarkan, dirakit, dan dibersihkan. Kemudian dipasangi lampion yang siap dinyalakan esok harinya.

13822774602069502689

Bagian belakang pun terlihat berat, seperti mengikuti kemudi yang bertugas menarik di bagian depan (foto dok pribadi)

Besoknya, sekitar jam 4 sore, pelataran kuil Shinto Hachimansha sudah seperti pasar malam. Ramai sekali dan berbagai stand dadakan didirikan. Misalnya stand jual topeng, buah segar yang dilumuri sirop, menyerok ikan mas, yaki soba, sosis-kentang bakar dlsb.

1382277643401857674

Stan jual Takoyaki (foto dok pribadi)

Menjelang petang, api yang menjadi sumber untuk menyalakan lampion mulai dihidupkan, dan sebelumya diberkahi dulu oleh pimpinan kuil. Satu persatu lampion yang telah terpasang hari sebelumnya dinyalakan dengan api itu. Kedua desa itu saling berlomba, siapa yang paling cepat untuk menyelesaikan menyalakan lampion dan menancapkannya di bagian atas kereta.

1382277813286088335

Api sumber untuk menyalakan lampion (foto dok pribadi)

Masing-masing kereta ada sekitar 200 lampion. Ternyata tidak semudah yang aku kira. Kalau tidak konsentrasi, bukan bagian tengah lampionnya menyala, justru keseluruhan lampion ikut terbakar. Belum lagi harus menancapkan pada atas kereta dan harus diperiksa betul-betul kuat menancapnya. Karena akan diarak dengan medan yang naik turun. Jadi memang diperlukan konsentrasi dan kerja sama yang baik sesama kelompok. Dan cukup berbahaya, karena yang dipasang bukan lampion buatan seperti gambar di bawah ini. Oleh karenanya regu pemadam kebakaran dan polisi selalu siap siaga.

13822779891073987481

Lampion modern, nyala dengan bateray (foto dok pribadi)

Setelah itu baru di arak. Dari dua kereta itu yang lebih dulu selesai menyalakan lampionnya, maka kereta dari desa yang menang itu yang jalan lebih dulu. Setelah dinyatakan sah dan diberkahi untuk tolak bala, mulailah kereta ditarik dengan tampar besar. Dan digerakkan oleh puluhan orang diiringi tabuhan semacam beduk-beduk kecil dan seruling. meriah sekali

1382278180606607894

Kiri: kostum petinggi kuil. Kanan: kostum penarik arak-arakan kereta Mikoshi (foto dok pribadi)

13822782611715341499

Kostum penggembira, penabuh beduk (foto dok pribadi)

Pada saat itu, dua hari, dua malam, semua orang desa itu terlibat. Perhatikan baju yang dipakai, sepatu dan hiasan-hiasan yang dipasang. Semuanya mengandung simbol dari kehidupan manusia. Api untuk membakar sawah setelah panen dan siap untuk menyambut untuk waktu tanam. Jerami yang dipakai sandal, menyiratkan bahwa yang tadinya tidak ada harganya pun menjadi bernilai jika dimanfaatkan dengan baik. Saling berlomba menyalakan lampion pun sebagai tanda bahwa manusia itu harus semangat dan saling berlomba secara sehat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s