Mirip,…ternyata,…beda jauh.

Jadi lebih nyadar kenapa membangun kepercayaan dengan orang Jepang memerlukan waktu yang tidak pendek, setelah aku mencoba mempreteli dan membandingkan antara peribahasa Bahasa Jepang dan Bahasa Indonesia.

Peribahasa Malu bertanya sesat di jalan”.ini ternyata ada lhoo dalam Bahasa Jepang. 「聞くは一時の恥、聞かぬは一生の恥」(cara baca dalam huruf Kana: きくはいっときのはじ、きかぬはいっしょうのはじ)(cara baca dalam huruf Latin: Kiku ha ittoki no haji, kikanu ha issho no haji), arti: Kalau kita mau bertanya, perasaan malu-nya pada saat itu saja Tetapi, kalau malu bertanya akan menyesal seumur hidup. Mirip pribahasa milik kita ya “Malu bertanya sesat dijalan”. Persamaan dan perbedaannya ada dimana ya… kok aku tergelitik ingin tahu, apalagi setelah kemarin konsultasi dengan dosen pembimbing bersama seorang teman dari lain universitas yang ngikut gabung.

Dalam peribahasa Indonesia, jika unsur katanya dipreteli satu per satu, muncul kosakata-kosakata sebagai berikut: ‘TANYA, ‘MALU’, ‘SESAT’ dan DI JALAN. Namun dalam peribahasa Jepang, muncul kosa kata  ‘TANYA, ‘MALU’, ‘SESAAT, dan ‘SEUMUR HIDUP’. Sepertinya pada kosakata ‘MALU’ ini berbeda value dan rasa bahasa-nya antara Bahasa Jepang dan bahasa Indonesia. Di antara keduanya terkesan berbeda pada persepsi kosa kata “waktu”,

Dalam benak orang Indonesia, jika tidak bertanya, akan mengalami rasa malu pada saat satu babak perjalanan di tengah masa hidup. Tapi, dalam benak orang Jepang, rasa malu itu akan berlaku sepanjang perjalanan masa hidupnya. Jadi aku semakin memahami, mengapa mereka terkesan susah waktu akan meleburkan diri pada sesuatu yang berbeda dengan hal sebelumnya.

Oleh sebab itu, pada awal perkenalan dengan seseorang, tidak akan terjadi pertanyaan “Berapa umur anda?”, “Apakah sudah berkeluarga?”, “Suami/ istrinya kerja dimana?” “anaknya berapa?”. Yaa,…karena Orang Jepang memerlukan waktu yang lebih lama dari pada orang Indonesia untuk  ‘memecah sekat diri’  打ち解ける uchi tokeru, agar bisa melebur dan menyesuaikan dengan kondisi lawan interaksi pada waktu komunikasi berlangsung.

Bagaimana dengan orang Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan yang aku contohkan itu diperlukan oleh orang Indonesia untuk lebih ‘menjaga jarak’ pertemanan agar tidak timbul konflik dan tidak timbul suatu fitnah pada saat sudah mengawali sebuah interaksi. Dengan bertanya, kita jadi tahu info lawan bicara kita, jika sudah berkeluarga akan lebih berhati-hati dan menjaga jarak. Hal ini beda banget dengan persepsi orang Jepang. Mereka akan merasa privasinya terganggu dan merasa malu, oleh sebab itu `menjaga jarak` diperlukan sebelum interaksi dimulai. Nah lhooo,…beda banget khan, padahal kosa kata yang dipakai sama lhoo, 距離をおく, cara baca: kyori wo oku, arti: menjaga jarak. Sebaliknya mereka akan mengucapkan dengan keras dan jelas nama dan posisi dalam kerja, tidak lebih dari itu. Orang Jepang tidak mengkondisikan membuka diri, untuk menerima pertanyaan dari lawan pada waktu perkenalan.

Dari membandingkan dua peribahasa itu, akhirnya rasa penasaranku sedikit terkuak. Pernah suatu ketika membuat suatu makalah kuliah, mengharuskan mendeskripsikan kata FITNAH. Ternyata tidak ada padanan kata yang tepat, sekalipun beberapa kamus sudah dibuka-buka. Padahal orang berfitnah atau orang terkena fitnah itu ada kejadiannya ada dalam keseharian mereka, wajar…karena mereka juga manusia. Tetapi karena sudut pandang beda,  dalam hal memaknai kata FITNAH ini juga berbeda. gak usah jauh-jauh sampai ke Jepang, lha wong yang sama bahasa dan dibesarkan dalam kondisi yang sama pun bisa berbeda. Apalagi jika sudah terkontaminasi dengan tujuan-tujuan tertentu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s