Slebor Hilang, Polisi Datang

Gambar

Sebuah identitas berupa stiker merah kecil yang tertempel di slebor pada sebuah sepeda di negara ini, sangat penting artinya. Dari sebuah identitas tersebut, aku pahami negara ini. Seberapa pentingkah arti sebuah stiker yang tertempel pada slebor sebuah sepeda?

Ini adalah cerita sepeda si anak waktu dia di sekolah SMA Negeri Perfectural Aichi, di kota Toyota, dari Nagoya, 15 km kearah Timur. Ada larangan keras, bersekolah naik sepeda motor, jadi sejauh apa pun ya, ditempuh naik sepeda, apalagi yang tempat tinggalnya jauh dari stasiun kereta dan halte bis.

Kembali menyoal stiker kecil warna merah itu ya. Ternyata, selain untuk mencegah pencurian, fungsi yang tak kalah pentingnya adalah untuk lebih cepat bisa kabari si pengendara pada keluarganya jika terjadi kecelakaan. Karena info yang tertulis di stiker itu langsung tersambung antara sekolah, polisi dan orang tua.

Di Jepang, sepeda merupakan kecelakaan terbesar, terutama pada musim dingin. Saat bubarab sekolah, hari sudah gelap, karena siang harinya lebih pendek daripada malam hari. Oleh sebab itu peraturan pemakaian sepeda ini sangat ketat. Sekolah juga mengadakan inspeksi khusus tuk kelayakan sepeda pada setiap awal ajaran tahun baru. Dan asesoris-asesoris untuk pencegah kecelakaan banyak di jual murah, termasuk sticker scotlight kuning memanjang yang tertempel di sebelah stiker merah kecil.

Jarak antara sekolah anak dengan apartemen, pulang pergi sekitar 18 km. Dengan medan jalan yang naik turun dan si pengendara, anak yang lagi semego-semegonya (usia doyan makan, 15~17 tahun), si slebor itu patahlah begitu aja, patah pada bagian yang ada stiker identitasnya tersebut.

Karena kesibukan kami masing-masing, tertunda-tunda membenahinya. Niatnya mau di sambung aja, eehh…gak bisa. Mau beli,..ya ampun harganya mahal banget, hampir separuhnya dari harga sepeda yang biasa. Kebetulan sepeda yang dipakai adalah lungsuran seorang teman Jepang, milik anak pertamanya yang sekarang sudah kuliah di Osaka. Sepeda itu hadiah masuk SMP pemberian dari kakek neneknya, dan kebetulan orang kaya, jadi sepeda yang bagus dan kuat banget.

Masuk minggu kedua, setelah ditimbang-timbang, termasuk juga faktor karena si anak sudah kelas 3, sebentar lagi sepeda itu sudah pensiun, paling-palng hanya dipake belanja dan main sepeda kala santai. Kami putuskan tuk cari di toko sepeda bekas,…eehhh sama aja,…harus beli sepedanya sekalian, gak bisa beli slebornya aja. Disinilah aku rasakan tidak praktisnya hidup di Negaranya si Doraemon ini.

Pada saat perjalanan ke toko bekas ini sempat aku perhatikan sepeda-sepeda yang tergeletak begitu aja di sekitar parkiran halte bis. Yang mengagetkan ternyata semua sepeda itu tak bersadel!! Selama ini kami kurang perhatikan hal itu. Ternyata hal itu tuk mencegah tindakan pencurian, dan sepeda itu sudah siap dievakuasi ke suatu tempat oleh pemda. Kemana??  Bisa jadi di tempat pembuangan atau juga dibawa ke negara ke 3 atau bagaimana, aku kurang tahu. Kalau sampai dipenyet kayak mobil yang udah gak bertuan,.. ooo,….alangkah mubazirnya.

Sampai masuk minggu ke tiga, sekitar 16.30, kebetulan aku udah balik dari kampus. Ada telpon dari anak, “Bu, aku kepegang ama patroli polisi, karena ga ada slebornya.” Thuuuenngg,… rasanya kepala ini. “Ini polisi-nya mau ngomong ama ibu.” gak pernah kebayang, berurusan dengan polosi, di negara orang lagi. Melalui telfon, polisi menginterogasi secara detail.  Ditanya sepeda itu dari mana, nomer telpon si pemilik asli berapa, dlsb. Kalang kabut rasanya.

Khawatir penjelasanku kurang bisa diterima, maklum keterbatasan bahasa juga, aku sudah siap-siap tuk pergi ke koban (pos polisi) di mana si anak kepegang. Belum sampai keluar rumah, eeehhh,..ada telpon masuk, memberitahu bahwa sepeda itu bener adanya bukan hasil pencurian. Guubraakk,….Begitu cepatnya sebuah info dinegara ini, karena sistem yang sudah tertata. Akhirnya, oleh pak polisi, si anak hanya dinasehati tuk berhati-hati dan si orang tua dianjurkan tuk secepatnya beresi si slebor. Tak lupa minta maaf, si pak polisi itu mengakhiri telponnya.

Ketidak-adaan slebor ini, “mengundang” polisi, terkesan kerja polisi Jepang tidak seberat polisi di Indonesia ya. Dan aturan untuk tidak naik sepeda motor ini sudah ditaati pun masih juga dianggap melanggar peraturan. Jadi sebetulnya apa kerja polisi Jepang itu dan bagaimana orang Jepang bisa mentaati semua peraturan sampai sekecil-kecilnya itu? Semua berpulang pada sikon, dan peradaban yang dimiliki suatu bangsa. Kita sebagai orang luar, bisa mencobanya kalau dirasa itu sesuatu yang pas untuk kita, tidak hanya berdecak kagum. Bisa dimulai sejak sekarang, dari skup terkecil, karena semuanya itu bukan suatu yang instan.

Kalau seumpama aturan seperti ini diberlakukan di Indonesia, akankah angka kecelakaan karena sepeda motor seorang pengendara remaja, mungkin berangsur turun, atau mungkin menjadi ZERO?

* Catatan: Karena adanya perbedaan kwantitas dan kwalitas gesekan diantara kita yang sama-sama tinggal bertetanggaan dengan Doraemon, mungkin akan menjadi hal yang beda dengan yang dirasakan teman lain. Penggalan pengalaman ini upaya untuk membedah alam pikir manusia Jepang.

2013 07 20, puasa masuk hari ke 11, kayaknya hari ini ga sekelenger kemarin🙂 suhunya masih dibawa 34 der C

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s