Panasnya Surabaya Lebih Adem Dari Nagoya

Sejenak menjauh dari rutinitas Nagoya, mendekat ke tanah air tercinta, banyak sekali catatan-catatan diri yang menyadarkan diri ini kecil tapi tetap harus berpikiran tidak kecil.

Musim panas di Nagoya ini sungguh menyiksa kami bertiga, oleh karenanya begitu ada keputusan tiket mudik kepegang tangan, kami siap menyambut panasnya Surabaya, kota tercinta. Eeehhh, diluar dugaan, begitu mendarat, Surabayaku ini masih lebih adem lhooo.

Keluar apartemen menuju  ke Bandara Centoria Nagoya, di Kanayama stasiun subway, bertemu dengan sesama teman muslim yang akan berangkat sholat I’ed, tahun ini dipusatkan di daerah dekat pelabuhan Nagoya. Karena tidak bertepatan dengan libur weekend, seperti tahun-tahun sebelumnya, kayaknya ya adem ayem aja, greget hari raya tak terasa sama sekali. Karena yang kerja, jelas tidak bisa dapatkan ijin, yang kuliah, belum tentu bisa minta ijin, kecuali yang sudah pada tahap penyusunan tugas akhir.

Biasanya waktu sholat I’ed, bisa bertemu dengan sesama saudara muslim dari berbagai belahan dunia  ini memang sesuatu banget. Kadang mengumandangkan  takbir sambil menangis, karena ga bisa membendung kerindunan tuk bersua bersama keluarga besar. Sambil tengok kiri kanan, ternyata teman di kiri dan kananku juga sama. Lha yah lah, hal semacam itu, nilai plus bagi aku. Tidak semua orang merasakan rasa seperti ini. Bersyukur dapatkan kesempatan seperti ini, menangis bersama saudara muslim dari belahan dunia lain. Merasakan diri ini kecil, ketika berada di tengah mereka.

Tahun ini, tak juga aku dapatkan kesempatan menangis itu, tak juga ada dipelukan keluarga besar, karena susahnya tiket ini, kesempatan itu hilang, memaksaku ada di burung besi. Beberapa hal harus aku perhatikan waktu aku berpindah tempat hidup sementara dari Nagoya ke Surabaya. Masih juga aku harus mengingatkan anakku tuk mengistirahatkan tangan kirinya sebelum mendarat. Setiap kali mudik, hal seperti ini yang salah satu yang harus aku perhatikan. Karena selama hidup di Nagoya. tangan mana pun juga ga masalah, keduanya miliki fungsi sama. Tidak ada istilah tangan manis atau pun tangan jelek.

Rute transitku kali ini, Nagoya-Taipeh, Taipeh-Singapura, Singapura-Surabaya. Begitu masuk boarding di Taipeh, puluhan teman-teman yang mengadu nasibnya di negara Taiwan ini beberengan masuk dalam pesawat yang sama. Mendengarkan obrolan mereka, menanggapi pertanyaan mereka, merespon komentar mereka, menjadi merasa kecil. Mereka orang-orang hebat, mempertaruhkan harga diri, dan tetep menjaga kehormatan bangsa, sayang sekali petinggi bangsa ini masih kurang juga pembelaan pada orang-orang yang kita labeli dengan pahlawan devisa ini.

Merasakan repotnya hari pertama lebaran, kami putuskan taksi bandara, begitu mendarat. Dari sini, perubahan mencolok terlihat selama perjalanan ke rumah. Penggunaan Lampu Dim kebalikan, kalau dinyalakan berarti minta diutamakan, kalau aturan lalu lintas Jepang, menyalakan lampu adalah pemberian prioritas bagi lawannya.

Dan malampun masih juga terdengar bunyi Klakson. Hehehe, bertahun hampir tak mendengar bunyi klakson. Bunyi klakson terdengar nyaring dan dibunyikan dalam waktu lama hanya untuk penghormatan dalam prosesi pemakaman. Lhaa, beda banget di Indonesia ini, bahkan ada yang nyeletuk, katanya kalau sudah terserempet, akan keluar komentar, kenapa kok ga diklason, jadi ya gak tahu kalau akan nyalip atau sudah posisi mepet-mepet. Semuanya serba berbalik situasi dan kondisinya.

Malam mendarat langsung besoknya ke keluarga besar di daerah Kediri kota tahu. Sepanjang perjalanan, kanan-kiri jalan, spanduk-spanduk yang wajah para pejabat terpampang. Apa karena besarnya rasa kekuatiran wajah mereka tidak dikenali khalayak umum ya, sehingga potret diri mereka besar-besaran mau saja tertempel tersebar di jalan-jalan. Ahh, kok jadi tidak terkesan ekslusif ya, harusnya khan ada cara tuk mempromosikan diri dengan cara yang lebih intelek dan ekslusif.

Beberapa hari menikmati hawa Surabaya dan atmosfir negaraku tercinta ini. Yang orang lain rasakan sebagai kekurangan aku merasakan suatu kelebihan. Sebaliknya, juga demikian, saat aku merasakan ketidak puasan mendalam, aku berusaha mengolahnya menjadi energi posistif, karena aku pikir mereka tidak alami seperti perasaan yangaku alami, dengan begitu aku merasa lebih kaya dari mereka.

Ah, lebih tersadar negara Indonesiaku yang besar ini, tidak akan kalah dengan bangsa lain, kalau kita tahu titik kelemahan yang bisa berbalik menjadi sebuah kekuatan. Bagaimana pun juga Indonesia masih juga akan selalu kurindukan, jika pada saatnya aku harus balik ke dunia nyataku di Nagoya.Dan rasa optimisku masih juga membara, terbukti saat sekarang ini, Surabaya-ku masih terasa adem, daripada musim panasnya Nagoya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s