Manasik Hanya Sekali, Sejam sebelum Boarding

Berangkat Haji dari Nagoya ini, sama sekali sudah aku hilangkan dari angan, setelah tahun pertama tinggal di sini, mengingat kehidupan yang keras. Status mahasiswa asing dengan anak yang juga mulai kethimik-kethimik masuk kuliah, membuat kami berdua pernah patah arang. Tapi masuk tahun ke lima, ujug-ujug saja harapan itu timbul lagi.

Dimulai dengan mendaftar di salah satu travel yang direstui imigrasi Jepang, Mei awal 2012 kami resmi menjadi calon Jemaah haji Jepang. Disertai nego yang sedikit alot, untuk bisa membayar nyicil 4 kali, alhamdullillah disetujui. Sejak itu rajin membuka browsing mencari segala sesuatu info naik haji dari Jepang.

Walaupun banyak artikel dan hasil rekaman video tentang cara pakai ihram, Umroh, schedule, flight, itinerary juga dan urut-urutan ritualnya. Tetapi karena gak dong sama sekali, ハッジの勉強会hajji no bennkyokai, atau manasik ini kapan waktunya, kami tunggu-tunggu. Eehhh, karena dari Nagoya hanya sedikit saja, seluruh calon jamaah dari berbagai negara dari Jepang dikumpulkan jadi satu, bertempat di Sekolah Republik Indonesia Tokyo. Karena nggak mungkin, berangkat ke Tokyo Jadi ya cul-culan aja, belajar sendiri. Dan akhirnya kami bisa ikut manasik, tapi sejam sebelum boarding di Bandara Osaka. Dengan menggunakan beberapa bahasa, diantaranya bahasa Indonesia, Urdu, Arab, Inggris, Jepang, manasik itu berjalan lancar.

Waktu yang diperlukan 20 hari, termasuk perjalanan, Tanggal 1 Dzulhijah udah mendarat di Jeddah, dengan alokasi waktu sebagai berikut; 5-6 hari di Mekkah, 5 hari  ritual haji (di Mina) dan kembali di Mekkah 3-4 hari, dan yang terakhir 3-4 hari di Medinah. Ini adalah alokasi waktu yang tertulis di HomePage nya travel, tapi yang terjadi tidaklah demikian, banyak perubahan di sana-sini..

Beberapa dokumen untuk pengajuan Visa yang harus dilengkapi, misalnya, 1) Menterjemahkan akte nikah ke dalam Bhs Inggris. 2) Hasil Cek kesehatan, aku dan suami memanfaatkan cek total kesehatan tahunan dari pemerintah daerah di klinik dekat rumah, jadi hanya mengeluarkan biaya 5000Yen/ orang, padahal kalau di klinik besar bisa 2 kali lipat, dan asuransi dari negara tidak berlaku. Tetapi, tidak setiap klinik mau menerima atau menuliskan di format Health Certificate. 3) Kartu bukti vaksin meningitis, cukup mahal juga, 9000 Yen/ orang dan hanya bisa pada klinik-klinik tertentu aja, sesuai yang ditunjuk. 4) 在留カード zairyu kado, KTP Jepang, 5) 在学証明書zaigaku shomeisho, Surat keterangan dari tempat studi atau 就職証明書 shushoku shomeisho, surat keterangan dari tempat kerja.

Kalau menyitir persyaratan 4) dan 5), rasanya mustahil kalau tidak beridentitas warga asing, penduduk Jepang ini bisa ikut berangkat. Tetapi, beberapa teman Indonesia membawa orang tuanya yang khusu didatangkan dari tanah air.Bagaimana mereka bisa datang, itu adalah rahasia Ilahi,..rasanya kalau udah panggilanNya, dari mana pun juga bisa. Konon menurut kabar burung, mulai tahun selanjutnya, pemerintah Arab Saudi ini lebih selektif. Belakangan tahu, dan ternyata berlaku juga jamaah dari Indonesia berkaitan dengan kuota.

