“Urutan Kacang” Penyebab Orang Jepang Ogah Belajar di LN

Minggu lalu, bertemu dengan salah seorang profesor Aichi Univ of Edu di kota Kariya, sejam ke arah timur dari kota Nagoya, tempat aku belajar 3 tahun lalu. Beliau lagi puyeng merasakan anaknya yang tidak lulus masuk PTN. Beliau menginginkan anaknya belajar ke LN saja. Dan tentu saja sebagai seorang professor, bekal dana dan informasi, segalanya cukup untuk memberangkatkan anak belajar di LN mana pun juga.

Si anak menolak dengan berbagai alasan yang memang diakui kebenarannya oleh sang bapak. Si anak lebih memilih mengikuti bimbingan belajar intensif untuk masuk tahun berikutnya. Salah satu alasannya adalah si anak ingin meniti karir sebagai pegawai di bawah pemerintah (seperti pegawai negeri). Bisa dipahami, keinginan dari sang bapak, karena beliau sudah melalang buana untuk presentasi di kampus-kampus LN, maka dia juga menginginkan anaknya agar melihat dunia luar.

Kenapa orang Jepang banyak yang tidak berminat belajar di Luar Negeri? Tadinya aku berpikir, kok ada ya yang tidak ingin keluar dari negaranya untuk melihat dunia lain? Padahal pergi ke LN, dan apalagi bisa belajar di LN, pastilah suatu yang istimewa, impian setiap orang Indonesia. Sebetulnya sama juga, orang-orang Jepang pun berpikiran demikian. Tetapi ada hal yang lebih diperhatikan daripada semua impian itu.

Sistem “urutan kacang” ini, merupakan pertimbangan utama, kenapa mereka mengurungkan niatnya untuk belajar di LN. Dan sistem “urutan kacang” ini sangat berkaitan erat dengan melajunya sang waktu. Kalau semacam kursus bahasa asing beberapa bulan dengan program home stay sih masih banyak peminatnya, atau pertukaran pelajar 6 -12 bulan. Apalagi traveling seminggu dua minggu yang bertujuan hanya untuk mencicipi hawa LN.

Jika dirasa punya niatan untuk bekerja yang mengharuskan belajar dan tinggal di LN, misalnya menekuni profesi penari. Untuk menjadi penari profesional, mereka akan pergi ke Bali atau ke daratan Eropah untuk belajar Balet. Karena mereka pikir, profesi tersebut tidak begitu memperdulikan kapan waktu untuk memulai berkarir, jadi sistem “urutan kacang” ini tidak banyak pengaruhnya.

Tetapi, jika seseorang ingin berkarir sebagai pegawai negeri, mereka tidak mau menunda untuk memulainya. Karena, begitu lulus kuliah, “urutan kacang” ini mulai berlaku. Masih banyak perusahaan termasuk pegawai pemerintahan, yang mengutamakan jam terbang dalam menentukan tingkatan karir.

Meneruskan kuliah, setingkat pasca sarjana hanya dilakukan oleh orang-orang yang dituntut oleh keprofesionalan kerja saja. Misalnya, pengajar dari tingkatan SD sampai PT, banyak yang memulai karier dari level S2. Ya, cukup S2 saja. Dan yang mengajar di PT, akan meneruskannya ke level S3 sembari bekerja.

Oleh karenanya peminat program pasca sarjana tidak membludak. Di kampus tempat aku belajar sekarang ini dalam ruangan lab yang berjumlah 16 orang, hampir 50%nya usianya lebih dari 65 tahun. Beberapa dari mereka memulai S3 setelah pensiun, hanya untuk menyalurkan hobi belajarnya dan hanya untuk tetap memiliki sebuah komunitas untuk bersosial.

Karena sistem “urutan kacang” ini mengutamakan waktu jam terbang, maka lebih cepat lebih baik. Oleh karenanya Level pasca sarjana, apalagi kuliah di LN tidak begitu diminati, karena dianggap akan membuang waktu. Belum lagi perlu belajar bahasanya dan waktu untuk beradaptasi yang dianggap memakan energi cukup banyak.

Karena karir di tentukan dengan “urutan kacang”, maka 先輩-後輩 Senpai kohai senior-junior, berperan penuh, penggambarkan urusan hubungan atasan bawahan ini cukup rumit di sosial masyarakat Jepang. Secara gampangnya, si Senior ini akan  berkuasa penuh atas Juniornya. Dia bertanggung jawab atas keberhasilan juniornya. Dan siJunior bertanggung jawab atas nama baik si pengajarnya, untuk membuktikan pada khalayak ramai, bahwa si Senior ini orang yang mumpuni. Untuk jadi seorang senior yang baik, menurut mereka, tidak lain tidak bukan hanya diperlukan jam terbang yang banyak, tidak perlu kuliah ke LN.

Keluar dari kelompok adalah tindakan yang memerlukan keberanian yang luar biasa. Hal ini juga menjadi alasan yang utama, kenapa mereka ogah belajar di LN. Jika mereka berniat akan belajar di LN, mereka akan cari rekomendasi orang-orang yang lebih dulu pergi, mereka akan mencari orang yang bisa dianggap sebagai seniornya. Tingkat kecemasan mereka tinggi jika harus menghadapi segalanya sendiri, tanpa referensi yang cukup. Dan mereka sebetulnya manusia yang tidak begitu kokoh jika keluar dari kelompoknya.

Semua kegiatan yang terkait dengan kerja, bergerak atas dasar sebuah rekomendasi dari pendahulunya. Oleh karenanya bisa dipahami, sistem “urutan kacang” ini berpengaruh besar pada mereka yang ingin meniti karir dan berencana melewati hidup dan menghabiskannya di negaranya sendiri.

Walaupun sistem “urutan kacang” ini dipenuhi pro kontra, tetapi pada kenyataanya masih banyak perusahaan yang menganutnya. Orang Jepang masih menganggap rajutan pengalaman hasil dari meniti jam terbang ini, masih lebih bernilai dan mendapatkan pengakuan daripada beberapa lembar ijasah dan serentengan gelar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s