Nilai Seutas Nyawa Manusia Jepang

Sensei, saya hanya ingin memberi kabar, Sato san kemarin sore berpulang, disinyalir bunuh diri….” Telepon dari Sakibara san malam itu, seperti petir, nyambar ditelingaku.

Beberapa hari yang lalu aku masih mengajar Sato san di kelas kursus Bahasa Indonesia yang diselenggarakan oleh perusahaan tempat bekerjanya. Masih teringat jelas, contoh kalimat yang dia bikin terakhir waktu kursus, 4 hari sebelum meninggal, “Tiap Minggu pagi dengan anak laki-laki melihat filem seri Ksatria Baja Hitam”. Begitu bangganya dia dengan serial filem ini yang juga menjadi tren anak-anak Indonesia.

Sato san 42 tahun. Berposisi manager di sebuah mitra perusahaan pabrik besar Toyota yang siap ekspansi ke Cikarang. Untuk itu aku disewa oleh perusahaan Sato san sebagai instruktur Bahasa Indonesia, di antara 10 pengikut kursus dia tergolong rajin dan aktif. Dia meninggal dengan tenang dan memilih tempat yang ternyaman menurut dirinya saat memutuskan mengakhiri hidupnya.

Beberapa hari terakhir ini TV Jepang diramaikan dengan berita bunuh diri Ibu kandung Utada Hikaru, penyanyi kelas dunia yang memulai debutnya tahun 1990, dengan lagunya “First Love”. Keiko Fuji (62 tahun), memilih meninggalkan dunia ini dengan cara terjun dari apartemen mewah berlantai 28 di Shinjuku Ward, Tokyo, hari Kamis pagi tanggal 22 Agustus 2013. Sebagai penyanyi terkenal dia masih tetap eksis sampai 3 tahun terakhir ini, sebelum ditayangkan berita adanya keretakan hubungan dengan si anak. Hidup dengan situasi rumah tangga yang hancur dan perselisihan dengan anaknya itu yang memicu bunuh diri.

Tidak hanya peristiwa itu, bertahun hidup di Jepang beberapa kali aku mengalami terjebak dalam kereta stasiun bawah tanah subway menunggu evakuasi korban kejadian bunuh diri menabrakan diri pada kereta. Korbannya seorang gadis SMA dan mahasiswa dan pekerja yang masih mengawali karier, tiga kali aku mengalaminya. Berharap tidak ingin menemui seperti ini lagi, dalam sisa beberapa bulan kedepan tinggal di sini.

Bagaimana alam pikir manusia Jepang ini pada saat memutuskan untuk menggunting seutas nyawa ini. Begitu mudahnya, begitu tajamnya alam pikirnya untuk memotong seutas nyawa, atau selembar nyawa atau istilah lain untuk memberi kesan ringannya nilai sebuah nyawa. Info terkini, tercatat dalam 16 menit ada 1 manusia Jepang melakukan 自殺 jisatsu, bunuh diri.

Tingginya biaya hidup, termasuk biaya pendidikan anak pada jenjang Perguruan Tinggi. Persaingan yang ketat dalam lingkungan sekolah, kampus, kerja, rumah. dimana mereka beraktifitas, menyebabkan kekakuan dalam berinteraksi. Satu sama lain tidak bisa saling curhat dengan leluasa. Kekakuan itu tidak sanggup membawa jiwanya menjadi cair, karena tidak memiliki kemampuan untuk mengeluarkan isi hati.

