Ada Apa Di Balik Lipatan Origami?

13754796341289043624

Tempo hari, aku sempatkan untuk memenuhi ajakan Handa sensei untuk mengunjungi 兵庫児童館Hyogo Jidokan yang dipimpinnya, di kota Togo, 40 menit kearah Timur dari Nagoya. Jidokan adalah fasilitas yang dikelola pemerintah daerah, bekerja sama dengan pihak swasta diperuntukan sebagai tempat berkumpulnya anak-anak sepulang dari sekolah.

Di Jidokan ini anak-anak bebas bermain, dimonitor oleh beberapa guru pengasuh dengan fasilitas-fasilitas yang memadai. Misalnya jika si anak tertarik menari, maka akan pelatih yang didatangkan dan mereka berlatih di ruangan yang ada kaca besarnya. Atau juga jika mereka tertarik sepak bola, ada fasilitas lapangan bola di dekat Jidokan ini. Tidak hanya itu, kegiatan les privat pelajaran pun juga disediakan. Dan pelatih-pelatih amatir itu biasanya para mahasiswa yang direkrut sebagai pekerja part timer. Jadi si anak pulang sekolah sudah kelar kerjakan PR nya.

Jidokan sebagai salah satu wadah pemusatan kegiatan anak usia SD. Dengan begitu, masyarakat dan orang tua lebih mudah memonitor kegiatan anak-anak. Karena di Jidokan ini juga menerima penitipan anak yang ke dua orang tuanya bekerja, setidaknya sampai waktu makan malam, mereka tidak sendirian di rumah. Dan juga sebagai fasilitas untuk pembentukan komunitas kelompok pada usia awal sebagai calon anggota masyarakat sosial.

Kenapa orang Jepang lebih suka masuk pada komunitas kelompok yang sama. Mungkin ini juga sebagai awal muasalnya kenapa mereka suka bergerombol membentuk komunitas yang sejenis. Atau mungkin karena cuaca yang sering kali tidak menentu dan bencana alam kerap terjadi, sehingga mereka lebih mudah dikumpulkan untuk pengantisipasian jika terjadi sesuatu supaya mudah koodinasi dan evakuasinya.

Yang jelas mereka suka sekali membuat simpul-simpul tempat berkumpul yang semakin sering ketemu akan semakin akrab, dan sifat simpulannya semakin erat tidak mudah terurai, Beda dengan orang Indonesia, lebih terbuka untuk menerima orang yang baru dikenal, dan terkesan lebih kwantitif, jumlah teman yang ditekankan, selain kualitas pertemanannya.

Handa sensei sebagai kepala sekolah Jidokan ini adalah salah satu pakar Origami, oleh karenanya kegiatan yang bersangkutan dengan Origami menjadi ciri khasnya dari Jidokan ini. Beliau sejak dulu konsen pada dunia anak, karena beliau sebagai pendidik, sadar betul akan kekuatan negara Jepang itu berada dalam sebuah kelompok. Untuk itu, bagaimana suatu kekuatan kelompok ini bisa dimaksimalkan dan dibina sejak dini menjadi bagian dari pengamatannya sejak dulu.

Itulah salah alasan mengapa Handa sensei lebih mendalami Origami yang fungsinya, tidak hanya sebagai alat untuk menjalin pertemanan, tetapi juga sebagai alat pemecah kebisuan dalam kelompok sekaligus menjadi penguat kelompok itu. Kompleks banget ya, ternyata peran Origami ini dalam keseharian orang Jepang, Dan memang Origami ini lekat dengan manusia Jepang, sepertinya ada pembelajaran seumur hidup dari kegiatan origami ini, karena semua oarang dari berbagai usia melakukannya, tidak terbatas pada anak-anak TK saja.

Seperti halnya yang dikemukakan Handa sensei, beliau lebih konsen pada origami yang simple, satu karya terdiri dari 2 atau 3 kertas dengan warna beda. Bentuk yang simple dan yang bisa dibuat dan ditiru orang lain, lebih dipentingkan. Dengan kertas bisa saling berkomunikasi satu dengan yang lain. Sesuatu yang mencontoh karya orang lain adalah perbuatan cela, ini berlaku pada hukum dunia mana pun. Tetapi tidak berlaku pada Origami. Dalam kegiatan Origami ini ada orang yang mengajari satu lipatan, dan ada orang yang menirukannya, sehingga terjadi segala jenis komunikasi, bahkan komunikasi tanpa verbal pun akan bisa terlaksana.

Yang dipentingkan bukankah suatu karya yang spektakuler, misalnya, satu lembar kertas bisa menjadi satu dinosaurus yang menyerupai aslinya. Akan tetapi lebih pada suatu karya yang bisa membuat sistem bagaimana si anak yang sudah diajari ini bisa menularkan mengajari pada orang lain. Dengan cara memaksimalkan kerja ujung jari-jari tangan, kemampuan membaca dimensi ruang juga meningkat.

Aaahh jadi teringat masa-masa kuliah dulu, dua puluh delapan tahun silam. Karena suka banget membuat lipatan-lipatan origami, jadi punya banyak teman. Yang awalnya hanya iseng melipat-lipat, jadi mengajari orang lain, dan orang itu akan mengajari juga ke orang lain lagi. Menjadi lebih banyak berkomunikasi dengan banyak orang. Atau mungkin yang aku lipat-lipat itu boneka kecil berkimono, menjadi salah satu daya tariknya.

Seneng banget, mengenang semua memori itu. Dari selembar kertas yang mungkin bagi orang lain tak berarti, tapi, bagiku menjadi memiliki suatu kenangan. Dan yang terpenting aku belajar, bahwa dalam dunia pendidikan, terciptanya suatu maha karya yang hebat sekali pun, bukan merupakan target tujuan dari belajar. Tetapi, dengan sebuah karya sederhana, jika karya yang tercipta itu bisa menstimulus orang lain untuk belajar dan mengajari orang lain juga, bisa dikatakan itulah sejatinya sebuah pembelajaran.

ilustrasi: Kegiatan Origami Handa sensei dan anak-anak Jidokan yang dibinanya

(sumber:http://www.hamada-sports.com/hyougo_jidoukan/club/)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s