Alasan Mandi Sekali dalam Sehari

Alasan kenapa orang-orang yang tinggal di 4 musim itu mandi sekali dalam sehari, aku jadi paham setelah mengalami hidup musim dingin di Nagoya.

Bau gak ya?? Hehehe,…kalau itu sih sangat tergantung banget ama orangnya. Pastilah akan kebayang wajah yang lungset, kuyu-kuyu ga seger blas. Dan kebayang juga mata yang beleken, pipi yang masih ada cap bantal. Semua itu tentu saja masih aku temui kalau pas pagi-pagi keluar apartement bertemu mereka untuk memulai aktivitas hari itu.

Terus apa kita yang tinggal di sini juga menirunya? Awalnya sih ogah ngikuti orang Jepang yang malas mandi itu. Tapi seiring dengan perkembangan pengetahuan kenapa mereka lebih suka mandi sekali, jadi memahaminya, ketularan juga. Saat musim panas sih mandi dua kali. Tapi waktu musim dingin, jangan berharap tuk deh. Pegang air yang keluar dari keran air panas aja wegah setengah mati.

Ada suatu pendapat, jarang mandi itu juga untuk menjaga kesehatan. Jadi selama musim dingin memang sebaiknya mandi cuman dua hari sekali. Bukan sehari dua kali lhooo. Jadi dengan berendam air panas, sekitar 42-45 derajat, dan dikasih bau-bauan untuk aroma terapi juga rasanya bisa menjadi bekal mengantisipasi kelelahan phikis selama dua hari. Jadi tujuannya bukan hanya untuk membersihkan fisik saja.

Dan tentu saja sebelum njegur dan berendam selama berpuluh-puluh menit harus membersihkan badan terlebih dulu seperti kita mandi pakai shower. Setelah berendam, barulah mapan tidur. Dengan begitu nyaman sekali, karena tidur dalam keadaan hangat karena suhu di luar dingin sekali. Dan yang terpenting, tidur dalam keadaan badan bersih.

Berkaitan dengan mandi ini, ternyata beberapa orang Jepang yang sedang belajar bahasa Indonesia dan pernah hidup di Indonesia ini juga merasa penasaran. Ini ada kutipan dari hasil mengarang salah satu dari mereka yang penasaran.

Mandi ala Indonesia dari kacamata orang Jepang.

“Sudah mandi?” Pertanyaan itu yang selalu saya dengar dari ibu kos setiap pagi mau sarapan atau sore hari kalau akan berangkat latihan tari. Awalnya saya tidak tahu, mengapa orang Indonesia selalu bertanya seperti ini. Setelah tinggal 3 bulan di Surabaya, saya tahu, ternyata pertanyaan seperti itu untuk mengawali suatu percakapan, bisa juga sebagai salam. Dan tujuan orang Indonesia mandi itu, selain membersihkan badan, juga membersihkan hati.

Kutipan itu hasil sebagian karangan Kotaro Tanaka (laki-laki, 22 tahun), seorang mahasiswa yang memprogram Mata Kuliah Mengarang Bahasa Indonesia di suatu Universitas swasta besar di Nagoya. Dari kutipan karangan tersebut aku melek apa makna membersihkan badan (mandi) bagi orang Indonesia. Karena memang makna membersihkan badan orang Jepang, istilahnya, masuk ofuro, masuk sento, masuk onsen ini sangat berbeda.

Untuk lebih jelasnya, aku juga tunjukkan contoh kalimat sederhana yang dibuat oleh Yuto Kurihara (nama samaran), laki-laki berusia 28 tahun, baru 3 bulan belajar bahasa Indonesia, di sebuah kursus yang diselenggarakan oleh tempat kerjanya, perusahaan mitra pabrik Toyota yang sedang ekspansi ke Bekasi. Rencananya, Kurihara san akan tinggal di Indonesia selama 3 tahun.

