Nusantaraku Terefleksi di Apartemen ini

Berawal dari kata perbedaan kata ceuceu dan teteh. Banggaku pada Indonesia tanah airku semakin membara,…ceiilah. Tapi bener lhoo. Siang tadi, seorang teman yang akan pulang ke Indonesia karena masa tugas suaminya di Nagoya sudah berakhir, mengumpulkan teman-teman lain untuk merayakan sayonara party.

Ada beberapa keluarga yang datang, total sekitar 30 jiwa mulai usia yang baru 2 bulan sampai yang udah hampir kepala 6. Pertemuan semacam ini, bisalah ditebak apa aja yang terjadi, seperti layaknya orang Indonesia di tanah air. Kalau ada kerumunan, pasti ada yang sambil menyelam minum air. Seneng banget.

Bagaimana gak seneng, si tuan rumah ini terkenal banget, udah cantik pinter bikin tempe. Tempe bagi kami itu makanan langit. Selain harganya yang melangit, karena sepotong kecil Rp40.000;, dan kedaluwarsanya 3 bulan lhooo. Bisa dibayangkan rasanya. Bagaimana pun yang jelas bagi kami, tempe ini barang langka.

Tempe yang dibuat oleh si tuan rumah, rasanya masih fresh, serasa makan tempe dari tukang sayur yang lewat tiap pagi. Selain tempe ada juga yang pinter bikin martabak manis. Kalau di Surabaya namanya Martabak pasti asin lah, yang manis itu namanya Terang Bulan. Banyak juga tuh teman-teman yang pesan, lumayan tuk ngobati kerinduan.

Bagai gambaran dari nusantara, pastilah juga berbagai ragam manusia yang datang di acara hari ini. Ada  yang lagi cari info, karena suami lulus kuliah, dan mendapatkan kerja di luar kota, pada saat itulah waktunya hunting mobil dan apartement. Ada yang lagi bahagia, bentar lagi lahir anak ke duanya.

Ada yang lagi serius dengerin pengalaman naik haji teman lain yang berangkat dari Jepang, dan serius banget mencatat apa-apa yang perlu diperhatikan. Hal itu berkenaan karena berangkat bukan dari Indonesia. Ada juga yang lagi galau, karena penelitiannya di kampusnya agak gak klik ama datanya.

Ada juga yang lagi suntuk karena kerja sambilannya agak seret. Ada juga yang lagi cowel pipi bayi dan batita kanan kiri sambil gendongin bayi anak orang lain yang lagi tidur pules, karena anaknya sendiri udah gede, pipinya udah ga bisa dicowel-cowel lagi.

Waah semuanya tumplek blek, ruah meriah. Suara anak-anak kecil riuh rendah berlarian di sela-sela kaki orang dewasa lagi duduk ndeprok, dan memang lazimnya begitu, duduk di tatami, lantai rumah yang terbuat dari tikar. Semua kegiatan ada dalam ruangan yang hanya seluas sama seperti rumah tipe 45. Ini mah sudah paling gede. Apartemen teman yang lain, lebih kecil.

Yang lebih gayeng lagi dan kentara banget kalau yang lagi berkumpul itu orang seIndonesia raya itu, waktu masing-masig cerita tentang Bahasa Daerahnya masing-masing. Wah seru banget, ada dari Sunda, Surabaya, Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Padang, Medan, dll. Wah Indonesia banget.

Diawali sama kata Ceuceu dalam bahasa Sunda, yang kedengarannya itu kayak cecek dalam bahasa Surabaya. Padahal dalam bahasa aslinya, artinya kakak. Awal-awal hidup di Nagoya, pernah nanya ke teman kampus orang Jepang. Karena tak pernah sekali pun aku menemui cicak di sini.

