Kepikunan?? Ooh Tidak!!

Kepikunan, sepertinya sudah resmi menjadi musuh sosial masyarakat Jepang dewasa ini. Dan mereka masih terus menggali memperingan pemasalahan ini, karena semua orang tahu, bahwa manusia hidup dengan atribut panjang usia ini, tidak bisa menghindarnya. Dengan selalu sehat dan tidak pikun, setidaknya bisa untuk mengolor waktu menjadi orang yang berarti dalam lingkungannya. Dengan begitu tidak menjadikan beban, justru menjadikan manfaat bagi orang lain, sesuai dengan sisa-sisa energi yang dimilikinya.

Mane Chan, seorang wanita tengah baya, yang sering banget menjadi partner diskusiku ditengah rutinitasku sebagai pelajar dan pengajar di dunia yang jauh dari tanah air ini, suatu hari, bercerita tentang ibu mertuanya. Kiyoko Obaachan, demikian orang-orang menyebutnya. Usianya memasuki tahun ke 85, masih terlihat sehat dan aktif mengikuti kegiatan-kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh yayasan silver club.

Kiyoko Obaachan, hidup dengan anak dan menantunya dan seorang cucunya yang belum menikah. Kira-kira 10 tahun yang lalu, Kiyoko Obaachan pernah terserang kepikunan yang hebat. Saat itu usia 75 tahun, yang sebetulnya masih tergolong “muda” untuk ukuran orang Jepang ini, karena usia rata-rata harapan hidupnya untuk wanita adalah 86. Sampai sekarang masih banyak yang berusia hampir 100 tahun, masih dalam keadaan “sehat” sesuai dengan usianya. Bahkan kaum manula usia 70-80 tahun yang masih mengemudikan kendaraan masih terlihat, terutama di kota-kota kecil yang fasilitas kendaraan umumnya terbatas.

Tingginya angka harapan hidup ini juga ditandai dengan bemunculan panti jompo yang menawarkan berbagai produk. Sebagian besar bekerja sama dengan pemerintah daerah, karena itu hampir semua kaum manula ini masuk ke panti itu walau biayanya tidak sedikit. Produk yang ditawarkan, dan banyak peminatinya, misalnya daily care, setiap 2 hari sekali dijemput dan seharian di sana untuk bersosialisasi. Pada saat itu juga mendapatkan pemeriksaan kesehatan, membersihkan badan (mandi berendam ofuro) dll.

Dengan begitu orang-orang rumah yang biasa merawatnya, memiliki waktu bebas sejenak dari kerutinitasan merawat orang tua. Dan bebas melakukan untuk kegiatannya sendiri, karena memang merawat keluarga yang sudah berusia manula ini tidak bisa ditinggal dalam waktu lama. Jadi banyak kaum manula yang diopeni oleh orang yang sudah tua berusia 60 tahunan keatas. padahal mereka baru saja bernapas lega terbebas kewajiban menghantar anak terjun ke sosial masyarakat, harus sudah bersambung dengan merawat orang tua mereka menyambut masa tua.

Kepikunan Kiyoku Obaachan itu ditandai dengan hal-hal yang ringan yang bisa membuat kerepotan. Misalnya, selalu terbawanya sandal khusus untuk toilet ke dalam ruang makan, padahal tabu banget. Duduk manis di meja makan, padahal sejam sebelumnya baru selesai makan siang. Sering kali tersesat balik rumah, waktu bepergian sendiri, mengikuti kegiatan di panti-panti sosial dekat dengan rumah. Nah kalau sudah seperti ini, orang-orang sekelilingnya menjadi repot, karena bawaannya selalu uring-uringan.

Untuk mengatasi kepikunan mertuanya, mane chan mengikuti ceramah dan dapatkan satu info, bahwa dengan melipat-lipat origami bisa kembalikan ingatan atau setidaknya kepikunan itu tidak bertambah. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, misalnya memilih jenis kertas origami yang beraneka warna dan corak yang menarik. Memilih 2 macam lipatan yang mudah dan sifatnya berulang. Menggunakan alat gunting yang aman untuk memotongnya. Menyiapkan stiker kecil-kecil untuk memberi sentuhan pada hasil origami.

