Kontra dengan Artikel: “Belajar Senyum dari Negeri Sakura”

Seorang teman Jepang, menunjukan artikel berbahasa Indonesia dari sebuah Koran. Beliau pensiunan perusahaan Toyota yang sedang menyelesaikan kuliah magister. Selama berkarier sering bertugas ke Indonesia. Tidak pernah tinggal lama, tapi kemampuan pasif Bahasa Indonesianya tidak diragukan lagi. Beliau juga sangat perhatian dengan Indonesia, aktif juga diperkumpulan volunteer pemerhati mahasiswa Indonesia. Hari itu diskusi bersama dengan beliau diawali dengan judul artikel itu. Karena penelitiannya ada hubungannya dengan sejarah pekembangan pendidikan Indonesia, beliau sangat tertarik budaya dan pemikiran orang Indonesia.

Artikel yang berjudul “Belajar Senyum dari Negeri Sakura” itu berisi tentang pengalaman beberapa polisi Indonesia yang berkunjung ke Jepang dalam rangka studi banding. Karena hanya berkunjung, kesan yang aku tangkap, artikel itu hanya berupa ulasan dari permukaannya saja.

“Saya tidak sepenuhnya setuju dengan artikel ini” dengan spontan aku menyatakan kejujuranku, begitu aku baca judul itu

“Kenapa begitu?” tanyanya.

“Karena saya merasa, hampir tidak pernah menemukan ketulusan senyum itu, kecuali dalam kondisi saat meraka bekerja”. Senyum seperti itu, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang paham akan prinsip ‘arti melayani’ dan ‘arti bekerja terutama dalam bidang jasa’. Jadi, senyum itu adalah bagian dari kerja mereka” Komentarku panjang lebar .

“Saya tidak pernah menemukan senyum itu setelah keluar dari arena dan situasi kerja itu, padahal pelaku senyum itu orang yang sama sekali pun” Lanjutku.

Itulah gambaran jalannya diskusi pada hari itu. Selama bertahun hidup bergesekan secara langsung dengan mereka, aku menjadi lebih paham dan bisa membedakan sebuah senyuman yang didasari dengan keikhlasan atau tidak. Kenapa orang Jepang seperti itu, karena mereka termasuk manusia yang sangat patuh dan taat peraturan. Di dalam aturan kerja apapun, ada kewajiban harus melayani pelanggan dengan baik, termasuk juga kerja pada pelayanan masyarakat. Karena ‘Melayani dengan baik ’ berarti, harus dengan ramah tamah dan harus disertai senyum.

Waktu kami masih tinggal di kota Miyoshi (30 menit dari Nagoya), di dekat apartemen ada show room mobil. Pada saat pelanggan akan pulang, mereka akan mengantarkan sampai keluar toko. Jika pelanggannya membawa mobil, akan menyetopkan mobil lain untuk minta kesempatan. Dan membungkukan badan sampai si pelanggan hilang di tikungan atau tertelan keramaian. Ini berlaku bagi pegawai perempuan juga. Bayangkan dengan pakaian rapi ber-blazer dan ber-jas ala kantoran, melakukan yang biasa dilakukan oleh petugas parkir di Indonesia. Dengan begitu, kesan yang tertinggal dibenak pelanggan itu akan mancep dan tidak akan pindah ke lain hati (baca: ke lain show room) kalau memang ada mobil yang diminati.

Seorang polisi pun juga demikian, yang dalam bayangan kita, polisi itu bermuka seram dan berhobi nyemprit. Ternyata tidak, malah terkesan tidak perlu ditakuti sama sekali. Karena mereka paham akan posisi seorang polisi sebagai pengayom dan pelayan masyarakat. Rata-rata dari mereka sangat baik, ramah dan selalu senyum. Karena itu, saat orang tertilang, si pelanggar akan dengan penuh kerelaan melepas SIMnya. Dengan cara mengantarnya sendiri ke kantor polisi pada waktu yang tidak sama dengan hari pelanggaran terjadi. Saat si pelanggar mengantar SIM, begitu sampai di kantor polisi, akan disambut keramahan dan terkesan telaten banget ngadepi si pelanggar. Juga masih dengan senyumnya.

Sepertinya ada rangkaian yang erat antara, sebuah keramah tamahan disertai senyuman, dan sebuah peraturan. Senyum dan keramah tamahan mereka itu lahir, karena meraka memahami sebuah prinsip kerja itu. Dan yang aku rasakan, senyuman itu tidak sama dengan seseorang yang tersenyum atas dasar ketulusannya. Jadi, jika mereka sudah lepas dari keterikatan jam kerja, kita akan jarang mendapatkan senyuman manis itu.

Kembali pada judul artikel itu. Tentu saja judul artikel itu bisa menjadi sebuah pembelajaran yang baik bagi pembaca, tetapi jangan lupa memberikan catatan bahwa, kita sebenanya, lebih memiliki senyuman yang didasari dengan keikhlasan dan ketulusan daripada mereka, jika kita mau menyadari bahwa bekerja itu sama dengan melayani yang harus selalu disertai dengan senyuman

Aku hanya membayangkan, betapa lebih harumnya dan mewanginya senyum orang-orang Indonesiaku yang terkenal akan keramah-tamahannya, jika mereka mau belajar memahami prinsip melayani dalam suatu pekerjaan. Karena, pada dasarnya orang Indonesia adalah bangsa yang memiliki ketulusan dalam senyum itu tanpa terikat oleh situasi apa pun.


* Catatanku: Karena adanya perbedaan kwantitas dan kwalitas gesekan diantara kita yang sama-sama tinggal bertetanggaan dengan Doraemon, mungkin akan menjadi hal yang beda dengan yang dirasakan teman lain. Penggalan pengalamanku ini upaya untuk membedah mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s