Neraka, Surga, Dunia. Pilih Mana?

Ayaka chan, pilih Neraka. Lho. ?! Gimana ceritanya? Bagi orang yang mengaku memiliki agama, ada sebuah batasan yang jelas antara Surga dan Neraka. Bagaimana dengan orang Jepang yang kita kenal selama ini tidak begitu mempedulikan dengan agama? Apa motivasi mereka tetap mau berbuat baik? Dari obrolan waktu makan siang itu dengan Ayaka chan, penasaran yang selama ini aku pendam terkuak sedikit demi sedikit.

Ayaka chan percaya dengan adanya Surga dan Neraka. Tetapi, dia mengakui, bagaimana mekanisme cara berpikirnya, sampai sekarang masih menjadi pertanyaan besar baginya. Buku cerita semasa kecilnya yang berjudul 地獄と極楽jigoku to gakuraku, “Neraka dan Surga”, menjadi pembuka, bagaimana dia pada awalnya mengenal kedua kata tersebut.

Buku itu terdiri dari tiga bagian, jilid pertama menceritakan seorang akrobatik sirkus bernama Shobei setelah meninggal masuk neraka. Karena iseng mengganggu orang yang sedang 座禅zazen, bersemedi di kuil Budha.

Karena kehebatannya meniti tali, Shobei si tokoh utama lolos saat meniti jembatan yang dibawahnya ada kawah panas. Hal ini mengajarkan, bahwa dengan latihan serius, sesuatu target bisa dicapai.

Kemudian Shobei juga berhasil meloloskan diri ketika ada raksasa rakus menelan tubuhnya hidup-hidup. Karena dia ramah dan suka menolong selama hidupnya, dia mendapatkan teman, seorang tabib ternama yang waktu itu juga bersama-sama tertelan raksasa. Tabib memberitahu tentang anatomi tubuh makluk hidup. Dengan cara mencubit-cubit usus, sehingga raksasa perutnya sakit, keluarlah si Shohei bersamaan dengan kentut si Raksasa.

Karena semasa hidupnya Shobei tidak pernah berbohong dan hampir selalu menurut apa kata orang tua, Shobei lolos dari tempat penyiksaan lidah yang terpotong dan tidak dimasukan dalam bejana panas.

Pendek kata, semua yang tergambar di buku cerita versi milik Ayaka chan itu persis gambaran yang kita terima tentang apa itu Neraka sejak kecil hingga sekarang.

Kemudian, bagaimana gambaran tentang Surga? Dibuku jilid kedua ini, cerita Surga digambarkan dengan Shobei yang telah terlahir kembali (reinkarnasi) ke dunia. Karena dia selalu baik, selama hidupnya. Setelah meninggal kali yang kedua, dimasukkan ke dalam Surga.

Surga digambarkan dengan sesuatu yang tenang. Shobei duduk tenang di atas daun teratai, dan dikelilingi bidadari cantik dan tersedia o-sake, minuman tradisional Jepang. Tiap hari yang dilakukan hanya membaca お経o-kyou ayat-ayat suci salah satu jenis aliran agama Budha yang masuk ke negara Jepang abad 5. Karena Shobei hanya manusia biasa, dia menjadi bosan berdiam di Surga, oleh karenanya dia berbuat ulah dan dikembalikan lagi (reinkarnasi) ke dunia.

Kembalinya Shobei ke dunia ini adalah cerita jilid ketiga buku ini. Diceritakan, bahwa yang terpenting dalam kehidupan manusia adalah berbuat baik, tidak berbuat malu, dan tidak merepotkan orang lain. Dan tamatlah cerita Neraka-Surga-Dunia, di jilid ketiga ini.

Masih dengan rasa keingin tahuan yang tinggi, aku ajukan beberapa pertanyaan pada Ayaka chan. Mereka tidak mengenal atau kurang percaya adanya Tuhan, Surga dan Neraka, kenapa masih mau berbuat baik dalam ukuran yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Ayaka chan menjawab pertanyaanku dimulai dengan penggambaran demikian.

Adanya buku-buku semacam itu, sangatlah berperan besar bagi pendidikan anak-anak mulai dulu sampai sekarang. Oleh karenanya masih banyak yang menulis dan masih laku keras juga. Banyak ibu-ibu membelinya untuk menakuti anaknya, jika tidak mau menurut apa kata orang tua, akan masuk neraka. Tetapi motivasi agar tidak masuk Neraka, sangatlah unik. Seorang anak harus menurut apa kata orang tua agar tidak ditegor orang lain yang bisa mengakibatkan rasa malu.

Jadi bukan karena Tuhan yang mereka percayai sebagai penguasa alam semesta. Tetapi, lebih takut pada tegoran orang lain yang terkena dampak, akibat karena dirinya berbuat tidak baik. Karena adanya mata orang lain inilah yang menyebabkan mereka tidak mau berbuat yang tidak baik.

Dari‘mata orang lain’ ini, muncul dari sebuah tegoran dan kemudian semua orang jadi ikut melihatnya. Ditegor, dicemooh, ditertawakan inilah yang menjadi beban seumur hidup orang Jepang. Bagi mereka, itulah “Neraka” yang sebenar-benarnya. Oleh karenanya mereka selalu berbuat baik, agar tidak malu akibat suatu tegoran.

Bagi kebanyakan orang Jepang, yang harus dilakukan agar terhindar Neraka dan masuk Surga hanyalah tidak membuat susah orang tua, tidak merepotkan orang-orang di sekelilingnya, dan tidak mempermalukan diri, orang tua dan orang-orang sekeling hidupnya. Begitu Ayaka chan menambahkan penjelasannya.

Ketika aku tanya di antara 3 jilid itu, pilih yang mana? Jawabannya mengejutkanku. Menurut pengakuan Ayaka chan, yang paling berkesan dan terbawa hingga dewasa adalah buku jilid 1, tentang Neraka. Kenapa begitu? Menurut Ayaka chan, halaman buku itu dipenuhi warna api merah menyalai. Dan ceritanya sangat dinamis. Sangat berbeda dengan isi cerita jilid 2 tentang Surga. “Hanya duduk manis di atas teratai, apa asyiknya?” Begitu kata Ayaka chan.

Ooo,..dengan mulut terkatup dan kepala penuh. aku berpisah dengan Ayaka chan. Ternyata pilihannya pada Neraka itu hanya sebatas kata-kata dan warna-warna dinamis dalam buku cerita. Dan peran buku cerita yang hanya sebatas barang cetakan itu juga hanya sekedar untuk tidak malu karena sebuah tegoran dari orang lain.

Bagi Seorang Ayaka chan yang cuman segilintir dari jutaan manusia Jepang, selama hidup, yang penting hanyalah berbuat baik, tak dicemooh orang, tidak merugikan orang, tidak merepotkan orang lain. Dengan begitu, pasti nantinya akan mendapatkan tempat yang baik pula., Tak perlu embel-embel dan iming-iming dari sebuah kata yang berbunyi “masuk surga”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s