Bagi Orang Jepang, Bugil Tidak Mesti Malu

Bagi orang Jepang umum, yang tidak bekerja diseputaran pornografi, kata bugil ini tidak berkaitan secara langsung dengan perasaan malu. Maksudnya, pada saat orang bertelanjang bulat, perasaan malu tidak mesti harus muncul. Tetapi, saat berpakaian lengkap pun perasaan malu besar yang melebihi saat tak ada selembar benang di tubuhnya, bisa juga muncul. Bagaimana perasaan malu orang Jepang, sehubungan dengan bugil?

Minggu siang kemarin, waktu menemani suami ganti ban mobil, karena diperlukan waktu 10 menit, oleh karyawan bengkel, dipersilakan menunggu di lobby. Suasananya sangat nyaman, rak buku dengan berbagai buku tertata rapi, menarik perhatianku. Setelah aku perhatikan, majalah orang dewasa dan buku cerita bergambar anak ada dalam satu deret rak, tidak dibedakan. 

Satu majalah dengan halaman per halamannya dipenuhi cewek-cewek muda dan cantik yang tak berbaju ini tuntas aku buka. Berpindah majalah yang satunya lagi, hampir mirip juga isinya. Kalau majalah seperti ini, puluhan tahun silam, saat pertama kali baru mengenal Jepang, pasti aku terheran-heran. Tapi sekarang lebih tertarik pada alasan, kenapa hal tersebut dianggap lumrah, tidak seperti di belahan dunia lain yang bisa menjadikan suatu kehebohan.     

Pernah dengar Onsen? Onsen adalah pemandian air panas, dan menjadi salah satu kebutuhan orang Jepang sebagai tempat tujuan rekreasi, melepas segala rutinitas hidup. Hampir seluruh kepulauan Jepang adalah tanah vukanik, di mana-mana bisa ditemukan onsen. Ada orang ngomong, kalau lagi travelling dan tidak pergi ke Onsen, belum bisa dikatakan pernah menginjakkan kaki di Jepang. Saat masuk kolam onsen, tidak diperbolehkan memakai baju renang, apalagi baju biasa, harus masuk dengan tanpa selembar baju pun. 

Kembali menyoal bugil, data terbaru tahun 2012, kalau jumlah onsen ini ada 21.470, dengan pengunjung 120.061.329 orang, bisa dibayangkan, dalam sehari, ada berapa orang yang berbugil ria di fasilitas umum yang tertutup ini? Peraturan masuk onsen harus dengan tanpa baju, salah satu alasannya adalah, baju yang menempel badan, dianggap penyebab menularnya penyakit kulit. Jadi, harus melepas semua pakaian dan tentunya sesama jenis kelamin, kecuali batita (bawah tiga tahun). Di onsen tertentu, ada fasilitas untuk keluarga, jadi laki-laki dan perempuan dewasa, bisa masuk bersama-sama dengan anak-anaknya juga.

Dengan begitu, orang-orang Jepang ini terbiasa sekali melihat orang lain bertelanjang bulat, jadi bugil ini pun hal yang lumrah. Kalau kita lihat di kombini-kombini (mini market) sekitar rumah, banyak laki-laki mulai usia remaja sampai kakek-kakek membuka-buka majalah sambil berdiri berjejer di depan rak. Kalau yang perempuan, biasanya beli dan dibawa pulang. Di dalam kereta yang padat, para pekerja kantoran berjas, membuka lembaran koran yang seperempat halamannya terpampang bintang besar berbikini yang hanya 10 % dari bagian tubuhnya tertutupi, ini pun pemandangan yang tidak luar biasa.

Mengapa orang Jepang, begitu mudahnya menampakkan ketelanjangan tubuhnya? Salah satu alasannya, mereka memiliki anggapan bahwa tubuh manusia adalah bagian dari alam, dan manusia Jepang adalah manusia pengagung alam semesta. Anggapan ini, sejak pertama belajar budaya Jepang sudah aku ketahui. Tetapi, masih juga terbegong-bengong saat aku diajak keluarga home stay pergi onsen pertama kali. Hanya mampu terheran-heran melihat banyak orang berlenggang berjalan santai tanpa menutupi kemaluannya dan tidak perlu merasa malu.

Bagaimana dengan halnya foto model yang berpose tanpa busana? Apakah karena alasan tubuh manusia itu bagian dari alam, sehingga mau berfoto bugil? Ternyata bukan itu alasannya.  Adanya sebuah pernjanjian yang menyebabkan, kenapa dalam diri foto model itu tidak timbul malu. Alasannya, karena perjanjian antara dirinya dengan si penerbit buku porno itu terlaksana dengan baik. Bukankah gambar-gambar dirinya itu diterbitkan tujuannya untuk di baca orang lain, dan foto itu terpampang ditujukan untuk timbulkan hasrat seksual, jadi dia harus bergaya semenarik mungkin. 

Klop lah tujuan dari si foto model itu dengan penerbit sesuai dengan isi tujuan perjanjian, dengan begitu, malu itu tak terkaitkan sama sekali. Selama pihak atau orang lain yang tidak terkait secara langsung dengan perjanjian tidak turut cawe-cawe, si foto model pun ini tak perlu bergeming, karena kedudukan sebuah perjanjian itu kuat. Tidak akan gentar diprotes oleh seseorang atau perkumpulan tertentu yang mengatas namakan moral.

Oleh karenanya, waktu mengamati mereka membuka lembaran-lembaran majalah yang berisi gambar orang tak berbaju, tak perlu dengan mencuri-curi pun, jelas terpampang apa yang mereka buka, lihat dan baca. Terus bagi orang yang baca, tidak perlu malu juga, karena hanya ada keterikatan peraturan antara dirinya dan penerbit. Begitu juga pembeli, peraturan yang mengikatnya adalah, hanya aturan jual beli saja, selebihnya tidak ada.

Ada suatu kekontradiksian, sebagian dari pembaca buku di tempat umum (dalam kereta, misalnya), membaca dengan cover buku yang ditutupi dengan sampul khusus yang sengaja mereka beli, kendati isi buku tak berbau porno sekali pun. Padahal yang sebagian lainnya, majalah yang bugil-bugil dibuka-buka tanpa malu-malu.

Orang tersebut, hanya tidak ingin, ada pihak ke tiga (misalnya, orang lain yang disebelahnya) mencuri-curi, ingin tahu apa yang sedang dibacanya. Mungkin dia merasa jengah, misalnya malu akan kualitas isi buku yang sedang dibacanya. Maka untuk menutup rasa malunya, dia akan menutup cover buku itu. Itu sebabnya banyak cover buku itu dijual murah dengan kualitas dan jenis bahan yang bagus.    

Mereka memang menganggap tubuh manusia adalah bagian dari alam. Tetapi jika tidak terikat dengan suatu perjanjian, tubuh yang tertutup rapat pun dijaganya dari rasa malu. Malu dan moral tidak berkaitan. Oleh karenanya, malu dan bugil pun tidak berkaitan juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s