Haji Mabrur…??

Terus terang, sampai sekarang pun aku tidak bisa tangkap dengan baik maksud istilah itu. Mungkin aku perlu kamus khusus untuk bisa memaknai kata itu. Sudah berbulan-bulan aku menginjakkan kembali ke dunia realita pun, kaki ini terasa masih di tanah Mekkah. Berbeda dengan kesan Madinah kota yang fashionable, cantik, lebih bersih dan penduduknya lebih terbuka. Bagaimana pun juga kerinduan dan angan-angan masih terpaku pada Mekkah yang sangat beridentitas karena adanya Ka’bah ini.

Tidak salah jika banyak orang yang merindukan untuk kembali lagi ke sana. Yang masih terasa sampai sekarang, ada suasana romantis saat menangis menatap Ka`bah dan seakan Allah merengkuhnya, mewadahi semua keluh kesah. Walau sudah ada yang berkali-kali pergi ke sana, aku tetap merasa yakin, tiap orang akan berbeda persepsi dan berbeda akan rasa yang ada didalam hati ini.

Yang terasa aneh, kami ini yang sudah bertahun hidup jauh dari tanah air, tapi kok ya tetap saja, seperti ada sesuatu yang istimewa dari kota Mekkah ini. Padahal kalau di pikir khan ya sama-sama negara asing bagi kami, tidak beda dengan Nagoya, misalnya tempat tinggalku sementara ini.

Kali ini, aku ingin mengeluarkan penasaranku dengan gelar ‘Haji’ atau ‘Hajjah’, gelar yang melekat setelah orang melakukan prosesi ibadah Haji. Aku menganalogikan sebutan itu, sama waktu aku selesaikan tahap pendidikan dalam kehidupan. Rasanya gak ada yang berbeda dengan kemarin-kemarin waktu gelar itu belum nancap di depan atau di belakang namaku.

Yang membedakan hanyalah, saat sekarang sudah bisa cerita tentang pengalaman pada waktu prosesi ibadah berlangsung. Karena mengalaminya sendiri, itu saja, tidak ada yang lebih.

Dulu sempat terpikir, apa kalau sudah dilabeli Haji Mabrur itu, tangannya bisa menjadi banyak, sehingga bisa menolong siapa aja yang memerlukan bantuan. Ataukah matanya bisa berubah menjadi filter secara otomatis jika melihat hal-hal yang sewajarnya tidak perlu dilihat. Atau kah kuping ini akan terus mengajak otak untuk mendengar ayat-ayat suci dan ceramah-ceramah agama yang dilontarkan dari bibir seseorang.

Tentu bukanlah itu yang dimaksud, karena sepertinya si setan itu bukannya menjauh dari orang-orang yang bergelar Haji ini. Tetapi justru akan tetap bahkan mendekat, karena dianggap pengalaman spiritualnya sudah meningkat.

Berbagai pertanyaan menggelayut dalam kepalaku. Terus terang aku hanya pemeluk Islam yang biasa, yang tidak bisa baca Alquran dengan fasih. Tidak hafal banyak doa, kadang sholat juga didobel walau walau genap 5 kali dalam sehari. Pada waktu ramadan juga banyak batalnya, karena kondisi tubuh yang tidak sebanding dengan alam negara ini.

Ada juga yang ngomong, kalau selama waktu menjalankan ibadah rukun Islam ke 5 ini lancar-lancar aja pertanda selama hidup kita di dunia ini sudah baik. Oleh karenanya tidak perlu diingatkan Allah dengan berbagai macam ujian selama waktu menjalankan prosesi ibadah Haji.

Setelah melakoninya sendiri, ternyata kelancaran itu juga tidak berhubungan dengan Mabrur atau tidaknya seseorang dalam menjalankan ibadahnya. Bagi yang bisa berangkat melalui fasilitas yang tidak biasa, misalnya ONH plus, tentu bisa lancar. Terutama tranportasi, sehingga bisa tepat waktu untuk berpindah dari Mekkah ke Mina, balik lagi ke Mekkah dan ke Medinah, dan yang terakhir ke bandara terakhir keluarnya dari Negara Arab Saudi

Terus apakah yang dinamakan Mabrur itu? Ada berbagai pertanyaan yang terselip saat si burung besi ini membawaku ke dunia realitaku. Masih juga jauh dari tanah airku, pastilah yang tidak akan aku temui satu pun kata-kata Mabrur tertulis di spanduk besar yang menyapa begitu mendarat.

Tanya itu aku biarkan sampai detik ini, setahun persis berlalu. Supaya menjadi momentum pengingat, bahwa harus ada perilaku yang membaik dari sebelum menunaikan ibadah haji.

Harusnya ada perubahan yang tertuang dalam perilaku keseharian. Itu tekad dan niatku. Yang biasanya sembahyangnya molor jadi lebih tepat. Yang biasanya suka ngomongin orang, jadi lebih bisa untuk mendiskusikan menjadi baik bukan tuk menjelekkan. Yang biasanya kerap berselisih dengan pasangannya dan anaknya, jadi bisa lebih sabar dan menerima dengan ikhlas. Yang biasanya teriak-teriak menjadi lebih kalem.

Bukan trus berbalik 180 derajat sehingga bisa membebani seseorang. Misalnya lontaran-lantaran seperti ini, “Padahal dia udah haji lhooo”. Sehingga terkesan banyak tuntutan-tuntutan, yang kadang membuat hati menciut tanda tidak cukup bagi calon haji sehubungan dengan persiapan hati untuk melakukan ibadah ini. Dengan kata lain adanya suatu perubahan dalam perilaku menuju kebaikan, ini sudah cukup walau hanya sedikit di mata orang lain.

Aku pikir sebetulnya sama dengan ibadah yang lain. Sama seperti ibadah puasa, diri kita belajar tuk menjadi pribadi yang lebih bagus lagi, digembleng selama sebulan untuk bekal hidup setahun.

Sama juga ibadah salat lima waktu, ada pengemblengan selama 5-10 menit untuk bekal hidup selama sehari. Kalau ibadah haji ini, digembleng untuk mengikuti apa-apa yang sudah dilakukan oleh Rosul dan Nabi utusan Allah. Sehingga hati kita bergetar dan berniat menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya untuk selama hidupnya. Baru nyadar juga kenapa hanya ada kewajiban sekali dalam seumur hidup.

Semoga menjadi Haji Mabrur…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s