Percikan Api Las Membawa Harum Indonesia

Foto ini termuat di sebuah buletin pabrik besar mitra rekanan Toyota. Foto ini tiba-tiba terpampang di wall FBku. Kaget bercampur senang. Betapa tidak, belum sempat niatanku untuk menuliskan sebuah repotase, tiba-tiba seorang mantan mahasiswa mengirimkan untukku. Bunyi pesannya “Kaget lihat senyum ini di majalah kantor”. Waah, banggaku bercampur aduk, Ulfah si pengirim ternyata bekerja di perusahaan yang sama dengan orang-orang yang ada di foto itu, hanya beda plant.

13816275391226322676

Foto yang termuat di buletin. Peserta no 12 dari Indonesia, di tengah peserta negara lain (dok. pribadi)

Yang lebih bikin perasaan senang sekaligus haru, jika mengingat waktu itu. Tepat sebulan lalu, aku menggantikan seorang teman yang tiba-tiba mengundurkan diri sebagai interpreter di sebuah perusahaan spare part Toyota yang memfokuskan pada interior mobil. Tiga hari aku menemani, membantu mentransfer bahasa pada mereka, untuk mengikuti event tahunan pertandingan tingkat dunia yang diselenggarakan oleh perusahaan tersebut.

Ada beberapa cabang pertandingan, misalnya menjahit jok mobil, bubut, merakit rangka jok mobil, merakit pintu mobil, dlsb. Persertanya ratusan, selain dari Jepang sendiri, juga dari berbagai belahan dunia, cabang dari perusahaan itu yang ada di luar negeri. Dari Rusia, Amerika, Brazil, Jerman, Perancis, Argentina, Cina, Thailand, Malaysia, Indonesia.

Dua peserta dari Indonesia, salah satunya Agus, mengikuti jenis pertandingan las freme, rangka dari rakitan jok mobil. Perawakan yang cenderung ceking ini ternyata menyimpan kekuatan besar sebagai anak bangsa yang bisa membanggakan. Peringkat satu telah disabetnya

Menurut cerita yang bersangkutan, sebelum menetapkan diri bekerja di pabrik yang terbilang besar ini, dia sempat berpindah tempat beberapa kali di tempat-tempat usaha las. Begitu menjadi pekerja tetap di pabrik ini, dalam segi skill, memang dia tidak ada duanya. Tetapi dalam bidang mentalitas, dia mengaku mendapatkan bimbingan yang cukup dari orang-orang besar di perusahaan, baik orang Indonesia ataupun ekspert dari kantor pusatnya, Jepang.

13816279571526717712

Foto: Saat pertandingan, terharu, ada bendera Indonesia (dok. pribadi)

Sebagai anak bangsa, mereka turut menunjukkan bahwa Indonesia sebagai negara, bukanlah hanya besar secara fisik, tetapi juga besar pada namanya. Aku sebagai penerjemahnya mereka selama 3 hari hidup di kota Toyota ini, hanya sekedar menemani mereka. Rasanya tidak ada apa-apanya, merasa harus banyak belajar kepada mereka.

13816282501455483215

Pemenang dan penerjemah (dok pribadi).

Dalam pandanganku sebagai orang yang jauh dari tanah air sempat terpikirkan bahwa, Indonesia sebetulnya menyimpan emas yang berkualitas tinggi. Hanya tinggal dipoles untuk bisa cermerlang di mata dunia. Karena sebenarnya skill yang dimiliki adalah murni dari akar kreativitas manusia Indonesia. Dan skill itu menajam bukan karena fasilitas yang memadai, tetapi justru keterbatasan fasilitas. Sangat berbeda dengan peserta dari negara maju, termasuk dari tuan rumah, Jepang.

Wajar saja peserta dari tuan rumah Jepang ini, jika menduduki peringkat satu dibeberapa jenis pertandingan. Tetapi apakah kita akan pasrah begitu saja. Tidaklah begitu aku rasakan. Kemenangan ini, salah satu bukti Indonesia memiliki tambang emas itu. Jika skill dari alam dipadu dengan pembinaan mental yang cukup, akan lebih-lebih bersinar.

Selama menemani mereka, sempat aku perhatikan peserta dari Indonesia ini di antara peserta dari negara lain. Mereka masih banyak membutuhkan bimbingan bagaimana untuk bisa menyeruak tampil anggun di panggung dunia. Tidak hanya mereka, bahkan kita semuanya

Sebaiknya kita memahami bagaimana sih cara pikir Jepang itu sebagai penyelenggara sekaligus tuan rumah. Dengan cara memandang diri dan instropeksi penuh, kita sebaiknya juga memahami bagaimana kita memposisikan diri agar tidak tenggalam dalam kancah dunia. Masih perlu banyak belajar.

Tepat 10 hari lalu Agus beserta seorang atasannya yang selalu mengikutinya sekaligus membimbingnya selama pertandingan datang kembali ke kota Toyota ini. Mereka datang kembali untuk memenuhi undangan menerima penghargaan dari kantor pusatnya di Jepang.

Kedatangan mereka kali ini, selain untuk menerima penghargaan sepertinya juga mengikuti kegiatan yang bersifat meningkatkan skill di seputaran kerja. Tapi aku ragu, apakah kegiatan yang direncanakan oleh pihak penyelenggara, mengarah juga pada kegiatan untuk melihat Jepang yang sesungguhnya. Maklum dengan hanya waktu 3 hari saja, mana bisa bersentuhan secara langsung dengan Jepang. Padahal aku pikir, pengetahuan tentang budaya dan cara pikir manusia Jepang itu melebihi apa pun untuk menjadi manusia Indonesia tangguh dan besar.

Dan sayang sekali tidak banyak orang yang memperhatikan hal itu. Sebagian orang berpikir, skill adalah segalanya, tanpa memikirkan skill itu sebenarnya bisa lebih cemerlang jika didukung dengan pembinaan mental yang cukup. Salah satunya adalah, dengan mempelajari kekuatan dan kelemahan diri dan bersentuhan dengan dunia luar, untuk tujuan mengasah kepekaan diri. Dan yang paling penting dari semuanya adalah memiliki niat sebagai anak bangsa untuk bertanggung jawab pada negerinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s