1375583709174217532613755838111538574227

Dan inilah salah hasil Kiyoko obaachan. Model origami baju T-shirt, satu lembar kertas dipotong menjadi dua. Satu lagi karyanya berupa kotak kecil untuk tempat sampah sementara yg selalu diletakan diatas meja untuk membuang sampah plastik permen, ataupun kupasan kulit jeruk, buah yang paling disukainya. Dengan terapi ini Mane chan merasa puas, walaupun efeknya meja belajarku selalu dipenuhi hasil lipatan Kiyoko Obaachan, karena aku menjadi target tetap penerima hasil origaminya🙂.

Dengan ketelatenannya itu, kepikunannya berkurang, walau usianya bertambah. Kiyoko Obaachan sampai sekarang masih bisa menyiapkan makan siang sendiri, saat darurat tidak ada orang di rumah. Bisa dititipi angkat jemuran juga. Dan yang paling penting, sandal toilet sudah tidak terpampang lagi di ruang keluarga.

Banyak sekali cerita-cerita yang bisa digali berkaitan dengan masalah tersebut. Yayasan semacam silver club ini banyak sekali dan ada disetiap kantor pemerintahan daerah. Kenapa kata silver dipakai untuk nama? Ya, karena anggotanya hampir semuanya beruban putih keperakan. Mereka mempunyai banyak kegiatan, yang disesuaikan dengan tingkat kesehatan dan aktivitas membernya. Misalnya, membuat tatami (lantai bertikar untuk ruangan model tradisonal), menjadi pemandu bis kota, pengajar bahasa Jepang untuk orang asing, pemandu tempat wisata yang ada di daerah itu, dll.

Semua kegiatan itu, bersifat sosial dan dibina oleh bagian kesejahteraan pemerintah daerah. Walaupun dikatakan sosial, mereka tetap mendapatkan upah dari jasa tersebut. Selain itu, yang terpenting mereka bisa berkomunikasi yang positif. Hal itu terbentuk dikarenakan adanya fenomena kaum manula ini yang menghabiskan uang tunjangan hari tua dari pemerintah ini di rumah-rumah minum, game center yang menawarkan kesenangan semu, termasuk pachinko (pinball).

Mengapa seperti itu? Kesepian, itu yang menjadi alasan utama. Karena alasan ingin mandiri dan alasan tidak mungkinnya mengharapkan anak cucunya bisa sering menengoknya, karena kondisi tuntutan hidup yang keras. Semua saling menyadari, karena itu tidak ada orang tua yang menuntut anaknya untuk sering mengunjunginya secara rutin. Satu orang kaum muda yang produktif mensupport 4 orang manula. Sehingga pajak penghasilan mereka cukup tinggi. Ini fenomena sosial yang sedang dihadapi negara Jepang ini.

Menyalurkan kearah kegiatan yang positif untuk para manula ini menjadi penting tatkala piramida penduduk ini berbalik dengan angka pertambahan penduduk. Kalau mau dibandingkan, berarti negara kita masih lebih ringan ya, karena masyarakat Jepang ini tidak hanya menangani kegiatan positif para generasi mudanya, tetapi juga untuk kaum manulanya.

Semua kegiatan yang positif, bertujuan untuk menjadikan baik bagi dirinya dan lingkungannya. Misalnya kegiatan pengajian rutin, arisan keluarga, reuni haji. atau sekedar momong cucu yang ada di Indonesia. Dan kegiatan-kegiatan kemanusiaan lain yang tidak melibatkan keluarga ataupun tak bersangkut paut dengan kegiatan keagamaan yang ada di Jepang. Inti dari semuanya itu yang terpenting adalah tetap sehat tidak pikun, sehingga sampai tua hidupnya tetap mempunyai arti, tidak membebani anak, lingkungan masyarakat di mana dia hidup untuk menghabiskan masa tua yang indah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s