Saat Mandi Bersama

Kebiasaan mandi bareng orang Jepang ini, sebetulnya gak aneh-aneh banget. Karena konon kabarnya, Indonesia juga demikian, bareng-bareng mandi di sungai atau sumur. Mungkin kebiasaan itu masih tersisa sampai sekarang di beberapa daerah di Indonesia.

Mandi dalam bahasa Indonesia artinya membersihkan badan. Dalam bahasa Jepang pun sama, tetapi ada perbedaannya. Alasan yang menyebabkan perbedaan itu adalah adanya perbedaan musim. Kalau di Indonesia, cerita jaman dulu, mandi bareng ini bisa di tempat terbuka dan masih pakai penutup tubuh, karena panas sepanjang tahun. Tetapi di Jepang, karena ada musim dingin, kebiasaan mandi bareng ini, di tempat tertutup dan bugil, tanpa selembar benang pun.

Kebiasaan mereka, setelah membersihkan badan, lanjut berendam. Kalau di rumah bak berendamnya, disebut ofuro. Kalau di pemandian umum, namanya sento. Satu lagi, jika tempat pemandian umum ini lokasinya di tempat-tempat wisata, airnya dari sumber air panas alam, disebut onsen, biasanya sekalian ada tempat menginapnya.

Saat berendam bersama inilah, tentunya sesama jenis ya, komunikasi sosial di antara mereka terjalin. Apa hubungan antara membersihkan badan dan berkomunikasi? Apakah memang perlu begitu? Lha wong mau menjalin silaturrahim aja kok ya sampai saling bertelanjang bulat segala.

Ada ungkapan dalam bahasa Jepang yang berhubungan dengan mandi atau membersihkan badan ini. 裸の付き合い karada no tsukiai, arti harfiahnya, saling mempertemukan tubuh. Eeeiit… jangan salah sangka dulu. Ungkapan tersebut bukan berarti bersetubuh, atau menyatukan dua tubuh. Jika diartikan secara bebas, adalah membangun kepercayaan dengan saling memperlihatkan kepolosan tubuh di saat membersihkan badan.

Maksud ungkapan tersebut adalah, dengan saling memperlihatkan kepolosan tubuh, kepolosan jiwa seseorang juga akan tampak. Yang namanya aktivitas membersihkan badan, khan memang harus telanjang bulat tanpa selembar kain pun.

Dengan begitu segala atribut yang melekat pada diri seseorang itu akan ditanggalkan. Baik atribut berupa materiil, yakni kekayaan (dompet yang ditanggalkan), maupun kekuatan (senjatayang ditanggalkan). Dengan begitu secara otomatis, atribut immaterial, yakni status sosial, berupa gelar dan pangkat juga akan luruh waktu membersihkan badan ini.

Dulu ada cerita dua orang samurai yang berselisih paham untuk mengatur strategi perangnya. Mereka sengaja membersihkan badan bersama. Dengan begitu, keduanya saling menanggalkan pedang katananya. Dan kearoganannya menghilang sejenak, sehingga bisa menyelesaikan permasalahan dengan pikiran positif dan obyektif.

Di jaman sekarang pun, hal tersebut pun terlihat dalam suatu kegiatan klub suatu kegiatan anak-anak muda yang berhubungan dengan seni atau Olah raga. Agar lebih saling mengenal satu dan lainnya dengan tanpa konflik, dalam agenda kegiatan rutinnya tidak lupa memasukan acara pergi rame-rame untuk mandi bareng-bareng ke tempat pemandian umum.

Kalau di Indonesia, fasilitas-fasilitas umum seperti misalnya pasar, bisa menjadi pusat komunikasi umum, lha fungsi sento pemandian umum yang ada di tengah-tengah perumahan ini juga sama. Karena rutinas kegiatan keseharian, untuk saling menanyakan kabar sehat dari tetangga, bisa dilakukan saat mandi bersama. Tetapi rupanya sento ini sudah bergeser popularitasnya seiiring perkembangan jaman, karena semua apartemen sudah dilengkapi dengan bak berendam pribadi (ofuro).

Beberapa pengamat sosial, menyayangkan akan hal ini. Karena sebetulnya terbukti, dengan berendam bersama, dan saling sapa dengan tetangga sebelah, komunikasi tetap terjaga satu sama lain. Karena akhir ini-ini ada fenomena “komunikasi terputus”, yang menghantui mereka.

Fenomena ‘komunikasi sosial yang terputus’ 無縁社会muen shakai/ disconnected social, bermula dari kota-kota besar yang sikap indivualisme bertumbuh subur. Karena kehidupan yang keras, menyebabkan “lupa” untuk untuk saling bersilaturrahim. Yang menyedihkan banyak para orang lanjut usia yang meninggal tanpa diketahui.

Salah satu penyebabnya, karena manusia Jepang, usia harapan hidup yang tinggi, menyebabkan satu orang usia produktif menopang pajak untuk kesejahteraan 4 manusia lanjut usia. Sedih juga, membayangkan kalau orang terdekat kita meninggal beberapa hari, baru ditemukan, tanpa ada yang menemani diakhir hayatnya, dan meninggal begitu saja.

Orang-orang Indonesia semestinya harus merasa beruntung, karena memiliki kebiasaan silaturahhim yang berciri khas budaya Indonesia. Tapi jangan terlalu berbangga hati, jika tidak saling menyadari, kecenderungan dampak individualisme tinggi yang juga merupakan ciri khas dari kota-kota besar ini, bisa menulari kita. Anggap aja info tentang fenomena ‘komunikasi sosial yang terputus’ 無縁社会muen shakai/ disconnected social ini, menjadi alat penyadar bagi kita semua.

Selalu ada yang berbalik 180 derajat, kebiasaan antara orang Indonesia dan orang Jepang ini. Kita yang gak biasa makan ikan mentah, yang gak biasa bugil di kerumunan banyak orang, dan yang bangun tidur terus mandi ini. Sedangkan, orang Jepang tanpa mandi, langsung melakukan aktivitas pada hari itu adalah hal yang biasa, walaupun ada sebagian anak-anak muda yang pada saat musim panas hanya mandi pakai shower, tanpa berendam.

Kata salah seorang teman yang berasal dari Okinawa, karena letak Okinawa masuk area sub tropis, tidak ada kebiasaan berendam. Hal ini menunjukan kita sebagai orang asing harus bijak dalam menyikapi sebuah stereotype pada bangsa dan manusia Jepang ini. Dan tugas kita hanyalah menggali hal-hal yang baik.

Orang-orang Indonesia biasanya saling bertegur sapa setelah mandi membersihkan badan dan berpakaian. Tetapi orang Jepang pada saat aktivitas membersihkan badan itulah, terjalankan suatu komunikasi. Sudut pandangnya beda pada titik produk dan pada titik proses. Tidak ada yang yang harus diperdebatkan kalau kita bisa ambil sisi baiknya.

Kembali merenung, yang kesemuanya serba berbalik 180 derajat. Bukan untuk mencari keburukan tapi lebih pada melatih diri untuk menyadari perbedaan itu indah jika saling memahami untuk terjalinnya sebuah komunikasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s