Misi Kemanusiaan Loper Koran Jepang

Tak, tuk…tak, tuk…..bunyi langkah kaki orang naik tangga itu terdengar lagi. Karena penasaran, aku intip dari jendela dapur tempat aku beberes makan sahur pagi ini. Bunyi itu selalu muncul sekitar jam 4, karena posisi kamar apartemen persis di dekat tangga, tergelitik aku dibuatnya. Pengen ngerti aja, bagaimana sosok manusia pembawa Chunichi Shinbun, harian yang merajai wilayah Jepang Tengah itu.

Semua orang tahu jika dilihat dari angka keseluruhan di negara ini, oplah penjualan koran berlipat dari jumlah penduduk. Mungkin karena pelanggan banyak, harga koran terjangkau semua kalangan. Sepertinya koran apa pun laku keras. Dan sistem daur ulangnya juga baik. Satu yang terpenting, meski sudah era digital, membaca sambil memegang lembaran koran dan bunyi dari lembaran yang dibolak-balik ini masih mempunyai sensasi kepuasan tersendiri bagi pembacanya.

Berlengan pendek, bertopi ala safari, bercelana longgar, dan setelah aku amati, ternyata… ibu-ibu!, lebih tua dari usia Eyang Ti-nya anakku, sekitar 70 tahunan. Jadi inget seorang teman, Mochihara san, usia 65 tahun. Ternyata dia tidak sendiri, banyak kakek nenek yang memilih kerja paruh waktu sebagai loper koran. Mochihara san menekuni loper koran sejak 6 tahun lalu, setelah sembuh dari sakit.

Mochihara san memilih loper koran tuk menjaga kesehatannya. Dengan bangun pagi, keluar rumah jam 2, dan kembali ke rumah lagi 6, masih nututi menyiapkan makan pagi suaminya. Mereka berdua hidup berkecukupan, tidak bergabung dengan 2 anaknya yang sudah jadi orang. Dia mengakui, dengan rutinitas seperti itu, merasa lebih bisa menikmati hidup. Ga kebayang saat musim dingin, keluar rumah masih malam, kembali ke rumah jam 6 pagi, matahari juga belum muncul, dan sengatan dingin yang menusuk ini terlawan dengan kayuhan sepeda dan naik turun tangga.

Sebetulnya ada alasan yang lebih mendasar kenapa Mochihara bisa menikmati kerja loper koran itu. Piramida terbalik pada pertumbuhan penduduk Jepang ini berkaitan erat dengan cerita berikut ini. Akhir-akhir ini banyak manula yang hidup seorang diri, meninggal berhari-hari kemudian baru ditemukan. Oleh sebab itu patroli dari pemerintah daerah pun lebih ditingkatkan. Dan loper koran ini menjadi ujung tombaknya. Kenapa begitu?

Selain mengantar koran, ada satu tugas penting loper koran yang tak ternilai dari segi material karena memang sifatnya juga sosial. Loper koran disarankan untuk mengamati tumpukan koran yang tidak berubah dalam beberapa hari. Pengamatan itu juga dilakukan di kanan kiri rumah pelanggannya. Jika menemukan tumpukan koran yang belum terambil, kemudian mengamati lampu rumah atau tanda-tanda kehidupan lainnya, segera wajib lapor dan agen koran akan memberitahu petugas patroli.

Sifat koran yang periodik ini, juga menjadi part time yang favorit bagi mahasiswa asing. Seorang teman Indonesia memilih part time ini, karena waktunya yang tidak berubah dari hari kehari dibandingkan dengan kerja yang lain. Dan bagi orang Indonesia yang terbiasa bangun pagi ini sangat menyenangkan, istirahat sebentar, bisa lanjut berangkat kuliah. Tapi yang jelas kemampuan baca tulisan kanji sangat diperlukan, karena alamat dan catatan-catatan permintaan khusus dari para pelangan semuanya tertulis huruf kanji. Karena negara ini sangat memperhatikan suara pelanggannya, tiap harinya ada catatan-catatan yang harus diperhatikan.

Peran yang lain, juga bisa menjadi semacam mata-mata legal untuk mengabarkan peristiwa sepanjang rutenya. setiap pulang ke posko, selalu ada pertanyaan, “Apakah aman terkendali?” Atau “Adakah orang mabuk, di klub malam depan halte bis?” Atau “Apakah ada sesuatu yang berubah dari biasanya?” Dan semua laporan dicatat rapi oleh pemilik agen. Begitu besarnya peran loper koran ini dan koran sendiri juga menjadi salah satu alat  penyambung dalam interaksi sosial.

Di apartemen lama, karena tidak berupa gedung, hanya semacam rumah kopel, satu lantai, walau hanya sebatas say hello, satu sama lain saling mengenal wajahnya. Waktu itu bertetanggaan dengan seorang kakek umur 80 tahunan. Dia hidup sendiri, seminggu dua kali, 2 anak perempuannya, selalu bergantian mengunjunginya. Masih sehat sekali, setiap 2 hari sekali belanja naik sepeda. Setiap jam 07.30 dia ambil koran dan pada jam yang sama aku juga membuka jendela (bentuknya besar, sehingga untuk keluar masuk, lebih sering menggunakan jendela itu daripada pintu), setiap kali anak akan berangkat sekolah. Saat itu selalu ada tegur sapa. おはよう~いい天気ですね Ohayou~ ii tenki desu ne, “Met pagi, hari ini cerah ya…” katanya.

Suatu saat, bertepatan dengan libur sekolah anak, membuka jendelanya tidak seperti biasanya, dan kakek itu beberapa hari tidak terlihat batang hidungnya. Penasaran,…tapi mau nanya kemana, gak ngerti. Waktu terus berlalu, setelah 2 minggu, ada beberapa mobil, salah satunya dari perusahaan pemakaman dan seorang biksu membawa guci perabuan. Lemas rasanya setelah mendengar cerita dari seorang anaknya, si kakek itu ambruk 2 minggu lalu. Nah….cuman bisa melongong bengong… 

Berita itu terdengar karena adanya laporan loper koran bahwa koran hari sebelumnya masih pada posisi tidak berubah. Tapi sayang, nyawanya ga nututi. Kalau seumpama, waktu itu aku sudah mendengar info, tentang tugas sampingan loper koran itu, pasti aku juga melakukan hal yang sama tuk mencari tahu kondisi kakek itu.  Secara fisik kami hanya berjarak beberapa meter saja, tapi serasa bermil-mil. Shock rasanya, bertahun hidup di sini, aku merasakan kupingku “semakin tuli”. 

Di bagian dunia lain, mungkin akan muncul juga cerita lain, yang berkaitan dengan misi kemanusiaan yang diusung oleh seorang loper koran. Di Indonesia, mungkin lain lagi ya ceritanya,..karena masalah hidup sendiri seorang manula, jarang ditemukan. Apa pun dimana pun ceritanya, yang jelas pekerjaan ini terbukti mengusung nilai kemanusiaan yang tinggi. Dan tugas kemanusiaan itu yang dirasa penting bagi seorang Mochihara san…..

*aahhh lama sekali aku merasa tidak menghubungi Mochihara san,…semoga dia masih bersemangat menjadi penghubung para penulis dan pembaca setianya.

Akaike 2013 07 29  13:30,….nggak panas samasekali, berasa kayak bukan natsu,…hujan nrecih mulai semalaman,…ja, ittekimasu, pamit mau ngajar wong2 jepung di Sango

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s