Karena meningkatnya angka bunuh diri ini, kalangan praktisi pendidikan, hukum, dan pemerintah daerah gencar melakukan berbagai cara. Tapi apalah enak jika kita mau curhat, harus melalui janjian via loket konsultasi. Bisa-bisa curahan hati ini sudah berubah bentuk seiring berjalannya waktu menunggu antri berkonsultasi

Yang masih menjadi pro kontra, adalah adanya pencairan claim asuransi meninggal akibat bunuh diri. Banyak kalangan laki-laki bisnisman (white collar) usia produktif sekitar 40~55 tahun, yang melakukan bunuh diri untuk menutup malu pada anak dan istrinya. Kebanyakan dari mereka adalah tulang punggung tunggal ekonomi keluarga, istri di rumah mengasuh anak. Masa menjelang anak masuk Perguruan Tinggi, cicilan rumah juga belum kelar, dll, niatnya ingin menunjukan kesan tanggung jawab pada keluarganya, cara bunuh diri ini, yang mereka ambil.

Kembali ke kasus mendiang Sato san, mencoba mengingat, pikiranku melayang saat terakhir memberikan pelajaran. Dia dengan sengaja 10 menit datang lebih awal, berbincang-bincang apa saja tentang Indonesia. Ingin rasanya aku kembali memutar ingatan, ingin mengetahui apa yang ada dalam pikirnya saat disela-sela mengobrol. “Kenapa bunuh diri diambil sebagai jalan pemecahan masalah hidup Sato san?”, pertanyaan ini bergelayut sampat sekarang dalam benakku.

Kenapa begitu? Karena masyarakat Jepang sudah banyak berpendapat, ada kesan pengecut jika mundur (baca: bunuh diri) dari arena percaturan hidup manusia, dan Sato san mengetahui juga tentang hal ini, dan aku yakin Sato san bukan golongan orang pengecut. Pasti dia mempunyai alasan yang lain.

Masyarakat Jepang dewasa ini, banyak yang sudah bergeser dari anutan “filosofi bunga sakura”, yakni rontok tertiup angin, pada saat mekar-mekanya bunga. Mereka akan mengakhiri hidupnya saat ada di posisi top. Sehingga namanya lebih mudah dikenang, karena sakura dalam setahun hanya bisa dinikmati selama 10 hari, waktu mekarnya bunga.Selebihnya, selama 355 hari, hanya berupa pohon yang dipenuhi ranting dan dedaunan biasa

Kembali pada akar budaya suatu bangsa yang berpengaruh besar pada alam pikir individunya. Alam pikir yang mendorong untuk memutus “seutas tali nyawa” ataukah lebih mempererat talinya untuk mempertahankan hidup didunia dengan segala permasalahanya. Bagi kita yang percaya adanya Tuhan, nyawa adalah bukan milik kita, tapi milik yang Kuasa. Dan Sato san ini ternyata tidak sekuat dan seteguh ksatria baja hitam. Atau kah justru kebalikannya ya, dia merasa menjadi kuat dan maha berkehendak seperti ksatria baja hitam yang setiap kali dipakai untuk membuat contoh kalimat, dan selalu dibanggakan bisa menumpas kejahatan, sehingga merasa berhak menggunting utasan nyawa sendiri.

Jika waktu terakhir bertemu, aku tahu kalau Sato san berniat akan menggunting utasan nyawa dirinya, pastilah aku akan berikan komentar, bahwa いのち inochi nyawa adalah hak mutlak milik Yang Kuasa, kita manusia hanya melakoninya untuk berbuat sebaik mungkin. Sayang aku juga bukan da’i yang punya posisi di hati tersendiri bagi orang-orang Indonesia. Sato san hanyalah salah satu dari manusia Jepang yang belum tentu mau memperdulikan peran-peran semacam da’i, sebelum dirinya merasa uzur.

*seharian ini ndekem di rumah, menikmati flu dan suara hujan dari dalam rumah,..agak adem 29 derj,

2 thoughts on “Nilai Seutas Nyawa Manusia Jepang

  1. Iyaah ni bu. di okayama jg udh mulai adem.. Malah mlm ni dh 22 der.. Hee
    Wajar tinggal di desa terpencil d desa wake prefektur okayama😀

    Tulisan ibu memberi bnyk wawasan ttg k jepang k sy.. Kynya sy bakal jd folloer blog ibu ni😀

    Sy jg paling 2 bln lg ni plg k indonesia..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s