Aku katakan, bahwa aku kangen lihat muka cecak yang lucu. Mereka terheran-heran menunjukkan muka jijik membayangkan binatang melata ada di dalam rumah. Apalagi ketika aku cerita, bahwa cicak itu sahabat anak Indonesia, karena suka makan nyamuk. Sampai sampai ada lagunya cicak cicak di dinding, dan semua anak Indonesia tahu.

Kata amis, dalam bahasa Sunda yang artinya manis, menjadi obrolan yang selanjutnya. Sampai sekarang, kalau dengar kata itu jadinya melayang pada ikan di pasar-pasar tradisonal di daerah pantai yang berbau anyir. Tapi bau anyir amis itu aku sudah lupa, karena bertahun hidup disini gak pernah menemukan ikan dalam yang berbau amis anyir itu.

Oleh karenanya makanan sushi ikan mentah yang diletakkan di atas nasi yang dikepal kecil-kecil itu bikin ketagihan banget. Belum lagi sashimi yang 100% menu ikan mentah, jadi ngarep-ngarep nih, kapan ya ada orang Jepang yang siap ntraktir sashimi, sebab harganya yang selangit itu.

Masih bahasa Sunda Cokot yang artinya dalam Bahasa Indonesia Ambil, padahal dalam bahasa Jawa dicokot itu digigit. Dengar kata gigit, jadi merasa beruntung. Bayangkan tak sekali pun digigit nyamuk, pada tahun ini. Musim panas tahun lalu, masih lah sekali dua kali didigit nyamuk di luar rumah. Semut juga gak ada lho di apartemenku. Jadi penasaran nih, peribahasa seperti ada gula ada semut ini, ada gak ya dalam Bahasa Jepang.

Ada juga Bahasa Sunda ini yang tingkatannya berbalik dengan Bahasa Jawa. Misalnya kata Dahar di Bahasa Jawa, adalah pemilihan kosa kata yang berarti makan untuk Bahasa tingkat tinggi. Kata Dahar ini bisa berbalik 180 derajat dengan Bahasa Sunda, hehehe menarik banget.

Atos dalam Bahasa Sunda ini berarti sudah. Padahal dalam Bahasa Jawa, artinya keras. Kalau bicara masalah keras, hehehe jadi suka keinget ama beras koshihikari. Nasi di Jepang, ga bakalan keras, tapi pulen banget, enak. Kata suami yang memang dibesarkan dari keluarga petani, dengan nasi dari beras jenis yang ada di Jepang ini, makan pakai lauk aja udah enak banget. Dan memang beras dari harga yang termurah pun rasanya enak dan gak atos sama sekali.

Dari Sunda, Jawa, kita berpinda ke daerah Melayu. Katanya, Sepeda Motor itu di istilahkan dengan Kereta. Bayangkan kalau ada orang ditanya by phone. “Sedang apa?” Terus, jawabannya, “Sedang nyuci kereta”. Pastilah ngebayangin menyuci gerbong-gerbong kereta besar. padahal cuman sepeda motor yang dicuci.

Jadi inget, seorang teman yang kerja sambilan memandikan kereta. Perjamnya termasuk tinggi sih, 1050 Yen, sekitar Rp. 110.000; . Kerjanya sih cukup gampang, bersihin kereta luar dalam, Kalau yang ini gerbong kereta beneran. Kerjanya gampang, selain mencuci kereta, juga mengecek kali-kali kalau ada barang penumpang yang ketinggalan. Tapi yang dibersihkan gerbongnya banyak banget, dan harus malam hari, setelah kereta itu ngandang.

Ada berbagai cerita, yang bisa tersambung dengan keseharian kami yang lagi hidup bertetanggaan dengan Doraemon. Ada keramahan, keberagaman, yang mewarnai hatiku hari ini. Ada utasan indah sebuah persahabatan orang-orang yang jauh dari tanah air. Bagaimana pun kami masih Indonesia, yang terbentang bagai nusantara khatulistiwa, terefleksi dari apartemen sebesar tipe rumah 45 ini.

13804725361441925275

…keakraban yang tak ternilai…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s