Menuju Baitullah, Niat Surabaya Berangkat Nagoya

“Mainlah ke Rumah Allah, pasti kamu akan temui perjalanan spiritual yang ga bakalan kamu temui selama ini, jika kamu mau ‘membaca’nya” Celetuk seorang kakek-kakek. Ingat betul aku wajah orang itu. Item, ompong, botak, dan penampilannya ga masuk itungan pada umumnya orang. Dan tulisan ini, salah satu tanda aku dalam proses ‘membaca’.

Sepanjang perjalanan dari Bandara Juanda sampai Bandara Centoria (Nagoya) aku kebayang terus wajah dan cara ngomongnya yang bernada sedikit pedes. Itu cerita akhir Maret 2012, saat waktu aku mudik Surabaya, untuk presentasi di salah satu Universitas di Bogor.

Sampe di apartement, cerita ke anak dan suami. Kayaknya lebih baik tahun ini berangkat Haji, gak ada untungnya menunda. Karena aku merasa sudah “cukup” dan merasa “malu”. Dua alasan itu aku kemukakan ke mereka berdua. Aku sudah merasa cukup akan nikmatMu selama ini. Dan aku malu tuk menyatakan, bahwa tabungan belum juga cukup, yang ternyata sebetulnya aku tidak pandai mengatur perbelanjaannya saja.

Aku merasa cukup Kau mencubit aku dengan kenikmatan-kenikmatan dunia semu. Dan aku malu, ternyata aku tidak juga menjadi cerdas menangkapnya untuk menjadikan sesuatu lebih baik. Ya Allah, pertajam hati dan jiwa ini untuk menangkap sinyal-sinyal dariMu. Supaya tidak ada lagi alasan-alasan lain yang akan menjadikan ibadah ini selain karenaMu. Doa ini yang mengkuatkan tekat kami berdua untuk bertandang ke rumahMu dalam 7 bulan kedepan, sejak itu.

Setelah Golden Week berakhir, sekitar awal Mei, mulai hunting info berHaji dari sini. Mencari-cari informasi seputar haji memerlukan kesabaran juga, apalagi aku tidak aktif mengikuti kegiatan seputar komunitas Muslim di Nagoya. Ada banyak alasan kenapa seperti itu. Awalnya karena sikon akibat kekerasan hati ini untuk bisa menaklukkan kerasnya hidup sebagai mahasiswa asing di negeri orang. Jadi, merasa tidak miliki waktu yang cukup. Padahal itu sebetulnya hanya alasan kilse belaka.

Kenapa aku bisa terdampar di sini, ini sebetulnya timbul dari dalam hati yang paling dalam, sebagai mana umumnya para emak, pengen terus bisa berlama-lama dengan buah hati. Dan inilah cara yang aku pilih, yakni terus belajar dan belajar sambil menemani belajar si anak. Semoga masih diberi kesempatan oleh Yang Kuasa tuk terus bisa belajar bersama sampai si anak merasa cukup waktunya untuk terjun ke masyarakat.

Kembali menyoal Haji. Akhirnya dapatkan informasi Air 1 Travel dan Mian Travel. 2 travel ini, yang direstui untuk memberangkatkan Haji dari Jepang dan Korea. Dan ternyata KBRI Tokyo juga mengadakan. Negara Jepang, awalnya aku dengar hanya berkuota 150 orang. Tetapi pada pelaksanaannya ada 250an. Tulis mail ke kedua travel, untuk menimbang-nimbang. Dan akhirnya memutuskan Air 1 Travel. Ada 2 macam paket yang ditawarkan. 345 ribu Yen, untuk harga mahasiswa (termasuk mahasiswa traning, dan pekerja magang) dan 400 ribu Yen keatas untuk harga umum (tergantung 1 kamar isi berapa orang). Kalau tanpa pesawat, hanya 195 ribu Yen (untuk gampangnya, 1 Yen = 100 Rp).

Walaupun hanya diperlukan waktu 20 hari (termasuk perjalanannya), sempat membuat kami berdua maju mundur. Sebetulnya, berharap juga anak bisa gabung. Tapi, mana ada di sini, seorang mahasiswa, minta ijin untuk berHaji? Sementara dalam benak mereka, berHaji itu tidak beda dengan travelling biasa. Malah ada yang celetuk, kenapa tidak dimajukan saat liburan musim panas saja, khan hanya selisih sebulan, walah,..cukup susah juga menjelaskan pada orang-orang Jepun itu.

Kalau bersangkutan dengan kegiatan kuliah dan kegiatan mengajar, aku tidak mengalami hambatan. Hanya konsultasi dengan pembimbing di kampus tempat studi, dan juga bikin surat ijin tertuju langsung pada Rektor di kampus tempat mengajar. Yang mengherankan surat ijin itu sudah harus diserahkan 3 bulan sebelum berangkat. Inilah resikonya hidup di negara yang serba terencana. Yang agak susah bersangkutan dengan ijin kerja suami. Tapi dengan kemauan keras dan tekad, menjadikan kami berpikir, apa pun pasti ada jalan, kalau memang Allah sudah membukakan pintu rumahNya bagi yang berniat mengunjungiNya.

*Bagian dari cerita: “Serpihan perjalanan menuju rumahMU, Okt’ 2012”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s