Gallery

Berlipatkah Pahala Berpuasa di Negara Tak BerTuhan?

Ketika seseorang bangga akan statusnya yang tak miliki agama tertentu. Ketika agama dan kehidupan sehari-hari tak boleh dicampur-adukan. Ketika Negara tidak ikut mengurusi agama warganya. Ketika seseorang bebas menganut lebih dari satu jenis kepercayaan. Ketika,….ketika,…ketika,…….(masih banyak ‘ketika’ yang lain).

Beberapa kalimat di atas hanyalah sebuah ilustrasi di mana aku sekarang ini tinggal jauh dari tanah air untuk sementara waktu. Saat pulang perjalanan dari kampus kemarin, masih jam 5 sore, masih siang benderang, masih 2 jam kedepan untuk berbuka. Payung UV ku masih aku pakai, walau ada semilir angin, rasa gerah masih juga terasakan. Dan aku berjalan di antara anak-anak muda penerus generasi negara Jepang. Sempat terekam pemandangan, paha-paha mulus berseliweran, blus-blus baju yang memperlihatkan indahnya bahu, tengkuk dan jenjangnya leher. Pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini tiba-tiba menyeruak dalam benakku.

Di dalam area kampus tidak ada selembar pun spanduk ajakan untuk menghormati orang yang sedang beribadah puasa. Boro-boro menghormat, mungkin hanya sebatas kosa kata Ramadan ini saja yang mereka tahu, tanpa mengetahui apa itu, dan tujuannya. Tapi aku tak yakin juga, kalau pun mereka tahu, apakah mereka masih menahan untuk tidak makan-minum di tempat terbuka, karena menurut mereka puasa adalah hal yang menyalahi kodrat hidup manusia. Bahkan 2 hari yang lalu saat mengajar Bahasa Indonesia, ada pertanyaan, “Bu, kenapa masih juga menjalankan puasa, sekarang tidak sedang tinggal di Indonesia khan?” hehehe…Geli juga rasanya dijatuhi pertanyaan seperti itu. Cerita-cerita lain yang berkaitan dengan agama tiba-tiba muncul dikepalaku

“Mata Pelajaran Agama” jawabku pada sebuah pertanyaan tentang Mata Pelajaran apa yang tidak ada di SD Jepang, ketika presentasi tentang kehidupan anak-anak SD di Indonesia. Waah…dari situ diskusi menjadi seru. Bagaimana pelaksanaanya? Apakah semua orang Indonesia harus memilih agama tertentu? Apakah boleh lebih dari satu? Apakah boleh pergi mengunjungi rumah ibadah agama orang lain? Dan sebagainya. Akhir-akhir ini aku baru tahu, jika tidak dalam forum tertutup seperti itu, mereka akan menyimpan baik-baik rasa penasarannya, kecuali pada orang yang dianggap “dekat”. Karena bertanya tentang keyakinan itu sama tabunya dengan bertanya umur dan berat badan pada orang perempuan dewasa.

Dalam keseharian manusia Jepang, karena Negara tidak miliki slogan yang berbau religi, jadi tidak akan tertemukan sebuah isian jawaban ‘agama’. Tidak juga dalam KTP. Dan semuanya bebas untuk tidak memeluk ataupun memeluk 3 agama sekaligus. Misalnya, waktu lahir diberkahi di Kuil Shinto, waktu nikah dihadapan altar Gereja, dan waktu meninggal, upacara dipimpin oleh petinggi kuil Budha, hal  seperti itu sangat wajar sekali dalam kehidupan seorang manusia Jepang. Oleh karena itu, waktu Natal pun mereka rame-rame merayakan dengan tukar menukar kado, makan cake Natal, dan tidak pergi ke gereja melainkan bersenang-senang dengan teman. Dan semuanya itu tidak ada yang berkomentar, semuanya menganggap hal yang lumrah.

Kembali pada pertanyaan judul. Apa karena harus menahan melihat paha mulus (khususnya tuk para lelaki), apa karena berjuang melawan panas dan jangka waktu berpuasa yang lebih panjang, apa karena tidak adanya toleransi sedikit pun pada kegiatan sehari-hari termasuk bekerja dan sekolah. Akankah semua alasan itu bisa melipat gandakan pahala beribadah? Kembali pada niatan dan keiklasan pelaku yang menjadi misteri milik Yang Kuasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s