Klinik Lancar Bikin Anak di Nagoya

Kali ini kepergianku ke sebuah klinik kandungan yang terkenal di Nagoya, adalah untuk yang kesekian kalinya disambati seorang teman tuk menemani mereka, karena merasa tidak pede akan bahasa Jepangnya. Kami datang berempat, suami istri teman, dan anak semata wayangnya.

Tujuannya berkonsultasi ingin hamil lagi, mumpung ada di Jepang. Dia mempunyai pengalaman keguguran berulang kali, karena janinnya tidak berkembang. Untuk itu mencari-cari informasi klinik kandungan yang bisa menangani masalahnya. Padahal aku sendiri juga belum tentu paham dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan bidang tersebut. Tapi, bagiku saat-saat seperti inilah, aku belajar “Jepang” dengan segala keunikannya.

Lokasi klinik ada di sebuah komplek ruko, klinik itu sangat ‘kecil’ kalau dibandingkan dengan namanya yang‘besar’. Aku gak ngerti nama besar ini, apakah bisa disahkan dengan diukur panjangnya waktu untuk antri. Untuk bisa berkonsultasi dengan dokternya, mulai dari antri pendaftaran diperlukan waktu 3 bulan. Dan memakai sistem online, segala sesuatu pengurusan, isian, sebelum bertemu dengan dokternya, semuanya harus berhadapan dengan piranti PC. Cukup ribet bagi orang asing.

Pas tiba waktunya hari untuk konsul, ada keterkejutan-keterkejutan lain yang masih juga berlangsung, Begitu masuk ruang tunggu, hanya ada beberapa gelintir pasien. Dalam suasana tenang nyaris suara, para pasien itu ada yang sedang membaca dan melihat acara TV tanpa bunyi. Setelah serahkan kartu asuransi dan rujukan dokter, disodori kertas berisikan pertanyaan yang mirip dengan psikotes.

Aah,.. jadi mikir, ternyata semua yang berhubungan dengan penyakit ternyata sangat erat kaitannya dengan kejiwaan, termasuk juga urusan mau bikin anak. Dalam bahasa Jepang kosa-kata yang dipakai sehubungan dengan kehamilan adalah子どもを作る kodomo (=anak) wo tsukuru (=membuat), jadi betul-betul memakai arti harfiah.

Beda dengan bahasa Indonesia, ungkapan ‘bikin anak’ hanya dipakai untuk guyon-guyonan aja. Hehehe aneh dirasakan, emangnya bikin anak sama dengan bikin donat, kapan aja ada hati, ada niat, trus bisa jadi seketika itu, dan juga bisa langsung dinikmati. Kehamilan di luar nikah disitilahkan dengan 出来ちゃった結婚dekichatta kekkon , perkawinan yang didahului membuat anak, itu arti harfiahnya.

Ditengah-tengah berdiskusi mengisi kuesiner yang pertanyaannya hampir mirip satu dengan yang lain, seorang perawat datang, duduk jongkok mendekati di antara kami. Pelan-pelan dia bicara, bahwa sebetulnya sangatlah tidak etis, jika datang dengan membawa anak. Bukan alasan untuk kesehatan si anak, atau celotehan si anak bisa jadi berisik, tapi untuk menjaga hati pasien yang lain.

Anak yang dibawa masuk ruang tunggu dokter, bisa dianggap ほかの人迷惑をかける hoka no hito wo meiwaku suru, mengganggu perasaan orang lain. Sempat bingung juga, ternyata mereka sampe sebegitunya menjaga hati para pasiennya. Alasan utamanya, karena klinik ini adalah klinik kandungan khusus dengan kasus janin tidak berkembang. Jadi kalau ada anak berseliweran dianggap menyinggung perasaan pasien lain.

“Aneh” Pikirku. Bukankah dengan disuguhi adegan seorang seorang ibu yang membawa anakknya akan lebih bisa memompa semangat? Karena walaupun miliki kecenderungan hamil dengan janin tidak berkembang, terbukti, bisa punya anak. Sebetulnya adegan itu, bisa dimanfaatkan untuk menunjukkan, bahwa di dunia ini apa pun bisa terjadi.

Tetapi bagi orang Jepang, adegan tersebut dianggap bisa menjatuhkan mental pasien lain, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan kuasanya Yang Maha Kuasa. Mungkin kalau orang-orang selain orang Jepang, bisa jadi mereka akan menjadi semakin bersyukur, sebagai diri yang masih punya iman dengan apa pun keputusan yang Kuasa.

Tapi mereka juga lupa, bahwa orang yang ditegor itupun juga adalah salah satu pasiennya, yang perlu juga dijaga hatinya. Walau pasien itu orang asing. Ternyata mereka punya kebijakan yang cukup bagus kok, si anak ini diantar ke sebuah ruangan kecil yang terpisah dari lobby itu. Kasihan juga, tapi masih lebih bagus kok, daripada di suruh main ke taman sesuai dengan anjurannya yang pertama.

Sampai rumah, aku masih terbawa rasa penasaran. Atas dasar apa ya mereka menganggap hal itu tidak etis. Apa hanya alasan trik dagang, berkaitan dengan label klinik kandungan khusus terapi janin tidak berkembang? Atau karena faktor keseragaman, bahwa semua perempuan berhak hamil dan berhak punya anak, jadi tuntutan hati mereka patut diperhatikan?

Entahlah. Tapi yang jelas, apa pun alasannya untuk menjaga hati pasiennya, klinik kandungan itu patut diacungi jempol. Walaupun disisi hatiku yang lain, berteriak minta keterangan lebih jelas lagi. “Apakah alasan etis tak etis itu berhubungan atau tidak dengan adanya kepercayaan adanya Tuhan Yang Kuasa?”. Sepertinya rasa penasaranku ini akan berlangsung lama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s