“Saya pergi ke onsen setahun 2 kali bersama teman-teman lama”

“Saya pergi ke sento sebulan 1 kali bersama kakek”

Ket: Onsen, pemandian kolam air panas di tempat wisata. Sento, pemandian umum di antara perumahan pemukiman penduduk.

Dari contoh kalimat itu, pastilah muncul pertanyaan. lha terus untuk saban harinya, gimana? Untuk saban harinya, orang yang punya bath up/ ofuro pribadi di rumahnya, tak perlu pergi ke sento. Perbedaan diantara ke sento, onsen dan ofuro, dilain cerita akan aku tulis.

Jika melacak sejarahnya, sepertinya semua hal yang nenyangkut pembersihkan batin yang bersifat sipitual dalam kepercayaan agama dan keyakinan apa pun sama. Awalnya berendam ini adalah simbol pembersihkan jiwa para biksu Budha, awal abad 6. Dan kemudian karena ini hal yang baik dan dirasa sesuai dengan alam Jepang yang 4 musim, seiring perkembangan jaman, tujuan dari berendam ini berubah. Awalnya hanya biksu atau masyarakat status tertentu , lama kelamaan semua orang boleh melakukannya pada jaman Heian, sekitar pertengahan abad 7. Dan tempat pemandian umum ini disebut sento.

Mulai sejak awal abad 13, pada jaman Muromachi, pergeseran arti dari aktivitas. berendam tersebut, dari tujuan awal sebagai pembersihkan jiwa kearah pembersihan raga saja. Kemudian jaman Edo abad 16 meluas ke perumahan-perumahan, tempat berendam pribadi di rumah-rumah, di sebut ofuro mulai dikenal. Tetapi kepopuleran sento masih bertahan, karena dianggap sebagai fasilitas wadah untuk saling berkomunikasi. Apalagi kalau pas musim dingin, berendam bersama-sama dan kemudian saling ngobrol, adalah kegiatan yang mengasyikan

Menjelang abad ke 19 hingga sekarang ini teknologi bath up (ofuro) sudah luar biasa, dan menjadi kebutuhan tersendiri yang bisa berendam di rumah pribadi. Pada awalnya, bentuk antara bath up dan ofuro diantara keduanya, berbeda, bath up ini bisa rebahan, tetapi ofuro harus jongkok untuk bisa berendam sebatas bawah dagu. Karena sifat orang Jepang modern yang banyak bergeser ke manusia individual, pergi ke sento (pemandian umum) ini dirasa tidak praktis, karena harus keluar rumah, orang Jepang ini memilih lebih menikmati ofuro di rumah.

Pada waktu 11 Maret 2011, bencana besar di Jepang timur, gempa dan tsunami. Yang sangat dikeluhkan para pengungsi adalah ofuro. Para volunteer membuat ofuro dadakan. Dan karena itu ofuro umum khusus untuk bencana ini pun sudah diciptakan dan dipasarkan. Teknologi maju berkaitan dengan ofuro seiring dengan tingginya harapan hidup manusia Jepang.

Untuk merawat para lanjut usia ini, pekerjaan paling repot bagi pekerja perawat caregiver panti day care adalah memandikan pasien. Berkenaan dengan hal tersebut, segala sesuatu yang berkaitan dengan ofuro, bertujuan untuk memfasilitasi para manula ini supaya lebih praktis dan tenaga manusia bisa diminimalisir, teknologi ofuro, berkembang pesat sekali.

Ahh, mau mandi aja kok repot. Mbok ya habis bersihkan badan, ya keluar berpakaian, tidak perlu berendam segala yang bisa bikin repot. Hehe…beginilah, lain ladang lain belalangnya. Yang bisa kita garis bawahi. Wong urusan mandi aja kok ya bisa dilacak oleh dengan mudah. Kalau seumpama kita bisa melacak asal usul mandi ala Indonesia tentu lebih menarik lagi. Karena, Indonesia berbagai ragam suku dan tentunya caranya juga berlainan satu dengan yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s