Toa Masjid, Bikin Kesel Sekaligus Bangga WNA Asal Jepang

Hari ini aku mendatangi suatu acara rutin 3 bulanan yang diselenggarakan oleh perkumpulan pemerhati Indonesia di kota Togo.  Kota Togo dari Nagoya 30 menit ke arah tenggara. インドネシアクラブ Indonesia Club, nama perkumpulannya. Awal terbentuknya perkumpulan itu, waktu tahun 2005, begitu bubaran acara AICHI EXPO, barang yang dipamerkan di Anjungan Indonesia, “dititipkan” di kota Togo. Sejak itu berbagai acara diadakan secara periodik untuk lebih memperat hubungan persabahatan Indonesia-Jepang.

Acara hari itu, membahas sebuah artikel koran Jepang yang memuat berita tentang Indonesia. Ada satu artikel ringan, tentang seorang WNA asal Jepang yang menjadi warga Jakarta. Anggap aja nama Hiroshi, laki-laki menjelang 30 tahun. Baru 10 bulan tinggal di Jakarta Selatan dan Ramadhan tahun ini pengalaman pertama kali baginya hidup di Jakarta. Dalam artikel itu dia merasa kesel sekaligus bangga pada Toa speaker masjid dekat dimana dia tinggal.

Kenapa begitu? Suatu hari, karena lembur kerja, pulang larut malam. Tidak seperti biasanya, hanya Adzan subuh saja, Toa itu selalu membangunkan tidurnya. Karena sudah terbiasa, begitu melek, langsung merem lagi. Tapi begitu masuk bulan puasa, sejam sebelum waktu subuh, Toa itu sudah berbunyi, untuk woro-woro Imsak, sampai lanjut ceramah subuh. Dan akibatnya, hari itu tidak bisa merasa fit bekerja, karena kurang tidur.

Karena penasaran, dia mencari tahu tentang alat speaker masjid itu. Baru ngeh, ternyata merknya Toa, langsung dia browsing, dan dapatkan informasi, produk buatan Jepang ini ternyata sangat mendapat tempat di hati pengurus masjid, dan digunakan hampir di masjid-masjid besar di Indonesia. Kualitas speaker Toa itu bagus, tidak diperlukan biaya perawatan yang tinggi, walaupun lebih mahal. Karenanya Toa itu sudah menjadi bagian dari keseharian orang Indonesia yang notabene mayoritas Islam

Sebagai orang Jepang yang hidup di negara orang, dalam hal ini, dia merasakan separo hatinya yang kesel dan separo hatinya yang bangga. Ini hanyalah contoh kasus dari satu gelintir orang asing yang hidup di Indonesia. Contoh kasus ini mungkin bisa kita jadikan instropeksi diri, untuk semakin punya niatan menjadi tuan rumah yang baik. Harapannya, dengan citra yang baik, akan mengundang sesuatu yang baik pula.

Rasa bangga Hiroshi san itu, yang patut kita jadikan bahan diskusi. Bukan permasalahan pada Toa sebagai merk dagang. Dalam arti, bukan salah Toa yang mengakibatkan orang lain tidak bisa tidur. Tetapi lebih pada perilaku orang-orang yang menggunakannya. Pengetahuan dan kesadaran akan makna bertoleransi ini jika lebih ditingkatkan, akan menjadikan orang lain tidak ragu-ragu untuk lebih menghormat dan menghargai, dan bisa dipastikan bisa meningkatkan citra yang lebih baik. Kalau kita bisa memanfaatkan kasus Toa ini, tidak menutup kemungkinan Toa ini menjadi pintu masuk orang-orang seperti Hiroshi san untuk lebih tertarik lagi mempelajari keyakinan yang secara tidak langsung terkait dengan Toa masjid ini.

2013 07 23,.10:45 .akaike,…35 der C, puasa hari ke 14,…terasa panas sekali,…alhamdullillah, masih bisa terlampaui, malamnya ngajar Chiyoda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s