Dampak Negatif dari Kebiasaan Baca-Tulis Orang Jepang

13749917061468323561

Dalam suatu posesi pernikahan orang Jepang tidak terbatas ala Shinto atau ala Budha, ataupun ala Barat, hampir dipastikan ada acara pembacaan surat. Acara ini tidak lepas karena kebiasaan mereka yang lebih menitikberatkan pada kemampuan Baca-Tulis.  Kemampuan ini ditumbuhkan dari kebiasaan Dengar ke kebiasaan Baca orang Jepang sejak dini.

Diawali dengan pembacaan buku cerita bergambar oleh guru dan orang tuanya, berlanjut ke tahap SD. Sejak SD, kebiasaan itu sudah berkurang, karena si anak sudah bisa membaca sendiri. Kebiasaan baca itu berlanjut terus sampai tahap SMA. Ada waktu wajib baca selama sekitar 30 menit sebelum pelajaran di mulai pada setiap harinya. Bagaimana akhirnya kebiasaan ini terbawa atau tidak sampai ke masa dewasa si anak, itu bukan hal yang ditekankan. Yang terpenting, ada suatu kesadaran akan keterbutuhan mencari informasi lewat tulisan.

Kebiasaan Baca tersebut ini juga berdampak positif pada Kemampuan Tulis. Mereka rajin sekali untuk membuat record, mem-file, menulis report, untuk sekedar meninggalkan jejak pada penerusnya, pada orang yang akan mengantikan posisinya dan meneruskan tanggung jawabnya. Hampir semua orang Jepang menulis kegiatan dan rencana harian, mingguan, bulanan secara rutin, bukan anget-anget tahi ayam. Mengapa mereka bisa terus melakukannya sejak kecil sampai masa bekerjanya berakhir, yaa karena lingkungan, semua orang melakukannya. Jadi lupa atau mengganti waktu janjian dengan tiba-tiba, tidak bisa dijadikan suatu alasan.

Tetapi ada satu hal yang membuat mereka terkesan “kurang” akibat kebiasaan yang baik ini. Mereka menjadi tidak pandai mengungkapkan perasaan secara spontanitas. Karena itu tidak jarang ungkapan spotanitas ini dituangkan dalam sebuah surat. Pembacaan surat ini sudah terbiasa mereka lakukan sejak SD. Misalnya, jika ada open house yang diselengarakan oleh pihak sekolah, para orang tua ini akan hadir dan masuk dikelas solah-olah ikut dalam suatu pelajaran kelas si anak. Pada saat itu hampir bisa dipastikan ada acara pembacaan surat berupa hasil mengarang pelajaran bahasa.

Para orang tua yang hadir akan mendapat surat yang telah dibacakan si anak dan kemudian orang tuanya akan menyimpannya sebagi “jimat”. Tidak sedikit para orang tua itu menitikan air matanya waktu mendengarkan pembacaan surat oleh anaknya. Jadi banyak juga pemandangan seorang bapak-bapak yang gagah menangis di kelas anaknya. Beberapa orang mengaku, surat itu menjadi “jimat” pemberi semangat terbesar, saat mengalami masalah hidup.

Demikian juga pada acara pernikahan. Biasanya pengantin perempuan akan membaca surat untuk orang tuanya. dan si ayah ini langsung berderai-derai air matanya. Perasaan mereka tertuang pada surat yang dibacakan pada saat prosesi pernikahan. Surat yang berisi rasa terima kasih pada itu dibaca dihadapan orang tuanya. Jadi pada saat prosesi sungkeman (seperti dalam adat pernikahan Jawa), digantikan dengan pembacaan surat dari si anak ke orang tuanya. 今まで育ててくれて、ありがとう!!  Ima made sodatete kurete, arigato!! …“Terima kasih Ayah, Ibu,…kalian berdua sudah merawatku, mendidikku, dan telah menjadikan aku orang”. Begitu kira-kira isi suratnya. Mmmhhm,..aneh ya,…surat untuk orang yang bersangkutan dibacakan oleh si penulisnya dihadapan orang yang dituju dalam surat itu. Dan setelah itu diserahkan pada orang tua pengantin disertai pemberian rangkaian bunga sebagai tanda rasa terima kasih dan sekaligus pamitan karena dirinya sudah harus masuk ke keluarga suaminya.

Karena kita sudah memiliki Kemampuan Bicara yang baik, alangkah baiknya jika kita bisa menggabungkan antara kempuan Baca-Tulis dan Kemampuan Bicara, untuk mengungkan perasaan yang berdasar pada sebuah referensi yang kita baca, tidak hanya asal bicara tanpa rujukan. Dengan demikian bisa dipastikan kita akan bisa menuju manusia yang lebih layak untuk dihargai.

Ilustrasi foto dari sebuah EO Bridal (reir-bridal.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s