Kualitas Manusia Jepang Menurun (?)

Disela-sela pindah dari stasiun ke stasiun, dari halte ke halte, sebuah buku biasanya tidak lepas dari tanganku. Dibaca ga dibaca, ayem rasanya kalau ada buku bacaan atau notes kecil di tanganku. Suatu hari, ketika aku harus berangkat mengajar privat kelas Bahasa Indonesia, naik taksi. Mungkin agak capek, buku itu aku pegang tanpa membukanya. Karenanya pengemudi taksi itu berani membuka percakapan.

Usianya tengah baya sekitar 65 tahun. Aku lirik identitas yang tertulis besar di belakang jok. Selain nama dan nomer lambung taksi, tertulis juga hobi dan asal. Oke juga nih ide pengusaha taksi ini. Cocok dengan karakter orang Jepang, yang susah untuk memulai obrolan. Pasti pengelola taksi ini orang yang paham tentang ilmu budaya.

Dengan adanya ID itu, penumpang yang ingin memulai pembicaraan tapi tidak menemukan jalan untuk masuk ke sebuah obrolan, ID ini bisa dijadikan umpan obrolan. Tertulis di ID itu, hobinya berteman dengan orang asing dan bermain golf. Hebat ya, jarang lhoo, orang Jepang yang punya hobi berteman, apalagi dengan orang asing.

“Ke perusahaan SNG itu, anda bekerja kah?” Pengemudi taksi itu memulai pembicaraan.

“Bukan aku pelajar asing, jadi hanya seminggu sekali untuk mengajar Bahasa Indonesia. Beberapa karyawannya akan dikirim ke Indonesia” jawabku.

“Oooo,…”dengan mencuri-curi mukaku dari kaca spion depan, dia merespon penjelasanku.

“Untuk apa anda belajar di sini? Di negara ini sudah tidak ada tempat untuk menuntut ilmu yang baik. Menemukan anak-anak muda yang berkualitas di negara ini seperti mencari jarum dalam jerami” Dia bicara menggebu-gebu, sepertinya ingin mengeluarkan semua kekecewaannya.

Setelah mengawali pembicaraan itu, aku biarkan dia cerita, sambil sesekali aku merespon sampai tak terasa 25 menit berlalu dan aku harus turun. Rupanya pengemudi taksi itu kecewa, dia merasakan kualitas manusia Jepang, semakin hari semakin semakin menurun.

Sampai seberapa jauh menurunnya kualitas itu? Dan kalau dipikir-pikir, ini hanya obrolan ringan dengan seorang pengemudi taksi. Tapi tak ada salahnya aku coba melihat sekelilingku pada tiap harinya. Yang dikatakan pengemudi taksi itu benar adanya. Jika mahasiswa Jepang itu terkesan masuk ruang kuliah untuk tidur. Tidak semuanya sih.

Kenapa begitu? Jika ada ungkapan “Masuk susah, kalau sudah nyaman di dalam, keluarnya mudah”. Itu gambaran betapa perlu perjuangan mulai jenjang TK sampai masuk PT, hanya tujuan untuk mendapatkan jaminan diterima di perusahaan bonafit. Dan ini betul-betul seperti rel yang jelas, tanpa bengkok sedikit pun, karena sistem hubungan sosialnya mempengaruhi bagaimana nepotisme itu berlaku. PT adalah penghujung akhir, siap masuk ke dunia kerja yang bonafit.

Jadi mulai TK digembleng dan begitu masuk PT yang favorit, habislah energinya. Untuk itu, banyak yang datang ke ruang kuliah untuk tidur, mengikuti klub ekstra kulikuler, kerja sambilan dlsb. Dan ini yang dikuatirkan oleh pengemudi taksi tersebut. Apakah llmu yang diberikan pengajar, bisa diserap dengan baik? Padahal beberapa tahun lagi. Ilmu itu akan dipakai di dunia kerja. Begitu penjelasan pengemudi taksi itu.

Di pihak lain, ada yang aku herankan, begitu masuk tahun ke 4, mereka mengikuti program magang di beberapa perusahaan. Dan pada saat itu bisa terputuskan kemungkinannya untuk diterima kerja atau tidak. Hal ini menurutku sebagai orang asing, nilai positifnya ada disini. Dengan cara ini input dan output jumlah siswa mudah terdeteksi. Begitu juga jumlah yang belum dapatkan pekerjaan akan jelas.

Jadi walaupun sudah tertentukan tempat kerjanya, mereka tetap bertanggung jawab menuntaskan sampai waktu ujian skripsinya, dengan batas waktu yang dipatuhi dan mengumpulkannya tepat waktu. Tetapi pendapat pengemudi taksi itu tidaklah begitu. Karena lulus dengan mudah tentunya akan kurang daya persaingannya, dengan begitu pastilah kualitas itu juga patut dipertanyakan.

“Ooo,..” Hanya itu saja aku meresponnya.

“Satu lagi, karena beberapa banyak orang tua terobsebsi masa depan si anak, menjadikan waktu bermain kurang, kreativitasnya menurun karena ambisi ortunya” Dia menambahkan penjelasnya.

Pada saat itu aku ingin menyangkal, aku pikir di mana saja begitu adanya. Tetapi dengan cepat dia melanjutkan bicaranya, “Dengan begitu mereka tidak memiliki kreativitas dan inisiatif yang bagus, karena aturan yang mengharuskan untuk patuh pada seniornya. Ingat peristiwa tsunami Maret 2011?”

Katanya sih ada rumor yang mengatakan karena terbiasa dengan shiji machi, tunggu perintah dari yang bertanggung jawab, kebocoran nuklir akibat gempa menjadi memburuk. Wah, kalau itu aku ga seberapa paham. Tetapi dalam kesehariannya, wewenang untuk memutuskan sesuatu itu radiusnya pendek.

Misalnya, suatu saat waktu aku mengajar, memerlukan selembar foto copy. Karena aku berbicara dengan orang yang bukan dari bagian admisnitrasi, walaupun satu kantor, dia tidak bisa minta tolong pada bawahan yang ada di situ. Harus menunggu, sampai si penanggung jawab datang. Dan itulah kenyataanya. Aku pikir itu hal yang baik, mungkin juga untuk menjaga sebuah rahasia perusahaan, ketaatan diperlukan.

“Tetapi kenyataanya, adakalanya ketaatan itu tidak menjadikan hal baik. Jadi harus ada ketaatan diimbangi dengan inisiatif yang bertanggung jawab, dan anak-anak Jepang itu tidak memiliki kemampuan berinisiatif yang cukup” Begitu penjelasan pengemudi taksi.

Dan entah yang keberapa kali aku menggumam, “Ooo…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s