Sisi Lain Rasa Malu Jepang

Tempo hari. sempat posting tentang ‘malu’ dan ‘bugil’ yang ternyata tidak berkaitan, bisa dilihat  di “Bagi Orang Jepang, Bugil Tidak Mesti Malu”. Padahal dalam bahasa Indonesia, yang namanya bugil itu kan ya kelihatan kemaluannya, jadi ya logikanya harus malu, tapi ternyata beda ceritanya. Kali ini aku ingin berbagi cerita rasa malu dari sudut pandang yang lain.

Apa arti kosa kata yang berarti ‘malu’ ini dalam bahasa Jepang kalau dipreteli dari satu per satu hurufnya dan apa makna dibalik kata itu? Dalam bahasa Jepang ‘malu’ dituliskan dengan satu huruf kanji yang diadopsi dari huruf Kanjihaji = rasa malu, terdiri mimi = kuping dan kokoro = hati, dan 恥ずかしい hazukashii, itu berarti ‘malu’ bentukan dari kata sifat.

Jadi kalau rasa malu itu muncul bukan berhubungan dengan kemaluan yang bersifat fisik. Maksudnya, kemaluan itu selayaknya harus ditutupi untuk tidak timbulkan rasa malu. tapi lebih pada sifat psykis. Maksudnya, supaya tidak timbul rasa malu dikemudian hari, kupingnya dijaga untuk tidak mendengar apa pun, agar si hati itu tidak ternodai rasa malu itu. Untuk memahami itu, coba simak cerita yang aku alami Sabtu siang minggu lalu.

Waktu itu, berdua dengan seorang teman Jepang, pak Sasaki, sedang diskusi di sebuah Food court besar di sebuah mall di daerah Yagoto (Nagoya wilayah timur). Pak Sasaki, sedang mempersiapkan diri membuat proposalnya untuk masuk S3, tentang peran universitas di sosial masyarakat Indonesia. Beliau pensiunan perusahaan mobil Toyota, yang memiliki minat pada Indonesia.

Di tengah-tengah serunya kami berdiskusi, tiba-tiba ada suara bentakan dan makian keras dari mulut seorang laki-laki 50-an. Laki-laki itu memegang sebuah pet bottle bekas minuman di depan tempat sampah khusus botol. Yang kena damprat laki-laki itu, seorang ibu-ibu 65-an, seorang part timer cleaning service.

Keras sekali suara laki-laki itu, food court yang segede gitu dan tadinya ramai sekali, karena bertepatan makan siang, langsung dalam semenit, sunyi senyap, seakan mendengarkan guntur menggelegar. Saat laki-laki itu memaki-maki ibu part timer itu, tidak ada seorang pun yang melerai, tidak ada yang ikut-ikut, tidak ada suatu pembelaan untuk ibu itu. Hanya terdengar makian orang laki-laki itu yang datangnya dari sepihak saja.

Coba kalau di Indonesia, pasti sudah rame, dan mungkin semuanya akan membela ibu part timer itu. Dan bisa-bisa juga mungkin akan ada baku hantam melihat si laki-laki marah tak beraturan, sementara di depannya ibu itu yang hanya menundukkan kepala

Huuffhh,…hati ini jadi kesal melihat semua itu, kenapa kok gak ada yang membelanya sih. Karena dalam benakku, misalkan saja memang si ibu part timer itu membuat kesalahan, mbok ya dimaklumi, karena yang pasti ibu itu lebih tua dari laki-laki yang memakinya. Hanya posisinya saat itu si laki-laki pengunjung, yang dalam itungan kertas, lebih tinggi statusnya, walaupun kondisinya agak lusuh terkesan gembel.

Situasi dan kondisi kembali pulih, karena laki-laki itu keluar dari area food court setelah puas marah-marah tanpa lawan. Setelah dapatkan keterangan dari pak Sasaki yang sempat mengamati sesat sebelum kejadian, aku baru aku ngeh. Ternyata si laki-laki itu merasa tidak digubris atau disapa oleh si ibu part timer itu, waktu akan masukkan botol kosong ke tempat sampah.

Padahal sempat aku perhatikan, ibu-ibu itu sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Dia selalu tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada para pengunjung yang memasukkan sampah botolnya. Dan sesekali dia mengelap dengan serbet yang selalu dipegangnya untuk menjaga agar sekeliling tempat sampah itu tetap bersih.

Semua orang yang sedang berada di sana mengambil sikap diam. Mereka bukannya tidak mau membela, tapi mereka ternyata sedang membantu dan bersimpati pada ibu part timer yang sedang berjuang menjaga malunya. Yang susah aku pahami adalah sikap mereka semua yang membantu dengan cara diam.

Sikap diam seperti mereka itu, tidak sedikit pun sempat terbersit dalam benakku. Karena aku terlalu disibukan dengan kekesalan secara emosional waktu melihat peristiwa itu. Bisa dimaklumi, karena aku bertumbuh dibesarkan dilingkungan yang memaknai ‘diam’ itu dengan arti tak bertoleransi. Beda dengan orang-orang Jepang itu. Dengan ‘diam’, berarti mereka juga telah membantu agar permasalahan tidak meruncing. Karena jika meruncing dan jika urusan berbuntut panjang, bertambah beratlah si ibu part timer itu menanggung beban malunya.

Kenapa orang Jepang mempunyai skema pemikiran seperti itu? Jika di runut dari sebuah perjanjian yang menjadi dasar dari segala aktivitas, pertanyaan itu bisa aku urai sedikit demi sedikit. Rasa Malu ibu part timer itu terbentuk dari perjanjian antara dirinya sebagai part timer dan perusahaan cleaning service tempatnya bekerja yang menjadi mitra dengan mall tempat kejadian.

Karena isi perjanjian itu juga memuat agar selalu bisa mencegah timbulnya segala bentuk celaan dari pengunjung mall yang bisa menjadikan malu perusahaan. Dan secara kebetulan ada orang yang sedikit stress, yakni si pengunjung laki-laki itu masuk ke dalam di antara dua pihak yang yang sedang terikat dalam sebuah perjanjian tersebut, terbentuklah rasa malu ibu part timer.

Gambaran sifat manusia Jepang yang tidak suka memunculkan diri dengan agresif terlihat disini. Mereka cenderung ‘menjaga’ lingkungannya di mana saat itu dia berada, dengan cara tidak menonjolkan diri. Ibu part timer itu hanya memilih diam menahan malu, daripada menonjolkan diri dengan suatu pembelaan.

Rasa malu itu dikarenakan ada orang yang masuk, sementara dia terikat dengan pernjanjian untuk menjaga malu. Dan sikap orang-orang yang berada di situ hanya diam, ikut menjaga agar ke-malu-an (baca:rasa malu) ibu part timer itu tidak melebar. Sudut pandang dalam menyikapi rasa malu mereka ini, sepertinya berbeda dengan oramg Indonesia. Jarak komunikasi non verbal mereka, secara fisik lebih dari 70cm. Dan hal ini mempengaruhi sewaktu berinteraksi. Mereka sangat memperhatikan 距離を取るkyori wo toru, menjaga jarak, dalam segala jenis komunikasi. Pemikiran inilah yang menjadikan mereka memilih diam.

Dalam subway yang membawaku pulang, sempat teringat peristiwa itu, “Apakah mungkin sebuah DIAM itu bisa menjadi senjata untuk menuntaskan sebuah konflik, sedangkan kita bertumbuh pada lingkungan yang mengabaikan DIAM itu?” pertanyaan itu bergayut di kepalaku…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s