“Ibu dari mana?”, “Mbak dari mana?”, Pertanyaan sederhana ini, tentunya jawabannya juga ga ribet. Tapi kali ini pertanyaan ini tidak sesederhana biasanya. Karena kali ini aku beridentitas tak hanya ganda tapi juga bisa kwartet. Jawabannya itu bisa berbagai ragam. Bisa dari Jepang, dari Nagoya, dari Indonesia, dari Surabaya.

Hari pertama tgl 16 Oktober 2012 (Waktu Arab, selisih 6 jam lebih tua dari Nagoya), 2 Dzul, kami saling tatap muka kali pertama di bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Kami mulai bertegor sapa dan saling mengenal satu sama lain, di sini transit lama banget hampir 10 jam, sebelum diantar ke penginapan Mekkah. Selain proses imigrasi, claim bagasi, dan juga penyambutan Raja Arab secara khusus karena jamaah dari Jepang yang minoritas ini cukup banyak makan waktu.

Jumlah member dari travel yang kami ikuti ada 253 jiwa, berbagai usia, mulai yang bayi umur setahun. Rombongan ini terbagi 2 pemberangkatan, dari Kansai Osaka dan dari Seoul Korsel, kami bertemu di Istambul waktu transit dan sekaligus untuk ambil miqot, sebelum berangkat ke Jeddah.

Jika ada pertanyaan ”Dari mana?” jawabannya, kalau gak Korea ya Jepang. Baru kemudian Jepangnya mana? Atau Koreanya mana? Nah untuk sementara udah clear dengan jawaban ini. Giliran sampai di Mekkah, jika tetangga shaf sholat di Masjidil Haram, orang Indonesia, pasti akan juga nanya, nah di sini agak repot jawabnya. Lama-kelamaan aku temukan jawaban. Jadi kalau ada pertanyaan senada, aku jawab dari Surabaya, tapi berangkatnya dari Jepang, karena untuk sementara bertempat tinggal di Nagoya.

Rombongan dari travel ini terdiri dari 250an, sebagian besar (mungkin 80%) orang Indonesia yang sedang studi, kerja, atau pun pasangan hidup mereka orang Jepang atau orang Korea. Yang 20% terdiri berbagai Negara yang juga studi, kerja dan pasangan hidup mereka orang Jepang, misal India, Bangladesh, Pakistan, Mesir, Sudan, dll. Dan ada juga beberapa muallaf dari orang Jepang, Filipin, Korea, Kamboja kira-kira 15 orang, yang sebagian besar pasangan mereka orang asing. Ada juga beberapa diantaranya yang berhaji sekeluarga (anak-anaknya usia SD) dan juga yang membawa balita, dan juga beberapa diantara jemaah ada yang bumil, mereka semuanya baik-baik aja sampai kembali ke Jepang/ Korea.

Semua ritual yang dilakoni tanpa pembimbing ini menjadikan diri ini merasa kurang tapi juga sekaligus merasa lebih. Misalnya jika menemui kesulitan, kalau pun bertanya ke seseorang sesama jamaah yang berangkat dari Jepang, belum tentu jawaban yang aku peroleh bisa memberi pencerahan. Terkadang jawaban itu tambah membuat bingung, karena pemakaian bahasa yang tak klop. Tetapi semuanya itu menjadikan diri lebih bersyukur bisa menikmati yang bagi orang lain belum tentu mendapatkan kesempatan seperti ini.

Dan sebetulnya apa yang kita katakan dengan ketidaksiapan diri, hanya bikinan kita sendiri. Ternyata kalau rasa tidak siap itu kita halau, apa pun bisa terjadi. Karena undangan Allah untuk main ke rumahNya, tidak pernah salah alamat.

Cerita terkait:

Menuju Baitullah, Niat Surabaya Berangkat Nagoya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s